Menyusuri Jejak Sejarah Bupati Pertama Ponorogo, 7.000 Peziarah Madiun Padati Gunung Nglarangan
Berdasarkan data di lapangan, sekitar 7.000 peziarah tercatat mengikuti ziarah Muharam menuju makam Tumenggung Brotonegoro. Rombongan besar ini didominasi oleh warga Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, yang konsisten menjalankan ritual batin peninggalan almarhum KH Makruf Nawawi.
Perjalanan Fisik Menembus Rute Terjal
Aktivitas keagamaan ini dimulai sejak pagi hari dengan titik kumpul utama di Musala Sewulan, Madiun. Guna menjamin keselamatan dan ketertiban selama perjalanan lintas wilayah menuju Ponorogo, pergerakan rombongan mendapatkan pengawalan dari aparat keamanan dan personel Banser.
Setibanya di area bawah Gunung Gombak, para jemaah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka harus menaklukkan medan pendakian yang gersang, kering, dan berbatu untuk sampai ke titik puncak makam. Sepanjang rute, suasana tetap terjaga khidmat karena digantikan oleh lantunan zikir, doa, serta selawat yang terus menggema. Bagi para peziarah, momen ini merupakan media laku batin untuk mengikis kesombongan dan meneguhkan iman.
Meneladani Kepemimpinan Egaliter Tumenggung Brotonegoro
Pengasuh jemaah, KH Afif Nizam, menjelaskan bahwa ziarah ke Nglarangan ini bukan sekadar rutinitas tahunan di kalender Islam. Kegiatan ini merupakan ruang edukasi spiritual lintas generasi yang bertujuan untuk membersihkan niat, memperkuat ketakwaan, sekaligus mempererat tali silaturahmi antarpenduduk.
Nilai utama dari gerakan ziarah ini bersumber pada rekam jejak sejarah Tumenggung Brotonegoro selaku Bupati pertama Ponorogo. Tokoh pemimpin tersebut dikenal sangat bersahaja, egaliter, dan membaur dengan masyarakat kelas bawah tanpa jarak. Dedikasi serta karakter kepemimpinan yang merakyat inilah yang terus dihidupkan sebagai pedoman hidup jemaah.
Ruang Harapan dan Doa untuk Bangsa
Bagi masyarakat yang hadir, momentum awal bulan Muharam di puncak gunung menjadi waktu krusial untuk memanjatkan hajat hidup. Narto (49), warga Wungu, Madiun, mengungkapkan kepatuhannya mengikuti agenda ini setiap tahun demi memohon keselamatan keluarga serta kelancaran studi anak-anaknya.
Harapan personal yang unik juga disampaikan oleh generasi muda. Nadhif (25), seorang peziarah asal Bojonegoro, sengaja datang untuk berdoa di makam tokoh sejarah ini agar diberikan kemudahan dalam menemukan pasangan hidup dan melangsungkan pernikahan pada tahun ini.
Rangkaian ritual keagamaan ini diakhiri dengan doa bersama secara massal. Ribuan jemaah kompak menengadahkan tangan demi memohon perlindungan bagi keluarga, kesejahteraan masyarakat, serta kedamaian bagi bangsa Indonesia agar selalu dipimpin oleh figur-figur yang memegang amanah.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi

Posting Komentar