Dari Bendera Setengah Tiang ke Ruang Digital, Pancasila Perlu Hadir Lebih Dekat dengan Gen Z
LINTAS86.com, LUMAJANG - Momentum 30 September dan 1 Oktober tidak seharusnya berhenti pada ritual pengibaran bendera Merah Putih. Peringatan sejarah ini perlu menjadi kesempatan untuk melihat kembali sejauh mana Pancasila benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat, terutama di tengah Generasi Z yang tumbuh bersama teknologi digital.
Hari ini, 30 September, masyarakat Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang. Besok, 1 Oktober, Merah Putih dikibarkan satu tiang penuh.
Di balik simbol tersebut ada pekerjaan yang jauh lebih besar, yakni bagaimana penghargaan terhadap Pahlawan Revolusi diterjemahkan menjadi kesadaran untuk mempertahankan dan mengamalkan nilai Pancasila.
Menghadirkan kembali Pancasila di ruang publik menjadi penting. Pancasila harus menjadi "meja statis" tempat seluruh elemen bangsa bersandar sekaligus "leitstar dinamis" yang memberikan arah bagi perjalanan bangsa.
Karena itu, pembicaraan mengenai Pancasila tidak semestinya hanya muncul pada momentum seremonial tertentu.
Kampus, sekolah, media massa, ruang kebudayaan, komunitas, hingga media sosial perlu menjadi tempat berlangsungnya percakapan mengenai bagaimana Pancasila dapat digunakan untuk merespons persoalan masyarakat.
Persoalan intoleransi, korupsi, perpecahan, hoaks, hingga perundungan di dunia maya menunjukkan bahwa nilai kebangsaan masih memiliki relevansi besar.
Gen Z Menghadapi Dunia yang Berbeda
Tantangan berikutnya muncul ketika Pancasila diperkenalkan kepada generasi yang hidup dalam lingkungan komunikasi yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Generasi milenial dan Generasi Z berhadapan dengan dunia digital yang borderless. Informasi dan beragam nilai global dapat mereka terima secara real-time melalui telepon pintar.
Mereka bisa mendapatkan informasi dari video pendek, media sosial, podcast, gim, musik, maupun berbagai platform digital lainnya.
Keadaan tersebut membutuhkan perubahan cara mengomunikasikan Pancasila.
Metode indoktrinasi satu arah semakin sulit dijadikan satu-satunya pendekatan. Generasi muda perlu memperoleh ruang untuk berdialog, bertanya, mengkritisi, dan menemukan hubungan antara nilai Pancasila dengan persoalan yang benar-benar mereka hadapi.
Persoalannya bukan mengubah Pancasila mengikuti tren. Nilai dasarnya tetap harus otentik. Cara penyampaiannya yang perlu mengikuti perkembangan zaman.
Analoginya seperti menyajikan makanan kepada generasi yang terbiasa dengan kemasan modern dan menarik. Isi dan nilai utamanya tidak berubah, tetapi penyajiannya disesuaikan dengan karakter khalayak.
Kompetisi Narasi Berlangsung di Layar Gawai
Ruang digital kini menjadi arena persaingan berbagai informasi dan narasi. Ide maupun pemikiran dari berbagai penjuru dunia hadir dalam bentuk visual yang semakin kreatif.
Apabila nilai Pancasila tidak ikut hadir dalam ruang tersebut dengan cara yang relevan, generasi muda dapat semakin jauh dari pembicaraan tentang nilai luhur bangsanya sendiri.
Karena itu, Pancasila perlu diterjemahkan melalui bahasa yang akrab dengan kehidupan digital.
Video pendek yang memperlihatkan toleransi antarteman di sekolah, misalnya, dapat membantu menghadirkan nilai Ketuhanan dan Persatuan melalui situasi yang mudah dikenali.
Demikian pula cerita tentang gotong royong, kemanusiaan, musyawarah, dan keadilan dapat dikembangkan menjadi film pendek, animasi, infografis, podcast, komik web, ataupun musik.
Komunikasi mengenai Pancasila perlu bergerak dari dominasi tekstual menuju visual dan interaktif serta dari instruksi satu arah menuju partisipasi.
Anak muda seharusnya tidak ditempatkan hanya sebagai penerima pesan. Mereka juga perlu diberikan kesempatan menjadi pencipta narasi kebangsaan.
Kompetisi film pendek, vlog, poster, maupun karya digital bertema Pancasila, misalnya, dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk menafsirkan nilai kebangsaan melalui kreativitas mereka.
Literasi Digital Bagian dari Pengamalan Pancasila
Kebutuhan lain yang tidak kalah penting adalah menghubungkan Pancasila dengan perilaku masyarakat di dunia maya.
Kampanye antihoaks dan antiperundungan siber (cyberbullying) dapat ditempatkan sebagai bagian dari pengamalan adab Pancasila dalam kehidupan digital.
Nilai Pancasila dengan demikian tidak hanya hadir dalam buku pelajaran. Nilai tersebut dipraktikkan ketika seseorang tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, menghargai perbedaan pendapat, tidak merendahkan orang lain, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Pengembangan gim dan aplikasi edukatif juga dapat menjadi salah satu jalan. Nilai mengenai kerja sama, musyawarah, strategi, dan semangat membangun bangsa dapat diperkenalkan melalui pengalaman interaktif yang lebih dekat dengan generasi muda.
Kolaborasi dengan content creator serta figur yang mempunyai kedekatan dengan anak muda juga dapat dilakukan untuk memperluas pesan positif mengenai kebangsaan.
Namun, substansi harus tetap menjadi perhatian. Jangan sampai aktualisasi Pancasila hanya menghasilkan slogan dan kemasan menarik tanpa pemahaman terhadap nilai yang ada di dalamnya.
Dari Mengenang Menuju Mengamalkan
Pada akhirnya, peringatan Pahlawan Revolusi mempunyai makna lebih besar apabila mampu menggerakkan masyarakat dari sekadar mengenang menuju mengamalkan.
Bendera setengah tiang menjadi tanda penghormatan. Bendera satu tiang penuh pada 1 Oktober menjadi pengingat bahwa perjalanan bangsa harus terus dilanjutkan.
Generasi milenial dan Generasi Z akan menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Mereka membutuhkan Pancasila yang tidak hanya dibicarakan, tetapi dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berada di dunia digital.
Pekerjaan kita bukan menjadikan Pancasila sekadar populer di media sosial, melainkan membuat nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan benar-benar dipahami serta dipraktikkan generasi berikutnya.
Dengan cara itulah penghormatan kepada Pahlawan Revolusi memperoleh makna yang lebih nyata. Sejarah menjadi pelajaran untuk menjalani masa kini sekaligus membangun masa depan.
Pesan Soekarno tetap relevan untuk direnungkan: "Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jasmerah)."
Sumber: Dr. Muchamad Taufiq, S.H., M.H. Akademisi ITB Widya Gama Lumajang, Pengajar MK. Pancasila, dan Pengurus APHTN HAN Jawa Timur.
Editor: Dr. Muchamad Taufiq, S.H., M.H.
Posting Komentar