Dukungan Psikososial Kembalikan Keceriaan Anak Korban Gempa di Manggarai
Aktivitas harian diawali dengan mengumpulkan seluruh anak untuk melakukan kegiatan baris-berbaris di lapangan terbuka area pengungsian. Setelah itu, para fasilitator membagi seluruh peserta menjadi tujuh tim kerja yang lebih kecil guna memastikan pendampingan berjalan optimal dan personal. Langkah berikutnya adalah melakukan proses absensi secara presisi terhadap seratus tiga anak yang hadir, sebelum akhirnya mereka diarahkan ke berbagai jenis permainan edukatif yang telah disiapkan oleh tim.
Jenis permainan disesuaikan dengan tingkat usia peserta, seperti memanipulasi media plastisin untuk melatih motorik halus anak usia dini, aktivitas menggambar bebas, menyanyikan lagu-lagu penyemangat, serta rangkaian permainan ice breaking yang dinamis.
Di tengah situasi sekolah yang lumpuh total sejak hari pertama bencana, para relawan berupaya keras agar fungsi edukasi dan pemberian layanan psikososial support tetap berjalan bagi generasi muda di pengungsian.
"Kami berkolaborasi bersama dengan DPPPA dan PMI bersama-sama melakukan layanan psikososial dan psikososial support dari 1 tahun hingga SMP kelas 3. Awalnya kita baris-berbaris, kemudian dibagi menjadi 7 tim, setelah itu melakukan absensi kepada 103 anak-anak, lalu melakukan permainan berdasarkan umur mereka masing-masing seperti bermain plastisin, menggambar, menyanyi dan ice breaking lainnya," ungkap perwakilan Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang bertugas di lokasi pengungsian.
Meskipun materi yang diajarkan tidak mengacu pada kurikulum nasional yang kaku, muatan edukasi yang diberikan sangat kontekstual dan krusial bagi perlindungan anak. Tim memberikan pengetahuan esensial mengenai ilmu kebencanaan, terutama taktik menyelamatkan diri saat guncangan gempa bumi kembali melanda. Selain itu, anak-anak juga dibekali pemahaman protektif mengenai pencegahan kekerasan seksual serta kampanye anti-perundungan atau bullying di lingkungan sosial yang rentan.
"Harapannya anak-anak tetap mendapatkan kegiatan belajar mengajar meski tidak sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Kita memberikan edukasi berupa ilmu kebencanaan yaitu bagaimana cara melindungi diri dari gempa, kekerasan seksual, bullying dan ide-ide lainnya. Kita tidak tau kapan bencana ini berakhir, tapi dengan adanya aktivitas ini anak-anak berhak mendapatkan haknya," tambahnya menegaskan urgensi pemenuhan hak anak di tengah situasi krisis kemanusiaan.
Pada puncak rangkaian kegiatan di sore hari, atmosfer pengungsian dipenuhi oleh riuh keceriaan saat diadakan simulasi singkat penyelamatan diri dari bencana gempa bumi. Simulasi praktis ini dipandu langsung oleh personel Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai dengan mengadopsi format permainan berkelompok agar anak-anak tidak merasa tertekan saat mempraktikkan prosedur keselamatan.
Anak-anak diajarkan secara langsung cara melindungi kepala menggunakan tangan atau barang di sekitar, serta mencari tempat berlindung yang aman dari reruntuhan.
"Dalam permainan edukasi ini memiliki pesan yang sangat bermakna yaitu, bagaimana cara melindungi diri saat gempa bumi berlangsung," pungkas Edho Gabut selaku fasilitator simulasi dari PMI Kabupaten Manggarai saat menutup sesi latihan sore itu.
Rangkaian intervensi psikososial support ini diharapkan mampu membimbing anak-anak melewati fase transisi yang sulit pascabencana. Dengan mengembalikan keceriaan dan memberikan bekal pengetahuan mitigasi, anak-anak diharapkan dapat menatap masa depan dengan lebih tenang, berani, serta penuh dengan harapan baru. Seluruh elemen masyarakat menyambut baik inisiatif edukatif ini karena mampu memberikan alternatif kegiatan berfaedah di kala situasi serba terbatas. Dukungan penuh dari orang tua menjadi energi tambahan bagi para relawan gabungan untuk terus berinovasi menyajikan program psikososial support terbaik demi masa depan generasi penerus bangsa.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi

Posting Komentar