Gelar Reuni di Ponpes Daruttaibin Tulungagung, Keluarga Bani H. Hasyim Kalirong Jaga Istiqomah Antargenerasi
LINTAS86.com, TULUNGAGUNG – Hubungan kekeluargaan yang erat merupakan fondasi penting dalam membangun generasi penerus yang berakhlak mulia. Guna menjaga konsistensi hubungan tersebut, Keluarga Bani H. Hasyim Kalirong sukses menyelenggarakan agenda tahunan berupa reuni akbar dan silaturahim nasional. Kegiatan penuh khidmat ini mengambil tempat di Kompleks Pondok Pesantren Daruttaibin, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, pada Minggu (07/01/2026).
Pertemuan besar ini menjadi magnet bagi ratusan keturunan dan kerabat dekat dari mendiang H. Hasyim Kalirong. Jarak geografis tidak menjadi penghalang bagi para anggota keluarga untuk saling bertatap muka dan mengikat kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat renggang akibat kesibukan aktivitas sehari-hari.
300 Kerabat Lintas Daerah Padati Lokasi Acara
Silahturahim akbar ini mencatat kehadiran sekitar 300 orang anggota keluarga. Mereka datang berbondong-bondong dari berbagai daerah operasional dan domisili di Jawa Timur, meliputi:
- Kabupaten Jember
- Kabupaten Tulungagung (tuan rumah)
- Kabupaten Nganjuk
- Kabupaten Malang
- Kabupaten Trenggalek
- Kabupaten Pasuruan
- Kabupaten Kediri
Perwakilan panitia pelaksana menyatakan rasa haru dan bangganya atas antusiasme yang luar biasa ini. Berdasarkan basis data kehadiran panitia, cakupan sebaran anggota keluarga Bani H. Hasyim kini sudah meluas ke seluruh wilayah Indonesia. Bahkan, beberapa anggota keluarga tercatat sedang berdomisili di luar negeri guna menempuh studi maupun bekerja, namun tetap menyatukan hati dalam doa bersama pada hari tersebut.
Rangkaian Kegiatan Tradisi Pesantren dan Pembacaan Silsilah
Acara dimulai sejak pagi hari dengan atmosfer religius yang kental khas pesantren. Pihak panitia menyusun rangkaian acara secara sistematis sebagai berikut:
Pembukaan dan Tahlil Bersama
Kegiatan dibuka secara resmi dengan lantunan pembacaan ayat suci Al-Qur'an secara tartil. Acara kemudian berlanjut ke sesi tahlil, zikir khataman, serta doa bersama untuk para leluhur keluarga yang dipimpin langsung oleh tokoh agama setempat, Kyai Zainul Fuad.
Sesi Inti Keagamaan (Mauidhoh Hasanah)
Memasuki acara inti, jemaah keluarga mendengarkan siraman rohani atau Mauidhoh Hasanah yang disampaikan oleh ulama asal Kota Balikpapan, KH. Bahauddin. Sesi ini menjadi momen krusial untuk mengisi nilai-nilai spiritualitas keluarga.
Regenerasi Lewat Pembacaan Silsilah Keturunan
Salah satu momentum paling penting dalam menjaga keistiqomahan antargenerasi adalah pembacaan manuskrip silsilah Bani H. Hasyim Kalirong. Sesi edukasi sejarah keluarga ini bertujuan agar anak-cucu atau bibit-bibit generasi muda tetap mengenali garis keturunan, paman, bibi, serta saudara sepupu mereka. Langkah ini dinilai efektif untuk mencegah terputusnya hubungan kekerabatan (obor paten) di masa depan. Acara kemudian diakhiri dengan doa penutup dan ramah tamah antarkeluarga.
Apresiasi Tuan Rumah atas Pengorbanan Harta dan Pikiran
Kyai Abdul Kholik selaku pengasuh tempat sekaligus tuan rumah, memberikan sambutan yang menyentuh hati. Beliau memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh kerabat yang telah ikhlas mengorbankan waktu, tenaga, pola pikir, hingga harta benda demi menyukseskan acara reuni ini.
"Kerauan (kehadiran) panjenengan sami dadoso tambahan amal hasanah. Terima kasih atas segala pelayanan, bantuan materi, dan tenaga yang diberikan. Semoga hal ini menjadi amal jariyah yang terus mengalir bagi anak-cucu kita semua," tutur Kyai Abdul Kholik.
Beliau juga mengingatkan bahwa esensi utama dari pertemuan setahun sekali ini adalah konsistensi.
"Bulete dadi setahun sepisan awake dewe iso ketemu (kesimpulannya menjadi setahun sekali kita bisa berkumpul). Melalui silaturahim ini, kita kumpulkan kembali energi keluarga. Semoga kebersamaan ini terus istiqomah dilakukan setiap tahun," tambah beliau.
Pesan Spiritual KH. Bahauddin: Menjadi Pengembara Dunia yang Cerdas
Dalam tausiyahnya, KH. Bahauddin menggarisbawahi pentingnya meluruskan niat hidup di dunia. Beliau mengutip pesan mendalam dari Baginda Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan umatnya untuk memposisikan diri di dunia seperti seorang pengembara atau orang yang sedang dalam perjalanan (boro).
"Kanjeng Nabi mendidik umatnya agar menjadi pribadi yang kreatif sekaligus ekstra hati-hati. Kita ini ibarat warga yang merantau sementara di Malaysia, tujuannya jauh mencari bekal. Sewaktu-waktu dipanggil pulang oleh Allah SWT, kita harus sudah mengantongi bekal yang cukup," terang KH. Bahauddin.
Beliau memaparkan bahwa orang yang cerdas minimal mampu mengondisikan hidupnya dalam tiga aktivitas utama, dengan prioritas tertinggi pada pemenuhan bekal akhirat (sangu akhirat).
Beliau memberikan kritik sosial bahwa manusia sering kali bekerja keras di bawah terik matahari seharian demi upah duniawi yang bernilai Rp50.000, namun sering kali malas dan menunda-nunda urusan akhirat yang nilainya jauh lebih mahal daripada bumi beserta isinya.
Sebagai penutup, KH. Bahauddin menceritakan kisah teladan seorang Syekh purbakala yang enggan membuang waktu untuk mengunyah roti. Syekh tersebut memilih langsung menelan tepung mentah demi menghemat durasi waktu.
Bagi sang Syekh, selisih waktu antara mengunyah roti dan menelan tepung bisa ia manfaatkan untuk membaca kalimat tasbih (Subhanallah) sebanyak 70 hingga 80 kali.
"Setiap detik yang terlewatkan dalam hidup tanpa nilai ibadah tidak akan pernah bisa dinilai atau digantikan oleh apa pun di dunia ini. Mari kita manfaatkan sisa usia dan kesempatan emas yang hanya diberikan sekali ini oleh Allah SWT dengan sebaik-baiknya," pungkas KH. Bahauddin di hadapan ratusan jemaah Bani H. Hasyim.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi




Posting Komentar