Misteri Tas di Gladak Perak, Tim Gabungan Evakuasi Jasad Pria Misterius dari Jurang Besuk Kobokan
LINTAS86.com, LUMAJANG – Sebuah tas punggung tak bertuan yang tertinggal di tepi pembatas Jembatan Gladak Perak menjadi petunjuk awal penemuan jasad seorang pria tanpa identitas pada Senin malam, 13 Juli 2026.
Korban yang diduga kuat sebagai seorang pengembara atau musafir ini ditemukan meninggal dunia di dasar aliran Sungai Besuk Kobokan, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, setelah diduga kuat melakukan aksi nekat melompat dari atas jembatan penghubung utama jalur selatan Lumajang–Malang tersebut.
Aksi penyelamatan berjalan cukup menegangkan karena melibatkan sinergi dari Relawan Tim Siaga Rakyat (TSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lumajang, aparat TNI, Polri, serta warga sekitar. Insiden di kawasan Piket Nol ini seketika menyita perhatian besar dari masyarakat setempat dan para pelintas jalan yang memenuhi lokasi kejadian.
Misteri Barang Bawaan Korban di Atas Jembatan
Penemuan tubuh korban berawal dari kecurigaan para pengguna jalan yang melihat sebuah tas punggung berukuran sedang tergeletak di pinggir pembatas Jembatan Gladak Perak. Ketika dilakukan pengecekan bersama petugas keamanan, tidak ditemukan satu pun dokumen kependudukan resmi seperti KTP atau paspor di dalam tas tersebut. Petugas hanya mendapati beberapa lembar pakaian serta barang pribadi yang menguatkan indikasi bahwa pemiliknya merupakan seorang musafir.
Berangkat dari kecurigaan itu, warga berinisiatif mengarahkan pandangan ke arah dasar tebing curam yang mengarah ke jalur aliran Sungai Besuk Kobokan. Berhubung kedalaman jurang di bawah jembatan ikonik ini mencapai puluhan meter dan situasi di lokasi sudah gelap gulita, tanda-tanda keberadaan korban awalnya sulit dipantau secara visual. Setelah memastikan ada tubuh manusia tergeletak di dasar batu sungai, laporan kedaruratan segera diteruskan ke Polsek Candipuro dan markas PMI Kabupaten Lumajang
Relawan TSR PMI Hadapi Medan Ekstrem
Menanggapi laporan krusial tersebut, tim rescue TSR PMI Kabupaten Lumajang segera dikerahkan ke area sungai. Wilayah di bawah kaki Gladak Perak dikenal memiliki karakteristik geografis yang sangat berbahaya berupa tebing curam, batuan sungai yang besar, serta merupakan jalur perlintasan aktif aliran banjir lahar dingin Gunung Semeru. Tantangan semakin berat akibat pekatnya malam yang membatasi jarak pandang personel rescue.
Pengurus PMI Kabupaten Lumajang Bidang Hubungan Masyarakat, Dra. Iswarini Jamilah, mengonfirmasi jalannya proses pengangkatan jenazah yang memakan waktu berjam-jam ini.
"Kami menerima laporan mengenai adanya seorang pria yang diduga terjatuh atau melompat dari Jembatan Gladak Perak ke arah aliran Besuk Kobokan," urai Iswarini Jamilah dalam pernyataan resminya.
Medan di bawah Gladak Perak memang terkenal cukup sulit, sangat curam, dan dipenuhi batuan material sungai. Kondisi gelap di malam hari juga menjadi tantangan tersendiri bagi pergerakan tim rescue di lapangan. Namun, berkat kesigapan penuh para relawan TSR PMI bersama sinergi erat dari jajaran TNI, Polri, serta potensi relawan lokal lainnya, jasad korban akhirnya berhasil kami evakuasi dan diangkat ke atas permukaan dalam kondisi utuh menggunakan peralatan tandu darurat.
Pergerakan evakuasi harus dilakukan dengan kalkulasi matang demi melindungi keselamatan para personel rescue dari risiko tanah longsoran tebing serta untuk menjaga kondisi fisik jenazah agar tetap utuh saat dipindahkan ke mobil ambulans.
Identifikasi Sidik Jari di RSUD Lumajang
Seusai diangkat ke bibir jembatan, jenazah korban langsung dimasukkan ke dalam unit ambulans milik Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Candipuro. Di bawah pengawalan ketat polisi, jasad pria tanpa identitas tersebut dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dokter Haryoto Lumajang guna mendapatkan penanganan medis lebih lanjut berupa visum et repertum.
Langkah forensik di rumah sakit ini menjadi penentu utama dalam mengungkap identitas asli sang musafir lantaran tidak adanya dokumen pengenal di lokasi. Tim Inafis Polres Lumajang juga diturunkan guna mendeteksi identitas melalui alat pemindai sidik jari, sekaligus memperkirakan rentang usia korban serta memeriksa total trauma benturan akibat jatuh dari ketinggian.
Kemacetan Jalur Selatan dan Penyelidikan Lanjutan
Peristiwa dramatis ini memicu kemacetan arus lalu lintas di sepanjang jalur penghubung utama Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. Antrean kendaraan terjadi lantaran banyak pengemudi yang berhenti untuk melihat proses evakuasi yang mengandalkan sorotan lampu senter dari dasar jurang. Guna mengurai kemacetan, personel Polsek Candipuro memberlakukan sistem buka-tutup jalur secara berkala bagi kendaraan umum.
Hingga saat ini, jajaran Satreskrim Polres Lumajang masih melakukan investigasi mendalam untuk memastikan motif asli dari dugaan aksi bunuh diri ini. Pihak kepolisian mengamankan tas punggung korban sebagai barang bukti kunci, sembari memeriksa apakah ada catatan tertulis atau petunjuk telepon di dalam barang bawaannya.
Polisi mengimbau bagi masyarakat luas yang merasa kehilangan anggota keluarga pria dengan karakteristik perjalanan musafir untuk segera melapor ke kantor polisi terdekat atau mengonfirmasi langsung ke ruang jenazah RSUD Lumajang.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi

Posting Komentar