Jamur Konyel Belum Pulih, PMI Ajak Donatur Terus Beri Dukungan untuk Menjaga Harapan
0 menit baca
lintas86.com, Aceh Tengah - Kabut tipis masih menyelimuti perbukitan Kecamatan Bintang ketika tim Palang Merah Indonesia (PMI) tiba di Desa Jamur Konyel. Jalan tanah yang tergerus longsor, tanjakan terjal, serta bekas amblasan menjadi saksi bahwa bencana di desa ini belum benar-benar berlalu. Di balik keindahan alam dataran tinggi Aceh Tengah, Jamur Konyel masih menyimpan luka yang dalam—luka fisik, luka sosial, dan luka psikologis yang belum sepenuhnya sembuh.
Banjir dan tanah longsor yang melanda kawasan ini telah mengubah kehidupan warga dalam sekejap. Akses jalan utama rusak parah, beberapa titik masih rawan longsor susulan, aliran listrik terputus, dan aktivitas ekonomi lumpuh. Bagi ratusan warga, hari-hari pascabencana diisi dengan ketidakpastian dan kecemasan akan masa depan.
Di tengah kondisi itulah, Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi DKI Jakarta bersama PMI Kabupaten Aceh Tengah hadir menembus keterbatasan, membawa layanan kemanusiaan, harapan, serta uluran tangan para donatur dari berbagai penjuru, khususnya dari Jakarta.
Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Provinsi DKI Jakarta, Budhi Pranoto, menjelaskan bahwa kehadiran tim PMI di Jamur Konyel bukan sekadar misi distribusi bantuan, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang untuk mendampingi masyarakat hingga mereka benar-benar pulih.
“Perjalanan menuju Desa Jamur Konyel memakan waktu lebih dari tiga jam dari Markas PMI Aceh Tengah. Jalan terjal, longsoran tanah, dan kondisi medan yang belum sepenuhnya aman menjadi tantangan tersendiri. Namun semua itu tidak sebanding dengan kebutuhan dan harapan warga yang menunggu bantuan,” ujar Budhi.
Setibanya di lokasi, tim PMI langsung membuka berbagai layanan kemanusiaan. Layanan kesehatan diberikan kepada warga yang mengalami gangguan kesehatan pascabencana, mulai dari infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, hingga keluhan kelelahan akibat kondisi pengungsian. Selain itu, promosi kesehatan dilakukan untuk mencegah penyakit menular yang rawan muncul di situasi darurat.
Tak kalah penting, PMI juga memberikan dukungan psikososial, khususnya bagi anak-anak dan kelompok rentan. Trauma akibat bencana masih membekas. Rasa takut ketika hujan turun, suara gemuruh tanah, hingga kecemasan akan longsor susulan menjadi bayang-bayang yang menghantui keseharian warga.
“Bencana bukan hanya menghancurkan rumah dan harta benda. Ia juga meruntuhkan rasa aman. Karena itu, kehadiran kami tidak hanya untuk memberikan bantuan fisik, tetapi juga untuk memulihkan semangat, rasa aman, dan ketahanan mental masyarakat,” tambah Budhi.
Di Desa Jamur Konyel, lebih dari 100 Kepala Keluarga atau sekitar 400 jiwa terdampak langsung bencana. Longsor besar yang datang dari puncak bukit menghantam permukiman, merusak rumah, serta memaksa sebagian warga mengungsi. Hingga kini, tidak sedikit keluarga yang belum dapat kembali ke rumahnya karena kondisi bangunan yang rusak dan lingkungan yang belum aman.
PMI juga menyalurkan bantuan logistik berupa kebutuhan pokok yang bersumber dari kepedulian masyarakat dan para donatur. Bantuan tersebut menjadi penopang hidup warga di tengah keterbatasan akses dan terhentinya aktivitas ekonomi. Namun demikian, PMI menegaskan bahwa kebutuhan masyarakat Jamur Konyel tidak berhenti pada fase tanggap darurat semata.
Sesuai arahan Ketua Umum PMI Pusat, Jusuf Kalla, operasi kemanusiaan PMI untuk penanganan bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Sumatera direncanakan berlangsung hingga Desember 2026. Artinya, upaya pemulihan akan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, mulai dari layanan dasar, pemulihan psikososial, hingga pendampingan jangka panjang bagi masyarakat terdampak.
“Dukungan berkelanjutan dari para donatur menjadi sangat krusial. Bantuan hari ini bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi untuk memastikan proses pemulihan berjalan hingga masyarakat benar-benar bangkit,” tegas Budhi.
Perwakilan masyarakat Desa Jamur Konyel, Heppi Mulya, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kehadiran PMI yang turun langsung ke desa mereka. Menurutnya, perhatian dan pendampingan yang diberikan menjadi penguat moral bagi warga yang masih berjuang melewati masa sulit.
“Kehadiran PMI Provinsi DKI Jakarta dan PMI Aceh Tengah memberi kami kekuatan. Bantuan logistik, layanan kesehatan, dan dukungan trauma healing sangat berarti bagi kami. Kami merasa tidak sendirian dan tidak dilupakan,” ujar Heppi.
Saat ini, meskipun sebagian kebutuhan logistik mulai terpenuhi, tantangan besar masih dihadapi warga Jamur Konyel. Akses jalan belum sepenuhnya pulih, listrik belum kembali menyala, dan sebagian warga masih bertahan di tempat pengungsian. Harapan masyarakat tertuju pada pembangunan hunian sementara, pemulihan infrastruktur dasar, serta pendampingan berkelanjutan agar kehidupan dapat kembali berjalan normal.
Melalui kisah Jamur Konyel, PMI Provinsi DKI Jakarta mengajak seluruh masyarakat, donatur, dan mitra kemanusiaan untuk terus menyalurkan dukungan. Kepedulian yang diberikan bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan investasi kemanusiaan untuk memulihkan kehidupan, martabat, dan masa depan warga terdampak bencana.
Bersama PMI, mari kita pastikan bahwa harapan di Desa Jamur Konyel tidak padam—dan bahwa proses pemulihan terus berjalan hingga senyum dan kehidupan kembali hadir di setiap rumah warga Desa Jamur Konyel
Penulis: Benhil
Editor: Redaksi
.com,
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi