Dari Ruang Praktik ke Runway JFW 2026, Murid SMKN 2 Ponorogo Jalani Proses Kreatif Layaknya Industri
Dua talenta muda dari Konsentrasi Keahlian Desain dan Produksi Busana (DPB), Revi Liani Putri dan Shahbikha Najma Syakieb, tampil membawa nama SMK Negeri 2 Ponorogo dalam ajang tersebut.
Keenam koleksi yang ditampilkan mengangkat tema “Resonansi Wastra Nusantara: Heritage in Motion”. Koleksi tersebut terdiri atas Genesis, Harmony, Transformation, Empower, Sustain, dan Resonance.
Tema tersebut berangkat dari gagasan untuk mempertemukan warisan budaya Nusantara dengan kreativitas generasi muda. Murid menjadikan motif batik Ponorogo dan wastra Nusantara sebagai salah satu sumber inspirasi. Unsur seni budaya Reog Ponorogo, siluet busana modern, serta konsep sustainable fashion juga hadir dalam proses penciptaan koleksi.
Bagi sekolah, perjalanan menuju JFW 2026 menjadi bagian penting dari pembelajaran vokasi. Murid mendapatkan kesempatan untuk menjalani tahapan kerja yang mendekati proses di industri fashion, bukan hanya menerima materi tentang desain busana di ruang kelas.
Proses tersebut dimulai dari riset. Murid menggali berbagai kemungkinan ide, melihat tren, mempelajari sumber inspirasi, kemudian menentukan konsep yang akan dikembangkan menjadi koleksi.
Setelah konsep ditetapkan, pekerjaan berlanjut pada pembuatan desain dan pola. Ide yang sebelumnya masih berada dalam bentuk gagasan harus diterjemahkan menjadi rancangan yang dapat diwujudkan secara nyata.
Tahap produksi kemudian menjadi bagian berikutnya. Ketelitian menjadi salah satu hal yang penting karena rancangan yang baik tetap membutuhkan pengerjaan yang terukur agar dapat menghasilkan busana sesuai konsep.
Setelah busana selesai dibuat, proses belum berhenti. Fitting dan evaluasi dilakukan untuk memastikan karya benar-benar siap ditampilkan. Pada tahap ini, murid kembali berhadapan dengan detail teknis sekaligus kebutuhan penampilan di atas runway.
Kepala SMK Negeri 2 Ponorogo Suryanto, M.Pd., mengatakan pengalaman semacam itu dibutuhkan untuk membangun kemampuan dan karakter profesional peserta didik.
“Kami ingin peserta didik tidak hanya mampu membuat karya, tetapi juga memiliki pengalaman bagaimana sebuah karya dipersiapkan, dipresentasikan, dan diapresiasi dalam lingkungan industri. Tampil di Jogja Fashion Week menjadi pengalaman berharga untuk membangun kepercayaan diri, kreativitas, profesionalisme, dan daya saing mereka,” ujarnya.
Menurut Suryanto, proses yang dijalani murid menunjukkan bahwa pembelajaran vokasi dapat mengintegrasikan berbagai kemampuan sekaligus. Kreativitas tidak dipisahkan dari budaya. Keterampilan teknis juga dapat berjalan bersama teknologi dan kewirausahaan.
Penerapan Project Based Learning dan Teaching Factory di SMK Negeri 2 Ponorogo menjadi salah satu pendekatan yang mendukung proses tersebut.
Dalam pembelajaran berbasis proyek, murid memiliki kesempatan untuk bekerja dengan tujuan dan hasil yang jelas. Sementara melalui Teaching Factory, pola kerja diarahkan agar semakin mendekati situasi industri.
Murid belajar menerima proyek, menyusun jadwal, memperhitungkan kebutuhan bahan, menjaga kualitas produk, dan menyiapkan hasil pekerjaan untuk dipresentasikan.
Proses seperti itu memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan sekadar menyelesaikan tugas praktik. Murid belajar bahwa pekerjaan di bidang fashion membutuhkan perencanaan sejak awal hingga karya benar-benar diterima dan dapat dilihat oleh orang lain.
Waka Humas SMK Negeri 2 Ponorogo Tarmin, S.Kom., menyebut keikutsertaan dalam JFW 2026 juga mempunyai arti penting dari sisi pengembangan portofolio murid dan jejaring sekolah.
“Ini bukan sekadar tampil di panggung fashion. Kami melihatnya sebagai bagian dari proses membangun portofolio dan jejaring peserta didik sekaligus memperkuat citra SMK Negeri 2 Ponorogo sebagai sekolah vokasi yang kreatif, inovatif, dan mampu melahirkan karya yang memiliki nilai budaya serta potensi industri,” katanya.
Bagi murid, sebuah kesempatan tampil dalam ajang nasional dapat menjadi bagian dari portofolio yang menunjukkan kemampuan mereka. Pengalaman tersebut juga membuka kesempatan untuk mengenal dunia fashion secara lebih dekat, termasuk tuntutan yang muncul ketika karya harus dipresentasikan di hadapan publik.
