Aksi Nyata Sibat Desa Terong Tanam Mangrove Demi Jaga Pesisir
LINTAS86.com, Manggarai — Kawasan pesisir Kabupaten Manggarai kini memiliki benteng alami baru hasil dari kepedulian masyarakat lokal. Langkah ini menjadi strategi jitu dalam meredam dampak buruk perubahan iklim global di tingkat desa.
Melalui aksi gotong royong, Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat Desa (SIBAT) Desa Terong sukses menggelar aksi penghijauan pesisir. Mereka melakukan penanaman puluhan bibit mangrove secara terintegrasi di kawasan pantai Kampung Nanga Ramut, Kecamatan Satar Mese Barat.
Momentum Hari Lingkungan Hidup dan Sinergi Lintas Sektor
Aksi penyelamatan lingkungan ini sengaja dilaksanakan untuk memperingati dua hari besar lingkungan sekaligus. Hari tersebut adalah Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Hutan Hujan Tropis Sedunia.
Melalui momen bersejarah ini, SIBAT bersama Pemerintah Desa Terong dan perwakilan masyarakat turun langsung ke lapangan. Langkah ini menjadi wujud nyata kepedulian kolektif terhadap kelestarian ekosistem pesisir Manggarai yang kian rentan.
Kawasan Kampung Nanga Ramut dipilih bukan tanpa alasan kuat. Wilayah ini merupakan area terdampak bencana musiman yang membutuhkan penanganan mitigasi secara cepat dan tepat.
Setiap tahun, wilayah ini berhadapan langsung dengan dua ancaman utama:
- Abrasi pantai akibat hantaman gelombang laut selatan.
- Luapan banjir yang bersumber dari daerah aliran sungai (DAS).
Dalam pelaksanaannya, sebanyak 50 peserta terlibat aktif saling bahu-mewakili berbagai elemen penting. Dari total tersebut, 30 orang merupakan warga asli RT 001 Kampung Nanga Ramut yang menjadi garda depan lokasi penanaman.
Sisa peserta lainnya merupakan kolaborasi solid dari lintas sektor dan aparat keamanan, meliputi:
- Unsur Pemerintah Desa Terong.
- Babinsa (TNI) setempat.
- Bhabinkamtibmas (Polri) wilayah Satar Mese Barat.
- Anggota aktif SIBAT Desa Terong.
- Relawan Korps Sukarela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai.
Teknis Penanaman dan Program Pembibitan Mandiri
Keberhasilan aksi hijau di lapangan didukung oleh perencanaan teknis yang matang demi menjamin tingkat keberhasilan tumbuh bibit. Penanaman difokuskan di sepanjang garis pantai sempadan dengan bentangan area mencapai sekitar 300 meter.
Jarak tanam antar-pohon diatur secara konsisten sejauh 6 meter. Pola jarak ini sangat penting guna memberikan ruang bagi perakaran mangrove untuk berkembang melebar secara maksimal. Karakteristik akar yang saling mengunci inilah yang nantinya akan bertindak sebagai pemecah ombak alami.
Hal yang paling membanggakan adalah asal-usul dari 50 bibit mangrove yang ditanam tersebut. Seluruh bibit merupakan produk lokal asli hasil dari program pembibitan mandiri yang dikembangkan oleh tim SIBAT Desa Terong sejak Maret 2026.
Aktivitas pembibitan ini dapat berjalan konsisten berkat sokongan penuh dari program ELECTRA Palang Merah Indonesia (PMI). Program ini didesain khusus untuk memperkuat kapasitas dan ketangguhan masyarakat lokal dalam memitigasi risiko bencana secara mandiri di wilayah rentan.
Apresiasi Pemerintah Desa: Potensi Transformasi Wisata Bahari
Kepala Desa Terong, Thodorikus Atong, memberikan apresiasi dan penghargaan tertinggi kepada seluruh tim relawan SIBAT serta masyarakat yang terlibat. Dirinya menegaskan bahwa gerakan pelestarian lingkungan seperti ini harus dijadikan role model bagi kawasan lain di Manggarai.
