Antisipasi Tsunami Pantai Selatan, PMI Lumajang Gelar Pelatihan KBBM di Desa PandanArum


lintas86.com, Lumajang – Garis pantai selatan Jawa Timur, termasuk yang membentang di sepanjang wilayah Kabupaten Lumajang, menyimpan potensi keindahan alam yang luar biasa sekaligus risiko geologis yang tidak boleh diabaikan. Sebagai wilayah yang berhadapan langsung dengan zona subduksi aktif, ancaman gempa bumi dan tsunami selalu mengintai sewaktu-waktu. Menyadari risiko nyata tersebut, kesiapsiagaan masyarakat di tingkat tapak menjadi kunci utama dalam meminimalkan potensi korban jiwa.

Langkah taktis dan preventif kembali diambil oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lumajang. Pada Senin (8/6/2026), institusi kemanusiaan ini resmi meluncurkan program pelatihan Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat (KBBM). 

Untuk tahun 2026, program penguatan kapasitas ini dipusatkan di Desa PandanArum, Kecamatan Tempeh, sebuah kawasan pemukiman yang berada di zona rawan bencana tsunami pantai selatan.

Desa PandanArum dipilih bukan tanpa alasan yang matang. Secara geografis, desa di Kecamatan Tempeh ini memiliki kerentanan tinggi terhadap rambatan gelombang pasang jika terjadi aktivitas seismik besar di Samudra Hindia. Karakteristik wilayah pesisir yang cenderung landai membuat waktu respons masyarakat lokal menjadi sangat berharga ketika status peringatan dini tsunami diaktifkan.

Ketua PMI Kabupaten Lumajang, H. Budi Santoso, SH, M.Si, menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah administrasi Lumajang memang berada dalam peta merah rawan bencana alam, mulai dari erupsi gunung berapi hingga ancaman pesisir. Oleh karena itu, membangun kesadaran kolektif dari level keluarga dan desa adalah sebuah keharusan.

 "Karena Kabupaten Lumajang sebagian besar wilayahnya berada di daerah rawan bencana, pelatihan KBBM ini dinilai akan sangat membantu pengembangan kapasitas masyarakat. Kami ingin warga memiliki pengetahuan kebencanaan yang matang dan tahu persis apa yang harus dilakukan secara mandiri jika terjadi bencana," ujar Budi Santoso saat membuka pelatihan secara resmi di Balai Desa PandanArum.

Melalui pendekatan KBBM ini, PMI Lumajang menargetkan lahirnya kelompok relawan SIBAT (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) yang tangguh, terlatih, dan siap menjadi garda terdepan sistem keselamatan desa.

Salah satu parameter utama keberhasilan mitigasi modern yang diakui secara global adalah inklusivitas—memastikan tidak ada satu orang pun yang tertinggal saat evakuasi darurat terjadi. Prinsip ini diterapkan secara nyata dalam pelatihan di Desa PandanArum, di mana peserta tidak hanya didominasi oleh kelompok pemuda atau perangkat desa semata.

Ketua Panitia Pelatihan KBBM PMI Lumajang, Nurhadi Santoso, SP, memaparkan bahwa pelatihan yang berlangsung selama tiga hari (8–10 Juni 2026) ini diikuti oleh sedikitnya 30 peserta aktif. 

Komposisi peserta sengaja dirancang heterogen untuk mencakup seluruh elemen penting di dalam ekosistem masyarakat desa.

Perangkat Desa dan Tokoh RT/RW: Sebagai pemegang kebijakan lokal dan pengambil keputusan struktural saat krisis.

Kader Perempuan Desa: Berperan strategis dalam manajemen logistik, dapur umum, serta pendataan kelompok rentan pasca-bencana.

Unsur Disabilitas: Keterlibatan perwakilan disabilitas memastikan sistem peringatan dini (early warning system) dan jalur evakuasi yang dirancang nantinya ramah dan aksesibel bagi warga berkebutuhan khusus.

"Di daerah yang rawan bencana, kita harus menyiapkan masyarakat yang benar-benar tangguh. Lewat pelatihan KBBM ini, kita berupaya meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia secara merata," tambah Nurhadi Santoso dalam laporan kepanitiaannya.