Menurut Tarmin, kesempatan tersebut memberikan pengalaman bagi murid untuk mengenal ekosistem industri fashion secara lebih dekat serta memahami tuntutan dan standar profesional di luar lingkungan sekolah.
Hal itu penting karena lulusan pendidikan vokasi diharapkan tidak hanya menguasai keterampilan teknis. Mereka juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi, bekerja secara terencana, menyelesaikan pekerjaan sesuai target, serta memiliki kepercayaan diri untuk menunjukkan hasil karyanya.
Ketua Konsentrasi Keahlian Desain dan Produksi Busana Nila Mawarti, S.Pd., melihat proses persiapan menuju JFW 2026 sebagai pengalaman belajar yang komprehensif.
“Anak-anak belajar dari proses awal, mulai dari menggali ide, melakukan riset, menentukan konsep, membuat desain dan pola, memproduksi busana, melakukan fitting dan evaluasi, sampai mempersiapkan karya untuk ditampilkan di runway,” jelasnya.
Menurut Nila, rangkaian proses tersebut dapat menjadi bekal bagi murid untuk menghadapi dua pilihan setelah menyelesaikan pendidikan. Mereka dapat menggunakan keterampilan tersebut untuk memasuki dunia kerja ataupun mengembangkannya menjadi usaha di bidang fashion.
Pembelajaran melalui Teaching Factory juga membuat murid terbiasa memahami pekerjaan secara lebih utuh. Mereka tidak hanya memikirkan bentuk akhir busana, tetapi juga mempertimbangkan bahan, waktu pengerjaan, kualitas, serta cara karya tersebut dipresentasikan.
Dari proses tersebut, enam koleksi kemudian dipersiapkan untuk tampil dalam Young Talent Fashion Showcase JFW 2026.
Genesis, Harmony, Transformation, Empower, Sustain, dan Resonance menjadi representasi gagasan murid dalam mengolah tema “Resonansi Wastra Nusantara: Heritage in Motion”.
Karya-karya tersebut berangkat dari kekayaan budaya yang dekat dengan identitas Ponorogo dan Indonesia. Motif batik Ponorogo dan wastra Nusantara menjadi sumber inspirasi, sementara unsur Reog Ponorogo memperkuat identitas daerah dalam koleksi.
Pada saat yang sama, murid tidak berhenti pada pendekatan tradisional. Siluet busana modern dan konsep sustainable fashion digunakan untuk memberikan arah yang lebih relevan dengan perkembangan fashion saat ini.
Pertemuan antara warisan budaya dan pendekatan modern tersebut menjadi salah satu kekuatan karya yang dibawa ke JFW 2026. Budaya diposisikan bukan sebagai sesuatu yang hanya berada di masa lalu, tetapi sebagai sumber gagasan yang dapat terus dikembangkan.
Bagi SMK Negeri 2 Ponorogo, pengalaman tampil di panggung nasional juga menjadi evaluasi terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan di sekolah.
Sebuah karya yang akhirnya terlihat di runway membawa proses panjang yang melibatkan ide, keterampilan, ketelitian, evaluasi, dan keberanian untuk tampil. Karena itu, pengalaman tersebut memiliki nilai pembelajaran yang lebih luas bagi murid.
JFW 2026 juga mempertemukan karya murid SMK Negeri 2 Ponorogo dengan talenta-talenta muda dari berbagai daerah di Indonesia. Situasi tersebut memberi kesempatan bagi murid untuk melihat karya lain, memperluas wawasan, sekaligus memahami bahwa dunia fashion memiliki ruang yang luas bagi kreativitas generasi muda.
Bagi sekolah, pengalaman tersebut dapat menjadi pijakan untuk terus mengembangkan pembelajaran yang terhubung dengan kebutuhan dunia industri.
Panggung JFW 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang enam koleksi yang tampil. Di balik Genesis, Harmony, Transformation, Empower, Sustain, dan Resonance terdapat proses belajar yang mempertemukan budaya, kreativitas, keterampilan, dan pengalaman kerja.
Dari Ponorogo, murid SMK Negeri 2 Ponorogo membawa gagasan tentang wastra Nusantara ke panggung nasional. Melalui karya tersebut, mereka menunjukkan bahwa pendidikan vokasi dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas sekaligus menjaga kedekatan dengan budaya daerah.
Lewat “Resonansi Wastra Nusantara: Heritage in Motion”, karya murid SMK Negeri 2 Ponorogo menjadi gambaran bahwa warisan budaya dapat terus bergerak. Ketika dipadukan dengan inovasi dan keberanian generasi muda, budaya lokal dapat menemukan bentuk baru dan tetap mempunyai peluang untuk berkembang di tengah industri fashion yang terus berubah.


Posting Komentar