Jauh dari Orang Tua! Santri MBS Jetis Ponorogo Kini Diajari Cara Rawat Teman Sakit di Pondok!
![]() |
| Alamsyah Adi Nugraha pemateri PMI saat menyampaikan materi pertolongan pertama |
LINTAS86.com, PONOROGO – Memasuki lingkungan baru di pondok pesantren menuntut para santri untuk memiliki tingkat kemandirian yang tinggi. Hidup terpisah dari lingkungan rumah dan jauh dari pengawasan langsung orang tua membuat aspek solidaritas antarteman menjadi kunci utama. Menyadari hal tersebut, Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Jetis Ponorogo membekali para santri barunya dengan keterampilan medis praktis agar mampu merawat sesama rekan asrama yang terjatuh sakit.
Langkah preventif ini diintegrasikan langsung dalam agenda tahunan Pekan Orientasi Santri Ma’had Muhammadiyah (PORTASIMU) untuk tahun ajaran baru 2026/2027. Bertempat di Kampus 1 Pondok Pesantren MBS Jetis, Jalan Nasional Ponorogo-Trenggalek (Jenderal Sudirman, Jetis), kegiatan edukatif ini berlangsung secara maraton sejak Senin, 6 Juli 2026 hingga Rabu, 8 Juli 2026.
Transformasi Karakter Santri: Membangun Kemandirian Sejak Dini
Program PORTASIMU tahun ini diikuti oleh 83 orang santri baru yang berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang sosiologis yang berbeda-beda. Bagi mayoritas santri, pola hidup komunal di dalam asrama (ma'had) merupakan ekosistem yang sepenuhnya baru dan belum menjadi kebiasaan harian (habit) saat berada di rumah asalnya.
Memantapkan Jiwa dan Pola Pikir Baru
Pihak manajemen pesantren menegaskan bahwa orientasi ini bukan sekadar kegiatan seremonial pengenalan fisik kampus. Lebih dari itu, fokus utama ditekankan pada rekonstruksi mentalitas anak didik agar siap menghadapi tantangan pendidikan modern berbasis asrama.
Drs. Purnomo, M.Pd. Wakil Direktur III di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Jetis, Ponorogo, Jawa Timur , menjelaskan bahwa pembekalan karakter, keagamaan, dan keterampilan taktis sengaja dikombinasikan untuk membentuk ketahanan santri yang utuh.
"Tujuan utama kegiatan seluruhnya ini adalah dalam rangka memang untuk memantapkan jiwa santri. Biar mereka memiliki suatu pola pikir (mindset) yang baru, mereka memiliki semangat baru untuk menjadi seorang santri yang harus tekun dan bersungguh-sungguh di dalam menuntut ilmu untuk bekal masa depan mereka," ujar Purnomo saat memantau jalannya diklat.
Purnomo juga menambahkan bahwa target pembentukan karakter ini menyasar aspek spiritual sekaligus sosial agar santri luhur dalam bertindak.
"Target kami bukan hanya masa depan religi atau agama saja, tapi juga karakter akademik dan kepemilikan akhlakul karimah. Ini penting agar para santrinya nanti bisa cepat beradaptasi dengan kondisi lingkungan pondok pesantren. Harapannya, mereka betul-betul memiliki karakter yang baik, disiplin, tertib, tekun, dan menjadi santri yang berprestasi," pungkas Purnomo.
![]() |
| Drs. Purnomo, M.Pd. Wakil Direktur III di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Jetis, Ponorogo, Jawa Timur |
Edukasi Medis PMI: Pertolongan Pertama dan Perawatan Keluarga
Untuk memastikan para santri memiliki kecakapan pertolongan yang terstandarisasi, MBS Jetis Ponorogo menggandeng korps pelatih dari PMI Kabupaten Ponorogo. Sebanyak dua instruktur ahli, yakni Alamsyah Adi Nugraha dan Rika Dwi Nurkhasanah, diterjunkan langsung untuk memberikan simulasi dan praktik penanganan kasus klinis harian.
Taktis Mengatasi Cedera Fisik Sehari-hari
Sesi pertama berfokus pada materi pertolongan pertama (first aid) secara umum. Kurikulum ini dirancang untuk menyasar kasus-kasus kecelakaan kecil atau gangguan kesehatan mendadak yang rawan terjadi di area kelas, lapangan olahraga, maupun lorong asrama.
Humas sekaligus Pemateri dari PMI Kabupaten Ponorogo, Rika Dwi Nurkhasanah, memaparkan ragam tindakan medis dasar yang wajib dikuasai oleh santri baru ketika berhadapan dengan situasi darurat.
