Siapkan GTK Adaptif, SMKN 2 Ponorogo Integrasikan Teknologi AI dan Pelayanan Prima



LINTAS86.comPONOROGO – Langkah konkret dalam mengawal transformasi pendidikan vokasi yang adaptif dan responsif terhadap perkembangan zaman kembali ditunjukkan oleh SMK Negeri 2 Ponorogo.

Sebagai salah satu lembaga pendidikan kejuruan yang dikenal aktif memelopori inovasi, sekolah ini secara resmi menyelenggarakan agenda berskala besar berupa Diklat Optimalisasi Deep Learning dengan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Pelayanan Prima sebagai Budaya Kerja.

Perhelatan edukatif ini dilaksanakan secara intensif pada hari Kamis, 16 Juli 2026, dengan memanfaatkan fasilitas utama di Aula SMK Negeri 2 Ponorogo. 

Melalui pelaksanaan program strategis ini, pihak manajemen sekolah berkomitmen penuh untuk melakukan akselerasi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya bagi seluruh jajaran Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) yang bertugas di lingkungan internal sekolah.
Penyelenggaraan diklat ini dirancang secara sistematis sebagai bagian integral dari cetak biru (blueprint) sekolah dalam membangun budaya kerja yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada kepuasan pemangku kepentingan. 
Di tengah gelombang disrupsi teknologi digital yang semakin masif, sektor pendidikan kejuruan dituntut tidak hanya sekadar melahirkan lulusan yang siap kerja, tetapi juga harus mampu menyediakan ekosistem pembelajaran yang fleksibel dan dinamis. 
Oleh karena itu, pembekalan kompetensi digital berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) bagi para pendidik dinilai menjadi langkah taktis yang mutlak dilakukan agar proses transfer pengetahuan di dalam kelas tetap berjalan linier dengan kebutuhan riil Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).

Dihadiri Stakeholder dan Pejabat Dinas Pendidikan

Pentingnya agenda pelatihan kompetensi ini tecermin dari hadirnya sejumlah pejabat tinggi dari lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur serta tokoh masyarakat. 
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi acara, diklat ini dihadiri oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Ponorogo, Maskun, S.Pd., M.M.; Koordinator Pengawas SMK Kabupaten Ponorogo, Sumarwan, S.T., M.MT.; serta Kepala Seksi SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Ponorogo, Denianto, S.H.
Selain jajaran struktural dinas, hadir pula Pengawas Sekolah, Dr. Mujiono, S.Pd., M.M.; Ketua Komite SMK Negeri 2 Ponorogo, Dr. Syarifan Nurjan, M.A.; serta seluruh unsur manajemen sekolah yang ikut mengawal jalannya acara dari awal hingga akhir.
Kehadiran para pemangku kebijakan tersebut memberikan suntikan motivasi moral yang besar bagi lembaga. Tercatat sebanyak 132 peserta yang terdiri dari unsur guru mata pelajaran umum, guru produktif, serta staf administrasi atau tenaga kependidikan mengikuti jalannya diklat dengan penuh antusiasme. 
Guna memastikan efisiensi penyerapan materi, pihak panitia penyelenggara menerapkan metode klasifikasi ruang belajar dengan membagi seluruh peserta menjadi dua kelompok kompetensi utama.
Kelompok pertama diisi oleh jajaran guru yang ditempatkan di Aula Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). 
Di ruangan ini, para pendidik disuguhkan dengan materi adaptasi digital mutakhir bertajuk "Optimalisasi Deep Learning dengan Pemanfaatan AI untuk Mewujudkan Merdeka Belajar".
Sementara itu, kelompok kedua diisi oleh para tenaga kependidikan atau staf tata usaha yang berkumpul di Aula Usaha Perjalanan Wisata (UPW). 
Mereka berfokus pada penguatan kapasitas layanan publik melalui pendalaman materi "Pelayanan Prima sebagai Budaya Kerja".
Pembagian kelas yang spesifik ini sengaja dilakukan agar setiap elemen GTK mendapatkan porsi pengetahuan yang relevan dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) mereka masing-masing di sekolah.

