Perspektif Hukum Internasional: Josef Nae Soi Dorong Mahasiswa UKSW Pahami Dinamika Geopolitik


LINTAS86.comSALATIGA — Di tengah hangatnya isu geopolitik internasional yang semakin dinamis, Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga mengadakan Studium Generale (Kuliah Umum) pada tanggal 27 Juli 2026. Acara akademik ini dibuka secara resmi oleh Rektor UKSW, Prof. Dr. Intiyas Utami, S.E., M.Si., Ak. Dengan menghadirkan praktisi hukum dan politik Dr. Drs. Josef A. Nae Soi, M.M., kegiatan ini mengusung tema “Urgensi Perlindungan Kedaulatan Negara Menurut Hukum Internasional (Suatu Harapan dan Perjuangan)” yang diselenggarakan di Gedung F, UKSW.

Ketika membuka kuliah umum ini, Rektor UKSW mengajak para mahasiswa untuk menyimak dan berpartisipasi aktif dalam kuliah umum yang akan disampaikan oleh narasumber.


"Ini kesempatan yang istimewa karena menghadirkan seorang narasumber yang sangat kapabel dengan latar belakang akademisi dan praktisi dengan pengalaman panjang baik di level lokal, nasional maupun internasional," ujar Prof. Intiyas.


Rektor UKSW menekankan pentingnya kegiatan ini agar mahasiswa bisa memperkaya pemahamannya tentang geopolitik global dengan sharing pengalaman yang sangat kaya dari narasumber yang memiliki latar belakang sebagai akademisi, politisi Senayan, Wakil Gubernur NTT Periode 2018–2023, hingga kini menjabat sebagai salah satu Wakil Sekretaris IKAL-LEMHANAS Pusat.

Hegemoni Kekuasaan dan Tantangan Tatanan Global

Josef Nae Soi memulai pemaparannya dengan mengedepankan diskursus tentang rivalitas kekuatan politik unipolar versus multipolar. Terdapat dua kecenderungan utama akhir-akhir ini, yakni hegemoni kekuasaan oleh satu negara melawan kekuatan beberapa negara besar lainnya, serta pergeseran dari satu negara adidaya menjadi beberapa negara adidaya yang berbagi pengaruh baik dalam bidang militer maupun ekonomi. Pergeseran geopolitik yang sangat dinamis ini berdampak langsung pada perubahan lanskap global, di mana dunia dihadapkan pada konflik bersenjata berkepanjangan, perang dagang yang keras, perubahan iklim meluas, dan disrupsi teknologi.

Lebih lanjut disebutkan bahwa rapuhnya tatanan dunia ini disebabkan oleh melemahnya kepatuhan terhadap Piagam PBB, meningkatnya eskalasi konflik bersenjata, penerapan hukum internasional secara selektif oleh negara besar, serta persoalan privilege hak veto yang dimiliki oleh beberapa negara tertentu.


"Isu-isu ini penting untuk dieksplorasi lebih lanjut oleh para mahasiswa dan akademisi sebagai generasi muda dalam mempertahankan kedaulatan negara dan bisa memposisikan kedaulatan itu di tengah rivalitas global," ungkap Mantan Wakil Gubernur NTT periode 2018–2023 ini.


Penegakan Hukum Internasional dan Konsep Tata Negara

Sehubungan dengan konflik bersenjata di mana pun, Josef menegaskan pentingnya penegakkan hukum internasional, baik menyangkut hukum humaniter maupun hak asasi manusia. Kedua aspek ini sama-sama bertujuan melindungi hak hidup manusia; hukum humaniter berlaku dalam situasi konflik bersenjata untuk melindungi nonkombatan dan warga sipil, sedangkan hukum HAM berlaku dalam segala situasi, baik pada masa damai maupun perang. Ia menambahkan bahwa prinsip ius ad bellum (legitimasi perang) dan ius in bello (aturan dalam perang) merupakan dua hal penting dalam hukum perang internasional.

Dalam konteks hukum tata negara khususnya di Indonesia, Josef menjelaskan terdapat dua konsep tata negara yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kekuasaan absolut, yaitu scheiding van machten (pembagian kekuasaan) dan spreiding van machten (pemencaran kekuasaan atau desentralisasi). Hal ini menjadi salah satu isu penting kekinian di Indonesia, di mana masyarakat perlu mencermati dimensi ideal, realitas, dan fleksibilitas agar kedaulatan serta kesatuan negara tetap lestari di tengah arus globalisasi.

Mengakhiri kuliah umumnya, Dr. Drs. Josef A. Nae Soi, M.M., berpesan kepada para audiens bahwa segala perkembangan zaman terus berubah dengan cepat dan teknologi terus berkembang, tetapi satu hal yang tetap adalah bonum commune est suprema lex, salus populi suprema lex esto (kebaikan bersama adalah hukum tertinggi, keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi). Para mahasiswa diharapkan terus berinovasi dan membekali diri untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan dengan prinsip keteladanan, yaitu verba movent, exempla trahunt atau verba docent exempla trahunt (kata-kata menggerakkan, teladan menarik/membujuk). Kegiatan kuliah umum ini diikuti oleh perwakilan Mahasiswa Hukum UKSW dengan antusias dan partisipasi aktif dalam diskusi terkait kondisi geopolitik saat ini.


Penulis: Adrian Jr
Editor: Redaksi
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Perspektif Hukum Internasional: Josef Nae Soi Dorong Mahasiswa UKSW Pahami Dinamika Geopolitik
  • Perspektif Hukum Internasional: Josef Nae Soi Dorong Mahasiswa UKSW Pahami Dinamika Geopolitik
  • Perspektif Hukum Internasional: Josef Nae Soi Dorong Mahasiswa UKSW Pahami Dinamika Geopolitik
  • Perspektif Hukum Internasional: Josef Nae Soi Dorong Mahasiswa UKSW Pahami Dinamika Geopolitik
  • Perspektif Hukum Internasional: Josef Nae Soi Dorong Mahasiswa UKSW Pahami Dinamika Geopolitik
  • Perspektif Hukum Internasional: Josef Nae Soi Dorong Mahasiswa UKSW Pahami Dinamika Geopolitik

Posting Komentar