Lewat MPLS, BPBD Ponorogo Tanamkan Karakter Tangguh Bencana pada Siswa Baru
Bukan sekadar pengenalan kurikulum atau tata tertib sekolah, pihak sekolah mengusung konsep "MPLS RAMAH" yang edukatif, aman, dan jauh dari perpeloncoan. Salah satu sorotan utama dalam agenda tahunan ini adalah penguatan kesiapsiagaan bencana bagi ratusan siswa baru.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut menempatkan edukasi mitigasi sebagai pilar krusial.
Mengingat kondisi geografis Kecamatan Pulung yang didominasi area perbukitan dengan potensi kerawanan hidrometeorologi, SMAN 1 Pulung menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo untuk memberikan pembekalan langsung.
Langkah ini merupakan wujud nyata implementasi program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Menanamkan Budaya Sadar Bencana
Hadir sebagai instruktur utama, Marem, S.Sos., M.Si., seorang Analis Kebencanaan dari BPBD Kabupaten Ponorogo, memimpin sesi edukasi tersebut. Dengan rekam jejak panjang dalam manajemen pencegahan dan kesiapsiagaan, Marem menekankan pentingnya mengubah paradigma masyarakat terhadap bencana.
Di hadapan para siswa, Marem menyampaikan pesan yang menggugah terkait urgensi kesiapan mental dan fisik.
"Kesiapsiagaan bukanlah sesuatu yang baru kita pelajari saat bencana sudah datang mengetuk pintu rumah kita. Kesiapsiagaan adalah bagian dari karakter dan kebiasaan sehari-hari yang harus dibangun sejak dini, mulai dari lingkungan terkecil kita, yaitu ruang kelas dan sekolah. Kalian sebagai generasi muda adalah agen perubahan; kalian harus mengenal potensi bahaya di lingkungan sekitar, memahami jalurnya, dan tahu cara menyelamatkan diri secara mandiri tanpa kepanikan yang berlebihan," tegas Marem. Rabu, (15/7/2026)
Empat Pilar Utama Mitigasi Sekolah
Dalam sesi tersebut, tim BPBD Ponorogo membagi materi edukasi ke dalam empat pilar strategis agar mudah dipahami oleh siswa baru:
1. Identifikasi Ancaman Lokal: Siswa diajak memetakan risiko bencana di wilayah Pulung, seperti potensi tanah longsor, gempa bumi, hingga cuaca ekstrem.
2. Mitigasi dan Pengurangan Risiko: Pemahaman mengenai langkah prabencana, termasuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan mengenali struktur bangunan yang aman.
3. Prosedur Perlindungan Diri:Praktik taktis metode "Drop, Cover, Hold On" untuk melindungi diri saat terjadi guncangan gempa, serta pengenalan jalur evakuasi dan titik kumpul (assembly point).
4. Simulasi Lapangan: Uji coba evakuasi mandiri yang dilakukan secara serentak untuk membiasakan siswa bertindak tenang dan terstruktur saat kondisi darurat.
Mengapa Kesiapsiagaan Harus Dimulai di Sekolah ?
Marem menjelaskan bahwa target strategis dari kegiatan ini adalah ketahanan daerah jangka panjang. Menurutnya, sekolah adalah pusat literasi kebencanaan yang paling efektif.
"Target utama kami dalam kegiatan ini adalah supaya murid-murid sejak awal masuk sekolah sudah mengenal dan memahami dengan baik jenis bencana yang ada. Kami ingin membangun kesiapan mental serta langkah-langkah taktis yang aman dilakukan ketika bencana benar-benar terjadi, sehingga fatalitas bisa dicegah sedini mungkin," ujar Marem.
Dengan metode yang memadukan teori dan praktik langsung, para siswa tidak hanya sekadar mendengar, tetapi juga mengalami langsung bagaimana rasanya merespons sirine tanda bahaya dengan disiplin. Hal ini menjadi modal berharga agar siswa memiliki insting penyelamatan diri yang tajam.
Sinergi untuk Masa Depan
Pihak manajemen SMAN 1 Pulung berharap, materi yang disampaikan oleh BPBD tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menjadi budaya sekolah. Sinergi antara kebijakan sekolah dan keahlian teknis BPBD terbukti berhasil menciptakan atmosfer belajar yang lebih aman dan nyaman.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi

Posting Komentar