AmCross, PKSPL IPB dan PMI Gandeng UNIKA Ruteng Perkuat Solusi Berbasis Alam di Manggarai

LINTAS86.com, Manggarai – Tantangan perubahan iklim dan kerusakan ekosistem pesisir memerlukan penanganan serius yang berbasis pada data ilmiah dan kearifan lokal. Menanggapi urgensi tersebut, Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University melangkah bersama American Red Cross () dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai. Mereka resmi melakukan penjajakan kolaborasi strategis dengan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus (UNIKA) Ruteng.
Kunjungan resmi yang berlangsung pada Senin (29/6) di Kampus UNIKA Ruteng ini berfokus pada penguatan program Nature-based Solutions (NbS) atau Solusi berbasis Alam. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi degradasi lingkungan yang kian masif di wilayah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Komitmen Bersama dan Legalitas Kemitraan KSR Kampus

Kolaborasi antara lembaga kemanusiaan, peneliti, dan akademisi ini diharapkan mampu melahirkan dampak jangka panjang bagi ekosistem dan masyarakat sekitar. Selama ini, interaksi lapangan antara PMI dan mahasiswa UNIKA Ruteng sudah berjalan melalui pembinaan relawan. Namun, kedua belah pihak sepakat bahwa komitmen ini harus melangkah ke ranah yang lebih formal.
Ketua PMI Kabupaten Manggarai, Hironnymus A. Kaunang, BcKn, menekankan pentingnya penguatan basis legalitas formal untuk mengawal program-program lingkungan ke depan. Ia menjelaskan bahwa relasi kemanusiaan yang terjalin selama ini memerlukan payung hukum yang kuat agar implementasi program NbS berjalan optimal.
“Harapan kami, akan ada pertemuan lanjutan yang berkaitan dengan program-program kepalangmerahan. Sebelumnya sudah ada draft MoU yang tinggal menunggu proses penandatanganan. Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan mahasiswa atau relawan dari UNIKA Ruteng dapat terlibat sebagai relawan untuk mendukung program-program Palang Merah Indonesia Kabupaten Manggarai, termasuk program NbS dan berbagai kegiatan lainnya.”
— Hironnymus A. Kaunang, BcKn (Ketua PMI Kabupaten Manggarai)
Melalui keterlibatan aktif mahasiswa Korps Sukarela (KSR), gerakan konservasi alam ini diharapkan tidak hanya menjadi program top-down, melainkan sebuah gerakan berbasis komunitas yang digerakkan oleh intelektual muda daerah.

Menahan Laju Abrasi Pantai Reo Melalui Pendekatan Kebijakan NbS

Wilayah Reo menjadi salah satu fokus perhatian utama dalam agenda penjajakan ini. Kawasan pesisir Reo dilaporkan mengalami degradasi serius akibat hilangnya sabuk hijau (green belt) pantai. Kerusakan lingkungan tersebut dipicu oleh alih fungsi lahan dan penebangan vegetasi pesisir secara liar oleh masyarakat setempat untuk dijadikan pakan ternak. Akibatnya, abrasi pantai terus mengikis daratan dari tahun ke tahun.
Perwakilan American Red Cross, Al Akbar Abubakar, menjelaskan bahwa PKSPL IPB sebenarnya telah mendampingi Kabupaten Manggarai bahkan sejak sebelum tahun 2015. Keterlibatan jangka panjang ini memberikan mereka pemahaman mendalam mengenai karakteristik ekologi lokal.
Al Akbar menggarisbawahi bahwa strategi pemulihan melalui NbS tidak lagi sekadar menanam pohon secara massal tanpa adanya evaluasi kelanjutan hidup tanaman tersebut. Fokus utama program saat ini adalah efektivitas ekologis dan dampak ekonomi bagi warga sekitar.
“Kami berkunjung ke Kampus karena perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung keterampilan dan keterbukaan masyarakat lokal. Saat ini kami sedang mencari strategi untuk menyambungkan pengetahuan dari luar Manggarai dengan pengetahuan lokal yang ada di Manggarai, dan salah satu mitra yang memiliki kapasitas kuat adalah PKSPL IPB.”
— Al Akbar Abubakar (Perwakilan American Red Cross)

Paradigma Baru Rehabilitasi Lingkungan AmCross

Dalam penjelasannya, Al Akbar menjabarkan tiga poin penting yang menjadi pilar gerakan rehabilitasi lingkungan dari American Red Cross:
  • Orientasi Kualitas Tumbuh: Mengutamakan tingkat pertumbuhan dan keberhasilan tanaman jangka panjang, bukan sekadar mengejar kuantitas jumlah bibit yang ditanam.
  • Vegetasi Endemik: Mendorong penuh penggunaan tanaman lokal endemik yang terbukti adaptif secara ekologis dan mampu mengembalikan keseimbangan ekosistem asli.
  • Keberlanjutan Ekonomi (Sustainibility): Mengaitkan konservasi dengan mata pencaharian warga, seperti pemanfaatan buah mangrove untuk diolah menjadi produk konsumsi bernilai ekonomi tinggi.