"Saya menyampaikan apresiasi dan profisiat kepada SIBAT Desa Terong beserta seluruh lintas sektor yang telah melaksanakan aksi peduli lingkungan ini. Kegiatan seperti ini menjadi contoh yang baik bagi generasi muda bahwa menjaga lingkungan harus dimulai dari tindakan nyata," tegas Thodorikus Atong.
Pemerintah Desa Terong melihat SIBAT bukan hanya sebagai tim relawan darurat, melainkan sebagai mitra strategis dalam pembangunan desa tangguh bencana. Lebih lanjut, Thodorikus memaparkan visi jangka panjang desa terkait penataan kawasan hutan bakau ini.
Jika hutan mangrove ini dirawat dengan konsisten, areanya berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan ekowisata atau wisata bahari berkelanjutan. Hal tersebut diyakini mampu menghidupkan sektor ekonomi kreatif warga sekaligus memberikan fungsi perlindungan ekologis yang seimbang.
Pandangan Aparat Keamanan Terhadap Strategi Mitigasi Bencana
Dukungan serupa juga disuarakan oleh jajaran aparat keamanan desa yang mengawal langsung jalannya kegiatan penanaman di pesisir. Bhabinkamtibmas Desa Terong, Arsel, menilai aksi penanaman pohon bakau ini sebagai bentuk investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya.
Bila pohon-pohon ini tumbuh subur, masyarakat akan mendapatkan perlindungan alam gratis dari risiko pengikisan tanah oleh air laut. Di sisi lain, hal ini juga membuka peluang kesejahteraan baru lewat jalur pariwisata berbasis lingkungan.
Dari sudut pandang pertahanan wilayah, Babinsa Desa Terong, Hafis, menyebut kegiatan ini sebagai pola mitigasi bencana berbasis masyarakat yang sangat ideal.
"Terima kasih kepada PMI melalui SIBAT Desa Terong yang telah menginisiasi kegiatan ini. Penanaman mangrove merupakan langkah nyata untuk mengurangi risiko bencana akibat gelombang pasang yang mengancam masyarakat pesisir," tandas Hafis.
Mewakili suara masyarakat terdampak, Ketua RT 001 Kampung Nanga Ramut, Junaidin, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas kepedulian para pihak. Warga mengaku sangat bahagia karena keselamatan dan kenyamanan pemukiman mereka mendapat perhatian serius. Junaidin berharap aksi serupa terus berlanjut dan menjadi agenda rutin di masa mendatang.
Menjaga Komitmen Pascaperawatan untuk Masa Depan
Aksi seremonial menanam pohon barulah sebuah awal dari perjalanan panjang restorasi ekosistem pesisir. Komandan SIBAT Desa Terong, Efrid Sony Supriapto, mengingatkan bahwa komitmen sesungguhnya justru diuji setelah proses penanaman selesai dilakukan.
Tantangan utama ke depan adalah memonitoring perkembangan bibit agar selamat dari hantaman arus pasang surut air laut. Tim SIBAT bersama warga telah menyusun jadwal pemeliharaan berkala guna memastikan tidak ada bibit yang mati tanpa tergantikan.
- Fase 1: Penanaman bibit mangrove hasil pembibitan mandiri.
- Fase 2: Pemasangan patok pelindung di sekitar area tanam baru.
- Fase 3: Pemantauan mingguan terhadap pertumbuhan daun dan akar.
- Fase 4: Penyulaman berkala jika ditemukan bibit yang rusak atau layu.
"Mangrove yang kita tanam hari ini adalah investasi untuk masa depan. Kami mengajak seluruh masyarakat agar bersama-sama menjaga dan merawat pohon-pohon ini sehingga dapat tumbuh subur, melindungi pesisir dari abrasi, menjaga ekosistem laut, serta memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang," ungkap Efrid Sony Supriapto.
Melalui aksi nyata ini, SIBAT Desa Terong kembali membuktikan kapasitasnya sebagai garda terdepan penanggulangan risiko bencana tingkat tapak di Kabupaten Manggarai. Semangat gotong royong yang tercipta antara warga, aparat, pemerintah, dan PMI menjadi modal sosial utama dalam membangun ketahanan wilayah yang berkelanjutan di era perubahan iklim.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi

Posting Komentar