Nestapa El Nino di Jatim: PMI Turun Tangan Atasi Dampak Kemarau Panjang
Krisis Air di Jember Timur
Salah satu wilayah terdampak paling parah yang dipantau langsung adalah Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember. Di kawasan ini, sumur gali dan sumber air bawah tanah milik warga telah menyusut drastis hingga kering total akibat hilangnya curah hujan sejak awal Juli.
Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Jawa Timur, Dr. Edi Purwinarto, M.Si, bersama anggotanya, Amin Istighfarin, meninjau langsung proses suplai air bersih ke tandon-tandon darurat. Langkah ini diambil untuk mengevaluasi kinerja armada kemanusiaan PMI Kabupaten Jember di lapangan.
Di lokasi, antrean warga yang membawa jeriken dan ember terlihat mengular demi mendapatkan pasokan air yang sangat berharga untuk kebutuhan dapur mereka.
Data dan Distribusi Logistik Air
Berdasarkan pendataan di lapangan, krisis air bersih di Dusun Bunder berdampak langsung pada sedikitnya 66 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 158 jiwa. Menanggapi hal tersebut, PMI Jember telah mengaktifkan posko penanggulangan bencana sejak Kamis, 2 Juli 2026.
Operasi yang berlangsung pada Selasa pagi tersebut menandai distribusi tahap keenam. Secara rutin setiap dua hari sekali, PMI mengerahkan satu unit truk tangki berkapasitas 5.000 liter untuk mengisi 6 tandon komunal di titik strategis pemukiman. Tandon tersebut terdiri dari 4 unit berkapasitas 1.200 liter dan 2 unit berkapasitas 1.100 liter. Hingga misi keenam selesai, total akumulasi air bersih yang digelontorkan telah mencapai 29.975 liter.
Prediksi Ancaman Cuaca Ekstrem
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Edi Purwinarto memaparkan bahwa kekeringan meteorologis ini dipicu oleh fenomena El Nino moderat hingga kuat di sepanjang garis khatulistiwa Indonesia.
“Berdasarkan pemodelan data iklim yang kami terima dari otoritas terkait, dampak El Nino ini memicu perpanjangan musim kemarau yang ekstrem. Untuk tahap awal, pergerakannya sudah dimulai sejak bulan Juli ini dan diprediksi akan terus menguat hingga Agustus,” urai Edi Purwinarto dengan nada waspada.
Ia menambahkan bahwa puncak gelombang panas diproyeksikan baru terjadi pada Agustus hingga Oktober. Bahkan, kondisi kering ini berpotensi merembet hingga awal tahun 2027.
"Prediksi klimatologi menunjukkan bahwa kondisi kering dan minim curah hujan ini bisa terus berlanjut hingga akhir tahun, bahkan berpotensi besar merembet sampai awal tahun 2027 nanti," tambahnya.
Tantangan Birokrasi dan Agenda PMI Selanjutnya
Dari total 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur, sebanyak 29 daerah teridentifikasi masuk zona merah potensi kekeringan. Namun, baru 11 daerah yang menetapkan status Darurat Kekeringan, dan baru 6 daerah (termasuk Jember) yang sudah aktif mendistribusikan air bersih secara berkala. Keterbatasan armada tangki, anggaran operasional, dan jarak sumber air menjadi hambatan utama bagi wilayah lain.
Mata rantai pengawasan PMI dipastikan tidak akan berhenti di Jember saja. Tim pengawas akan segera bergerak menyisir wilayah Tapal Kuda lainnya yang mulai lumpuh.
“Setelah kami mengevaluasi dan memastikan sistem distribusi di lokasi kekeringan Kabupaten Jember ini berjalan lancar tanpa kendala teknis, agenda kami selanjutnya adalah bergerak ke utara. Besok pagi, saya bersama tim dijadwalkan akan langsung bertolak untuk meninjau titik-titik kekeringan serupa yang saat ini juga mulai melanda wilayah Kabupaten Bondowoso,” pungkas Edi menutup penjelasannya kepada awak media.
Langkah maraton PMI ini diharapkan menjadi pemantik bagi pemangku kebijakan, termasuk BPBD dan pemerintah daerah setempat, untuk mempercepat kolaborasi lintas sektor agar masyarakat kecil di pedesaan tidak menjadi korban terdepan dari krisis iklim ini.

Posting Komentar