Investasi Penting untuk Mutu Vokasi Berkelanjutan

Dalam pidato pembukaannya, Kepala SMK Negeri 2 Ponorogo, Suryanto, M.Pd., menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh narasumber yang telah meluangkan waktu untuk berbagi ilmu. 
Dirinya juga memuji komitmen para peserta diklat yang bersedia terus belajar demi menaikkan level kompetensi profesional mereka. 
Suryanto memandang bahwa investasi terbaik dalam dunia pendidikan tidak melulu soal pembangunan fisik atau sarana prasarana, melainkan terletak pada peningkatan kapasitas intelektual dan keterampilan para sumber daya manusianya [Context].
"Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada seluruh narasumber yang telah hadir untuk berbagi ilmu dan pengalaman berharga hari ini. Saya berharap seluruh bapak dan ibu guru serta staf tenaga kependidikan dapat mengikuti diklat ini dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa tanggung jawab. Materi yang diperoleh di forum ini harus benar-benar diimplementasikan dalam pembelajaran harian di kelas maupun dalam memberikan pelayanan administratif kepada peserta didik," ujar Suryanto dengan penuh penekanan.
Suryanto menjabarkan lebih lanjut bahwa mutu dari sebuah sekolah kejuruan sangat ditentukan oleh seberapa adaptif gurunya terhadap perkembangan sains dan teknologi.
Ketika guru mampu menguasai alat-alat digital modern, maka atmosfer pembelajaran yang tercipta di dalam kelas akan menjadi jauh lebih menarik, interaktif, dan mendalam. 
Pola pengajaran seperti inilah yang diyakini mampu merangsang potensi terbaik siswa, sehingga lulusan yang dihasilkan memiliki daya saing tinggi, baik saat memutuskan untuk langsung terjun ke dunia kerja, membuka usaha mandiri, maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Pandangan visioner tersebut mendapat dukungan penuh dari komite sekolah selaku representasi dari orang tua wali murid. 
Ketua Komite SMK Negeri 2 Ponorogo, Dr. Syarifan Nurjan, M.A., dalam kesempatan yang sama menyatakan rasa bangganya atas langkah cepat yang diambil oleh pihak sekolah [Context]. Menurut Syarifan, konsep deep learning atau pembelajaran bermakna dan mendalam saat ini tengah menjadi isu sentral sekaligus strategi utama dalam arah kebijakan pendidikan nasional di Indonesia.
"Pendekatan deep learning saat ini menjadi pembahasan yang sangat krusial dalam dunia pendidikan kita. Kami atas nama komite sekolah merasa sangat bangga karena SMK Negeri 2 Ponorogo telah mengambil langkah nyata untuk mulai mengimplementasikan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada capaian kompetensi riil peserta didik sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing. Harapan besar kami, melalui skema ini, lulusan sekolah ini benar-benar memiliki kompetensi unggul yang spesifik sehingga mereka mampu bersaing secara sehat di dunia kerja global," papar Dr. Syarifan Nurjan.

Menjaga Iklim Kondusif dan Semangat Guru Bertumbuh

Apresiasi tinggi juga datang dari pihak regulator. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Ponorogo, Maskun, S.Pd., M.M., memuji stabilitas organisasi dan iklim kerja kondusif yang selama ini berhasil dirawat dengan baik oleh keluarga besar SMK Negeri 2 Ponorogo
Menurut Maskun, suasana kerja yang harmonis, minim konflik, dan sarat akan semangat kekeluargaan merupakan modal dasar yang sangat mahal harganya dalam membangun sekolah yang berprestasi.
"Selama saya mengemban amanah tugas di Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Ponorogo, Alhamdulillah SMK Negeri 2 Ponorogo hampir tidak pernah menghadapi persoalan atau kendala operasional yang berarti. Kondisi yang sangat kondusif, aman, dan damai seperti ini harus terus kita jaga bersama melalui komunikasi dua arah yang sehat serta penguatan rasa kebersamaan antar-seluruh warga sekolah," tutur Maskun saat memberikan pengarahan.
Lebih lanjut, Maskun menggarisbawahi bahwa tuntutan bagi seorang aparatur sipil maupun tenaga pendidik di era digital ini adalah kemauan untuk terus bertumbuh tanpa henti.
Guru tidak boleh merasa cepat puas dengan ilmu yang dimiliki saat ini, melainkan harus terus berinovasi dan peka terhadap perubahan regulasi kurikulum maupun dinamika teknologi.
"Guru zaman sekarang dituntut untuk terus bertumbuh, berinovasi, dan menghasilkan karya nyata yang memiliki dampak langsung bagi anak didik. Semangat dasarnya adalah 'guru bertumbuh, murid berdampak'. Tujuan akhir dari semua proses melelahkan ini adalah terjadinya perubahan karakter positif pada diri peserta didik yang diimbangi dengan peningkatan kompetensi teknis mereka secara signifikan," tegas Maskun.
Di samping membahas soal pengajaran, Maskun juga mengingatkan seluruh jajaran GTK untuk mempraktikkan filosofi kerja "cerdas, tuntas, dan ikhlas" 
Sektor tenaga kependidikan wajib memberikan standar pelayanan prima kepada siswa, orang tua, maupun masyarakat luas yang memerlukan urusan administratif.
Keteladanan seorang pendidik dan staf sekolah dalam berperilaku santun serta responsif merupakan figur yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin kecerdasan buatan secanggih apa pun.
 Ia juga berpesan agar seluruh warga sekolah bijak dalam menggunakan media sosial serta terus mendukung program inovasi lingkungan seperti SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan) yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