"Materi pertolongan pertama tadi kami sampaikan secara umum. Bagaimana para santri harus mengatasi kalau terjadi cedera-cedera atau luka yang umum terjadi di sekolah sehari-hari. Seperti penanganan pasien pingsan, cedera fisik, luka sobek, luka sayat, luka robek, persendian yang keseleo, hingga tindakan cepat saat ada teman yang mengalami mimisan," urai Rika Dwi Nurkhasanah.
![]() |
| Antusias peserta mengikuti kegiatan |
Modul Perawatan Keluarga Lintas Asrama
Masuk pada sesi berikutnya, tim instruktur membedah materi Perawatan Keluarga (PK). Modul ini diproyeksikan sebagai panduan mitigasi komunal ketika ada santri yang membutuhkan perawatan intensif pasca-sakit di dalam kamar asrama.
"Untuk materi perawatan keluarga, penekanannya adalah karena mereka bertempat tinggal di dalam ma'had. Kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi misal mereka itu harus merawat atau membantu merawat teman-teman mereka sendiri ketika sakit di ma'had," tambah Rika.
Secara teknis, Rika dan tim melatih para santri beberapa tindakan keperawatan basic yang meliputi:
- Prosedur menyuapi atau memberikan makan secara higienis kepada teman yang lemas.
- Tata cara membantu meminumkan obat sesuai dengan aturan dan resep asatidz.
- Teknik mendampingi rekan yang sakit saat hendak menuju ke kamar mandi agar tidak terjatuh.
- Protokol kebersihan kamar, seperti cara mengganti sprei dan merapikan tempat tidur pasien.
"Harapannya dengan materi pertolongan pertama dan perawatan keluarga itu, mereka bisa langsung mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga apa yang kita sampaikan hari ini membawa manfaat untuk mereka minimal pada saat di ma'had. Karena kan mereka waktu di ma'had itu tidak di bawah pengawasan orang tua, jadi wajib bisa merawat diri dengan baik dan saling membantu kepada teman-temannya," urai Rika panjang lebar.
Dukungan Kelembagaan dan Kesaksian dari Kamar Asrama
Program penguatan kapasitas santri di tingkat basis pesantren ini mendapat perhatian dan pengawalan ketat dari jajaran struktural markas PMI tingkat kabupaten. Standardisasi materi dipastikan berjalan sesuai dengan modul pelayanan sosial kemanusiaan nasional.
Sinergi Lembaga untuk Pesantren Tangguh Bencana
Sekretaris PMI Kabupaten Ponorogo, Sumani, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang diambil oleh manajemen MBS Jetis. Menurutnya, pesantren merupakan salah satu klaster komunal yang sangat penting untuk dibekali kemampuan mitigasi mandiri.
"Kami dari jajaran pengurus dan sekretariat PMI Kabupaten Ponorogo berkomitmen penuh untuk mendukung program-program edukasi kesehatan berbasis lembaga pendidikan seperti di MBS Jetis ini. Sinergi ini penting, karena mencetak generasi muda yang memiliki kepekaan kemanusiaan tinggi sejak dini adalah investasi sosial," tegas Sumani saat dikonfirmasi mengenai dukungan teknis tim medis di lapangan.
Sumani menilai, pembekalan materi gabungan antara kesehatan dari PMI dan materi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dari MDMC akan membentuk ekosistem pesantren yang tangguh dan responsif terhadap risiko.
Pengalaman Nyata Pesantar PORTASIMU
Manfaat nyata dari pelatihan intensif ini dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satu santri baru yang mengikuti diklat ini—yang meminta identitas namanya tidak dipublikasikan demi kenyamanan—mengaku bahwa pelatihan ini meruntuhkan ketakutannya selama asrama.
"Jujur, awalnya saya sempat takut dan bingung bagaimana kalau nanti tiba-tiba saya atau teman sekamar sakit, padahal orang tua jauh di rumah. Setelah ikut praktik dari kakak-kakak PMI, saya jadi tahu cara mengobati luka dan bagaimana merawat teman yang demam di kasur. Pelatihan ini membuat kami para santri baru merasa lebih tenang dan lebih kompak satu sama lain," aku salah satu santri baru peserta PORTASIMU tersebut dengan tulus.
![]() |
| Penyerahan Piaganm Pengharagaandari MBS Jetis Ponorogo kepada PMI |
Sebagai informasi, Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Jetis Ponorogo merupakan institusi pendidikan yang telah berdiri sejak tahun 2016. Menjadi salah satu pesantren MBS utama di wilayahnya, lembaga ini terus berupaya mengintegrasikan kurikulum akademik kepesantrenan dengan kecakapan hidup (life skills) guna melahirkan calon pemimpin masa depan yang berkarakter kuat, berwawasan luas, serta memiliki empati sosial kemanusiaan yang tinggi di tengah masyarakat.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi




Posting Komentar