Dari Pelayanan Kesehatan hingga Air Bersih, PMI Perkuat Respons Kemanusiaan di Flores
LINTAS86.com, Manggarai - Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat menjadi salah satu fokus Palang Merah Indonesia (PMI) dalam memperkuat respons kemanusiaan di sejumlah wilayah terdampak bencana di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Selain memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan, PMI juga melakukan asesmen terhadap kebutuhan air bersih dan sanitasi masyarakat.
Upaya tersebut terlihat dalam kunjungan Tim Kesehatan dan Water, Sanitation and Hygiene (WASH) PMI ke Dusun Nggorang, Desa Bajak, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Minggu (23/8/2026).
Kunjungan Tim PMI dilakukan untuk melihat secara langsung sumber air yang direncanakan akan digunakan sebagai bahan baku dalam proses pengolahan air bersih menggunakan Water Treatment Plant (WTP).
Kehadiran tim di lokasi juga menjadi bagian dari asesmen yang dilakukan PMI untuk memastikan respons terhadap kebutuhan masyarakat benar-benar berdasarkan kondisi lapangan. Tim melihat kondisi sumber air, potensi pemanfaatannya, serta melakukan koordinasi dengan masyarakat setempat.
Ketua Bidang Kesehatan dan Sosial PMI Pusat, Prof. Dr. dr. Fachmi Idris, M.Kes., yang memimpin langsung tim beranggotakan lima orang tersebut, mengatakan kunjungan ke Manggarai memiliki dua fokus utama, yakni memastikan pelayanan kesehatan berjalan dengan baik dan melihat langsung potensi sumber air untuk mendukung kebutuhan masyarakat.
Prof. Fachmi menjelaskan pelayanan kesehatan di wilayah tersebut telah berjalan sejak 17 Agustus 2026. Pelayanan tersebut merupakan bagian dari respons PMI terhadap kondisi masyarakat terdampak bencana.
“Monitor pelayanan kesehatan yang sudah eksis di sini sejak tanggal 17 Agustus 2026 sampai hari ini diperintahkan langsung oleh Ketua Umum Palang Merah Indonesia untuk memperbaiki pola kesehatan dengan mengirimkan tenaga dokter spesialis Ortopedi dan Traumatologi,” ungkap Prof. Fachmi.
Menurutnya, penguatan pelayanan kesehatan dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai pihak. PMI juga berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan lembaga terkait lainnya untuk memastikan dukungan tenaga kesehatan dapat berjalan secara efektif.
“Kita sudah koordinasi dengan Kementerian Kesehatan khususnya untuk lebih ke arah turnover tenaga spesialis ortopedi yang ada di sini dan berbagai lembaga, kemudian rumah sakit PMI ikut berkoordinasi di dalamnya,” jelasnya.
Namun, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan dasar lainnya. Salah satunya adalah ketersediaan air bersih.
Air bersih menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan masyarakat, khususnya di lokasi yang mengalami dampak bencana dan pengungsian. Keterbatasan air bersih dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan dan sanitasi.
Karena itu, PMI juga melakukan asesmen terhadap sumber air yang dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan masyarakat.
“Kemudian dalam konteks yang kedua, ketersediaan air bersih, Bapak Ketua Umum juga sudah memberikan perintah untuk ketersediaan air bersih yang dipersiapkan dengan baik,” ujar Prof. Fachmi.
Ia mengatakan dirinya sengaja datang langsung ke lokasi sumber air untuk melihat kondisi lapangan dan memastikan potensi sumber air tersebut sebelum WTP disiapkan.
“Saya sudah bertemu dengan Pak Nyoman, spesialis WASH, makanya saya ingin melihat langsung di mana sumber airnya untuk water treatment yang akan disediakan,” katanya.
Sumber air yang menjadi perhatian PMI berada di wilayah Dusun Nggorang, Desa Bajak. Selama ini, sumber air yang berasal dari Kali Wae Pesi telah dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk memenuhi sejumlah kebutuhan.
Martinus Eda, salah seorang masyarakat setempat sekaligus anggota Tim Siaga Berbasis Masyarakat (SIBAT) Desa Bajak, mengatakan bahwa dirinya telah lama menggunakan sumber air tersebut.
“Saya sudah lama menggunakan air ini untuk mandi, cuci dan menyiram tanaman,” jelas Martinus.
Dalam aktivitas sehari-hari, Martinus memanfaatkan mesin pompa sederhana untuk mengambil air dari sumber tersebut. Selain digunakan untuk mandi dan mencuci, air juga digunakan untuk menyiram tanaman hortikultura yang sedang dikembangkannya.
Pengalaman masyarakat dalam memanfaatkan sumber air tersebut menjadi salah satu informasi yang penting bagi Tim WASH PMI. Pengetahuan lokal mengenai kondisi sumber air dapat menjadi masukan dalam proses asesmen teknis.
Tim PMI selanjutnya melakukan peninjauan terhadap kualitas dan kuantitas sumber air serta kemungkinan pemanfaatannya untuk pengolahan air bersih.
Prof. Fachmi mengatakan kebutuhan air bersih di wilayah terdampak telah menjadi perhatian berdasarkan laporan hasil asesmen yang dilakukan sebelumnya.
“Berdasarkan laporan teman-teman asesmen di lapangan bahwa kebutuhan air bersih itu juga penting, tujuan kedua ke sini yaitu untuk melihat sumber air,” ungkapnya.
Setelah melihat kondisi sumber air secara langsung, Prof. Fachmi menilai sumber tersebut memiliki potensi yang baik untuk dimanfaatkan.