Implementasi Praktis Kecerdasan Buatan dalam Kurikulum

Memasuki sesi inti pelatihan di ruang kelas guru, Dr. Mujiono, S.Pd., M.Pd., selaku Pengawas Sekolah, bertindak sebagai narasumber utama yang mengupas tuntas teknis pemanfaatan kecerdasan buatan [Context]. Dalam sesi workshop yang berlangsung interaktif tersebut, para guru dipandu secara langsung melalui simulasi penggunaan berbagai platform AI terkemuka, seperti Gemini dan ragam AI tools penunjang pendidikan lainnya.
Mujiono mendemonstrasikan bagaimana AI dapat dimanfaatkan secara bijak dan legal untuk membantu meringankan beban administrasi guru [Context]. Melalui instruksi (prompting) yang tepat, teknologi AI mampu memetakan dan menyusun draf modul ajar, merancang perangkat pembelajaran, membuat bahan presentasi yang menarik, hingga menyusun instrumen asesmen atau soal evaluasi yang valid dan bervariasi dalam waktu yang relatif singkat [Context]. Efisiensi waktu yang diperoleh lewat bantuan teknologi ini membuat guru memiliki porsi waktu yang lebih banyak untuk fokus pada interaksi personal dan bimbingan moral kepada para siswa.
"Pendekatan berbasis AI ini kita gunakan untuk memperkuat implementasi pembelajaran mendalam (deep learning). Kita ingin menggeser paradigma lama yang hanya berorientasi pada hafalan materi kognitif tingkat rendah, menuju ke arah penumbuhan kemampuan berpikir kritis (critical thinking), kreativitas (creativity), kemampuan berkolaborasi (collaboration), komunikasi yang efektif (communication), serta pemecahan masalah (problem solving) kompleks. Inilah seperangkat keterampilan abad ke-21 yang wajib dimiliki oleh anak-anak vokasi," jelas Dr. Mujiono di sela-sela simulasi aplikasi.
Melalui pelaksanaan diklat terpadu yang memadukan kecanggihan teknologi AI dengan kehangatan pelayanan prima manusia, SMK Negeri 2 Ponorogo kembali menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan vokasi yang adaptif dan visioner [Context]. Langkah ini menjadi fondasi yang kokoh dalam mewujudkan layanan pendidikan bermutu tinggi yang siap mengantarkan generasi muda Ponorogo menjadi lulusan yang unggul, berkarakter mulia, cerdas secara intelektual, serta siap memimpin di era digital.

Penulis: Zabidi 
Editor: Redaksi
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Siapkan GTK Adaptif, SMKN 2 Ponorogo Integrasikan Teknologi AI dan Pelayanan Prima
  • Siapkan GTK Adaptif, SMKN 2 Ponorogo Integrasikan Teknologi AI dan Pelayanan Prima
  • Siapkan GTK Adaptif, SMKN 2 Ponorogo Integrasikan Teknologi AI dan Pelayanan Prima
  • Siapkan GTK Adaptif, SMKN 2 Ponorogo Integrasikan Teknologi AI dan Pelayanan Prima
  • Siapkan GTK Adaptif, SMKN 2 Ponorogo Integrasikan Teknologi AI dan Pelayanan Prima
  • Siapkan GTK Adaptif, SMKN 2 Ponorogo Integrasikan Teknologi AI dan Pelayanan Prima

Posting Komentar