Sambutan Hangat Akademisi dan Kesiapan Multidisiplin Ilmu UNIKA Ruteng

Pihak universitas menyambut baik inisiatif kerja sama multilateral ini. Akademisi memandang bahwa program ini merupakan peluang emas untuk mengimplementasikan konsep Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan UNIKA Ruteng, Dr. Yuliana Wahyu, S.Si., M.Pd., menyatakan apresiasi mendalam atas kedatangan tim gabungan. Kemitraan ini dinilai sangat organik karena ikatan emosional dan profesional antara UNIKA Ruteng dengan IPB University sudah terbangun erat sebelumnya.
“Setelah pertemuan ini kami akan mengkomunikasikan lebih lanjut dengan pimpinan Universitas. Ke depan kerja sama tidak hanya terbatas pada Fakultas Pertanian dan Peternakan, tetapi juga dapat melibatkan fakultas lain. Kami juga sudah memiliki kerja sama dengan IPB University dan selama ini beberapa narasumber kami berasal dari IPB sehingga sudah terbangun chemistry yang baik antara UNIKA Ruteng dan IPB University.”
— Dr. Yuliana Wahyu, S.Si., M.Pd. (Dekan Fapertanak UNIKA Ruteng)

Ekpansi Proyek Konservasi di Manggarai Timur

Potensi kontribusi akademisi dipertegas oleh Devi Liana, SP., M.Si, selaku Ketua Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian dan Peternakan UNIKA Ruteng. Menurut Devi, saat ini universitasnya tengah menjalankan dua proyek konservasi sumber daya alam bersama instansi pemerintah setempat.
Proyek tersebut berlokasi di Kabupaten Manggarai Timur yang mencakup dua kecamatan dan lima desa. Fokus kajian mereka meliputi analisis produk pertanian, sektor perikanan, serta perbaikan sistem tata niaga masyarakat lokal.
“Di Manggarai Timur terdapat kawasan mangrove yang cukup luas dan memiliki keterkaitan penting dengan kehidupan satwa. Kami melihat kawasan tersebut perlu mendapat perhatian dalam upaya pemberdayaan demi keberlanjutan sumber daya alam. Kami sangat senang jika dapat dilibatkan dalam kegiatan penelitian program NbS bersama PMI dan IPB.”
— Devi Liana, SP., M.Si (Kaprodi Agronomi UNIKA Ruteng)

Kolaborasi Riset: Mengurai Benang Kusut Pertanian Manggarai

Kerja sama yang digagas ini tidak hanya berhenti pada penanganan kawasan pesisir dan hutan mangrove. Berdasarkan temuan di lapangan, tim PKSPL IPB bersama PMI dan American Red Cross mengidentifikasi sejumlah persoalan krusial yang sedang dihadapi oleh masyarakat pedalaman di desa-desa dampingan program ELECTRA PMI.
Andy Afandy, Wakil Kepala Sumber Daya Alam dan Lingkungan PKSPL IPB University, memaparkan adanya penurunan drastis pada komoditas unggulan pertanian di Manggarai. Poin-poin masalah utama yang ditemukan di lapangan antara lain:
  • Penyakit Pisang Kepok: Petani lokal mengalami kesulitan besar dalam memproduksi pisang kepok akibat serangan penyakit tanaman, padahal komoditas ini dulunya adalah andalan ekonomi Manggarai.
  • Penurunan Produktivitas Padi: Rendahnya hasil panen pada sektor padi sawah akibat keterbatasan teknik budidaya dan faktor perubahan cuaca ekstrem.
Menanggapi fenomena tersebut, Andy membuka kesempatan lebar bagi dosen dan mahasiswa UNIKA Ruteng untuk merancang riset bersama guna memecahkan masalah pangan ini.
“Nanti mungkin kita bisa berkolaborasi untuk mencari solusi atas berbagai permasalahan yang kami temukan di desa-desa dampingan. Saya pikir implementasi keilmuan mahasiswa dan akademisi UNIKA Ruteng dapat masuk dalam berbagai kegiatan Nature-based Solutions.”
— Andy Afandy (Wakil Kepala SDAL PKSPL IPB)

Peluang Magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)

Sebagai wujud nyata dari keterbukaan kolaborasi ini, PKSPL IPB University memberikan akses khusus bagi mahasiswa UNIKA Ruteng untuk bergabung dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Hingga pertengahan tahun 2026 ini, tercatat sudah ada sekitar 30 mahasiswa dari berbagai daerah yang sukses mengikuti program magang intensif di kantor pusat PKSPL IPB University.
Keterlibatan mahasiswa dalam program MBKM ini diharapkan mampu mempercepat transfer pengetahuan (transfer of knowledge) teknologi konservasi dari IPB ke bumi Manggarai.
Pertemuan dinamis ini diakhiri dengan kesepakatan seluruh pihak untuk menyusun rencana kunjungan lanjutan dan finalisasi dokumen kerja sama formal. Sinergi lintas sektor ini diharapkan menjadi cetak biru (blueprint) baru bagi pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, pemberdayaan ekonomi, dan mitigasi bencana berbasis lingkungan di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Penulis: Adrian Jr.
Editor: Redaksi
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • AmCross, PKSPL IPB dan PMI Gandeng UNIKA Ruteng Perkuat Solusi Berbasis Alam di Manggarai
  • AmCross, PKSPL IPB dan PMI Gandeng UNIKA Ruteng Perkuat Solusi Berbasis Alam di Manggarai
  • AmCross, PKSPL IPB dan PMI Gandeng UNIKA Ruteng Perkuat Solusi Berbasis Alam di Manggarai
  • AmCross, PKSPL IPB dan PMI Gandeng UNIKA Ruteng Perkuat Solusi Berbasis Alam di Manggarai
  • AmCross, PKSPL IPB dan PMI Gandeng UNIKA Ruteng Perkuat Solusi Berbasis Alam di Manggarai
  • AmCross, PKSPL IPB dan PMI Gandeng UNIKA Ruteng Perkuat Solusi Berbasis Alam di Manggarai

Posting Komentar