Kisah Sutamar: 46 Tahun Mengabdi di PMI Jatim
"Saya sering tampil berpidato di depan teman-teman. Seminggu sekali kami mendapat giliran," kenang pria kelahiran Jember tahun 1959 yang akrab disapa Pak Tamar ini, saat ditemui di Kantor PMI Provinsi Jawa Timur, Jalan Karangmenjangan No. 22 Surabaya.
Kenangan masa muda itu masih tersimpan rapi di ingatannya. Saat menempuh pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Baitul Arkom, Balung, Jember, Tamar tidak hanya menimba ilmu-ilmu keagamaan seperti tafsir, akidah, usuludin, hingga sejarah perjuangan Islam. Lebih dari itu, mental dan kepercayaan dirinya untuk tampil berbicara di depan umum ditempa secara konsisten melalui muhadhoroh.
Tanpa disadarinya kala itu, latihan bersuara dan menyampaikan pesan tersebut kelak menjadi modal sosial yang sangat krusial ketika ia melangkah ke ranah profesional.
Setamat dari pesantren, perjalanan pendidikannya berlanjut ke SMEA. Lulus pada tahun 1979, Pak Tamar mulai bergelut dengan dunia yang bertolak belakang dari ilmu agama, yakni bidang ekonomi dan administrasi.
Ia mempelajari tata buku, sistem debit-kredit, penyusunan neraca keuangaan, ekonomi perusahaan, stenografi, hingga aspek hukum pidana dan perdata.
"Sekolah SMEA waktu itu memang penuh pelajaran hitung-hitungan," ujarnya sembari tersenyum mengingat masa-masa menata angka.
Kombinasi antara kedisiplinan pesantren dan ketelitian administrasi itu membawanya ke Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Jawa Timur pada kurun waktu 1980–1982. Saat itu, markas organisasi kemanusiaan ini masih berada di Jalan Kalibokor, Surabaya, di bawah kepemimpinan Sekretaris PMI Jatim Siswo Haryoko—seorang mantan Bupati Kediri.
Sejak saat itulah, lembar pengabdian Sutamar resmi dimulai. Lebih dari empat dekade berlalu, ketekunan Pak Tamar tak sedikit pun surut. Kini, di usianya yang telah matang, ia berkiprah di Bidang Umum PMI Jawa Timur dengan tanggung jawab yang tidak ringan. Salah satu tugas besarnya adalah mengelola dan menyusun data para penerima penghargaan Donor Darah Sukarela (DDS) Tahun 2026.
Penghargaan bergengsi bagi para pahlawan kemanusiaan tersebut dijadwalkan akan diserahkan secara resmi pada September mendatang. Ketiadaan ruang untuk kesalahan dalam mengolah ribuan data pendonor menuntut fokus yang luar biasa.
Tahun ini, sebanyak 650 pendonor tercatat akan menerima penghargaan atas 75 kali donor darah, 412 pendonor memperoleh penghargaan tertinggi 100 kali donor, dan 1.988 pendonor akan menerima PIN penghargaan 50 kali donor. Hampir seluruh PMI kabupaten/kota di Jawa Timur telah merampungkan dan mengirimkan usulan data tersebut.
Hanya Kabupaten Sumenep yang saat ini masih dalam tahap finalisasi proses, sementara Kota Batu pada tahun ini belum memiliki kandidat penerima penghargaan. Di balik angka-angka dan tumpukan berkas tersebut, ada ketelitian tangan Pak Tamar yang memastikan setiap pahlawan darah mendapatkan hak dan apresiasi yang layak atas kebaikan mereka.
Bagi Sutamar, mendedikasikan hidup selama 46 tahun di PMI bukan sekadar rutinitas pekerjaan atau urusan penyelesaian tugas administratif belaka. Lebih jauh dari itu, ada pilar nilai yang selalu ia pegang teguh sejak masih menimba ilmu di pesantren: disiplin, keberanian untuk menyampaikan pendapat, dan keikhlasan yang tulus dalam melayani sesama manusia.
Muhadhoroh yang dahulu rutin diikutinya di Pondok Pesantren Baitul Arkom terbukti bukan sekadar ajang belajar mengolah kata di atas panggung. Latihan itu adalah kawah candradimuka yang membentuk ketahanan mental, kepemimpinan, dan rasa empati. Karakter tangguh itulah yang hingga hari ini terus menuntun jejak langkah pengabdian Pak Tamar di PMI Provinsi Jawa Timur.

Posting Komentar