Menghadapi potensi tsunami membutuhkan kesiapan multidimensi. Oleh karena itu, para peserta pelatihan tidak hanya dibekali dengan materi teoritis di dalam ruangan, melainkan juga simulasi taktis lapangan. Guna memberikan standar edukasi terbaik, PMI Lumajang berkolaborasi dengan fasilitator lintas sektor yang kompeten di bidangnya. Materi pelatihan disampaikan bersama oleh perwakilan dari:

1. PMI Provinsi Jawa Timur – Memberikan standardisasi nasional terkait manajemen logistik, posko, dan prinsip dasar gerakan kemanusiaan.
2. PMI Kabupaten Lumajang – Memandu pemetaan kerentanan dan kapasitas lokal yang spesifik sesuai karakteristik sosiologis warga Tempeh.
3. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang – Memberikan pembekalan teknis mengenai sistem komando kebencanaan, pembacaan alat deteksi dini, dan jalur koordinasi dengan pemerintah daerah.

Selama periode pelatihan, 30 calon anggota SIBAT ini diajarkan cara menyusun dokumen rencana kontinjensi desa, menentukan titik elevasi aman (zona hijau), serta merancang teknik evakuasi mandiri dalam waktu kurang dari 20 menit setelah gempa bumi utama terjadi.

Pentingnya pembentukan tim SIBAT terlatih seperti di Desa PandanArum ini sangat relevan jika berkaca pada studi kasus bencana tsunami yang pernah melanda kawasan pantai selatan Jawa di masa lalu, seperti Tsunami Banyuwangi (1994) atau Tsunami Pangandaran (2006).

Dalam skenario pemodelan tsunami akibat gempa megathrust, jeda waktu antara gempa bumi dengan tibanya gelombang pertama ke daratan sering kali berkisar antara 15 hingga 30 menit. Di sinilah letak urgensi keberadaan relawan lokal. Ketika bencana terjadi:

Detik 1 - 5 Menit Pertama: Relawan SIBAT yang berada di lokasi langsung mengaktifkan tanda bahaya lokal (sirine manual, kentongan, atau pengeras suara tempat ibadah) begitu merasakan gempa kuat berdurasi lama.

Menit 5 - 15: Relawan membantu mengarahkan kelompok rentan—seperti lansia, anak-anak, dan warga disabilitas—menyusuri jalur evakuasi yang sebelumnya sudah diberi papan penunjuk arah yang jelas selama masa pelatihan.

Menit 20 dan Seterusnya: Memastikan seluruh warga telah berada di titik kumpul aman yang berada di dataran tinggi sebelum gelombang mencapai bibir pantai.

Tanpa adanya relawan lokal yang paham prosedur ini, kepanikan massal di jalanan justru sering kali memicu kemacetan yang berujung pada timbulnya korban jiwa yang lebih besar.

Keseriusan dalam mengikuti tahapan pelatihan ini menjadi sorotan utama bagi pihak penanggung jawab wilayah. 

Ketua PMI Kecamatan Tempeh yang juga menjabat sebagai Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Tempeh, Lalu Indra Jaya, menitipkan pesan mendalam agar waktu pelatihan yang singkat ini diserap secara maksimal oleh seluruh perwakilan warga.

"Kami sangat berharap seluruh peserta mengikuti pelatihan ini dengan tekun dan disiplin. Target utama kita adalah agar masyarakat tidak hanya sekadar tahu, tetapi benar-benar memahami peran masing-masing. Ketika pengetahuan kebencanaan sudah mengakar, tindakan penyelamatan diri akan menjadi sebuah refleks alami yang cepat dan terukur saat situasi darurat terjadi," pungkas Lalu Indra Jaya.

Melalui inisiasi program KBBM berkelanjutan ini, PMI Lumajang bersama masyarakat Desa PandanArum tengah menyusun fondasi pertahanan yang kuat. 


Investasi terbesar dalam mitigasi bencana bukanlah sekadar membangun dinding penahan ombak yang mahal, melainkan membangun kesadaran, pengetahuan, dan ketangguhan mental dari manusianya sendiri.

Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Antisipasi Tsunami Pantai Selatan, PMI Lumajang Gelar Pelatihan KBBM di Desa PandanArum
  • Antisipasi Tsunami Pantai Selatan, PMI Lumajang Gelar Pelatihan KBBM di Desa PandanArum
  • Antisipasi Tsunami Pantai Selatan, PMI Lumajang Gelar Pelatihan KBBM di Desa PandanArum
  • Antisipasi Tsunami Pantai Selatan, PMI Lumajang Gelar Pelatihan KBBM di Desa PandanArum
  • Antisipasi Tsunami Pantai Selatan, PMI Lumajang Gelar Pelatihan KBBM di Desa PandanArum
  • Antisipasi Tsunami Pantai Selatan, PMI Lumajang Gelar Pelatihan KBBM di Desa PandanArum

Posting Komentar