“Saya melihat sumbernya bagus dan pemanfaatannya sangat penting,” ujarnya.
Rencana pemanfaatan sumber air melalui Water Treatment Plant menjadi salah satu langkah PMI dalam mendukung pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. WTP nantinya diharapkan dapat membantu mengolah sumber air sehingga menjadi air yang lebih aman dan layak digunakan sesuai hasil kajian dan standar teknis yang berlaku.
Bagi PMI, pemenuhan air bersih merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari respons kemanusiaan. Pelayanan WASH bertujuan mendukung masyarakat agar tetap memiliki akses terhadap air, sanitasi, dan kebersihan selama berada dalam situasi darurat.
Ketersediaan air juga memiliki kaitan langsung dengan pelayanan kesehatan. Masyarakat membutuhkan air untuk minum, membersihkan diri, mencuci, membersihkan lingkungan, serta berbagai kebutuhan lainnya.
Dalam kondisi bencana, kebutuhan tersebut dapat meningkat sementara akses terhadap sumber air yang aman bisa terganggu. Karena itu, asesmen WASH diperlukan untuk menentukan sumber air yang potensial, kebutuhan sarana pengolahan, serta pola distribusi yang sesuai.
Tim PMI tidak hanya melihat sumber air dari sisi keberadaannya, tetapi juga mempertimbangkan aspek teknis dan keamanan sebelum air tersebut dimanfaatkan secara lebih luas.
Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Warga setempat memiliki pengetahuan mengenai sumber air, kondisi lingkungan, pola pemanfaatan, serta perubahan yang terjadi di wilayah mereka.
Sementara itu, anggota SIBAT seperti Martinus dapat menjadi penghubung antara masyarakat dan tim PMI. Keberadaan SIBAT membantu memperkuat komunikasi di tingkat masyarakat serta mendukung berbagai kegiatan kesiapsiagaan dan respons bencana.
Respons PMI di Manggarai juga menjadi bagian dari upaya yang lebih luas di Pulau Flores. Tim asesmen WASH PMI dijadwalkan mengunjungi tujuh kabupaten terdampak, mulai dari Manggarai Barat hingga Sikka.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk mendukung respons PMI Provinsi NTT bersama tujuh PMI kabupaten di Flores. Setiap wilayah akan dilihat berdasarkan kondisi dan kebutuhan yang ada, sehingga dukungan yang diberikan dapat disesuaikan dengan situasi masing-masing daerah.
Pendekatan berbasis asesmen tersebut penting agar bantuan yang diberikan tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran. Informasi yang diperoleh dari lapangan akan menjadi bahan dalam menentukan prioritas intervensi WASH.
Di sisi lain, koordinasi lintas sektor tetap menjadi bagian penting dalam respons PMI. Pelayanan kesehatan membutuhkan dukungan berbagai pihak, begitu pula pemenuhan kebutuhan air bersih.
PMI berupaya menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan kapasitas yang dimiliki, baik melalui tenaga kesehatan, relawan, tenaga spesialis, tim WASH, maupun sarana pendukung lainnya.
Dalam situasi bencana, pelayanan kemanusiaan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja sama antara masyarakat, pemerintah, lembaga kemanusiaan, tenaga kesehatan, relawan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Kunjungan Prof. Fachmi bersama Tim Kesehatan dan WASH PMI ke Desa Bajak menjadi gambaran bagaimana respons tersebut dilakukan secara terpadu. Pelayanan kesehatan berjalan bersamaan dengan upaya memastikan kebutuhan air bersih dapat dipenuhi.
PMI juga menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses respons. Informasi dari warga digunakan untuk memahami kebutuhan dan potensi lokal, sementara tim teknis melakukan kajian untuk memastikan intervensi yang direncanakan dapat dilakukan dengan aman.
Bagi masyarakat yang terdampak bencana, hadirnya layanan kesehatan dan akses terhadap air bersih diharapkan dapat memberikan rasa aman sekaligus mengurangi risiko masalah kesehatan.
Kebutuhan air bersih juga menjadi bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan di lokasi pengungsian. Dengan akses air yang memadai, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan perilaku hidup bersih dan sehat di tengah kondisi darurat.
PMI menegaskan komitmennya untuk terus memberikan pelayanan kemanusiaan secara cepat dan terpadu. Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk air bersih, menjadi bagian dari prioritas respons di wilayah terdampak.
Asesmen yang dilakukan di Desa Bajak juga diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kebutuhan WASH di wilayah tersebut. Jika sumber air dinilai memenuhi persyaratan berdasarkan kajian teknis, pengolahan menggunakan WTP dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Tim WASH PMI akan terus bergerak melakukan asesmen ke wilayah lain di Flores. Dari Manggarai Barat hingga Sikka, kebutuhan masyarakat akan dipetakan sebagai bagian dari penguatan respons PMI di NTT.
Melalui sinergi antara Tim Kesehatan, WASH, relawan, SIBAT, masyarakat, serta berbagai pihak terkait, PMI berupaya memastikan respons kemanusiaan tidak berhenti pada penanganan awal, tetapi terus berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.
Kunjungan ke sumber air Kali Wae Pesi menjadi salah satu langkah konkret dalam upaya tersebut. Di tengah situasi bencana, memastikan tersedianya air yang aman merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan, kebersihan, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat terdampak.
Dengan pendekatan yang berbasis data, asesmen lapangan, koordinasi, dan keterlibatan masyarakat, PMI terus memperkuat pelayanan kemanusiaan di Flores dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat menjadi bagian utama dalam setiap langkah respons bencana.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi
Posting Komentar