Wujudkan Tenda Pengungsian Aman dan Ramah, Masyarakat Korban Bencana Manggarai Dampingi Pemulihan Traumatis Perempuan dan Anak



LINTAS86.comMANGGARAI – Pemulihan pasca-gempa susulan yang mengguncang Pulau Flores tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, melainkan juga pada ketahanan jiwa masyarakatnya. Menyadari tingginya risiko sosial di lokasi pengungsian, elemen masyarakat bersama jajaran dinas terkait kini bersinergi untuk memperkuat pelindungan terhadap kelompok rentan. Fokus utama diarahkan pada penciptaan lingkungan yang aman dari eksploitasi, penyalahgunaan, serta pelecehan terhadap perempuan dan anak-anak selama berada di posko darurat.
Langkah preventif ini diwujudkan melalui penyediaan layanan psikososial dan trauma healing yang terintegrasi langsung di dalam tenda-tenda pengungsian Kabupaten Manggarai. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Palang Merah Indonesia Kabupaten Manggarai guna memastikan seluruh hak dasar dan keamanan psikis korban bencana terpenuhi secara adil dan merata.
Di sela-sela diskusi lapangan, Ibu Yuliana Rosna, S.Psi. dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Manggarai menjelaskan bahwa kolaborasi multisektor dalam situasi krisis sangat vital untuk melindungi warga yang paling rentan kehilangan hak-haknya saat bencana melanda.
"Bentuk kolaborasinya yaitu pendataan, perlindungan, kesehatan, layanan psikososial, pemulihan, posko yang ramah perempuan dan anak, layanan healing trauma bagi korban bencana," urai Yuliana secara rinci mengenai bentuk pelayanan publik yang diberikan.
Tujuan utama dari sinergi ini adalah mewujudkan pelayanan kemanusiaan yang aman, cepat, dan terpadu dengan selalu mengedepankan kepentingan terbaik bagi perempuan, anak-anak, serta kelompok rentan lainnya di dalam komunitas masyarakat Manggarai. 
"Dengan kolaborasi ini membantu pemulihan bagi korban agar tetap survival menghadapi hari-hari pasca-bencana," tutup Yuliana optimis.
Secara kelembagaan, integrasi data pengungsi dan pemetaan kebutuhan logistik berbasis gender ini menjadi bagian dari manajemen komunikasi krisis yang strategis. Melalui pola pendampingan yang humanis, lembaga-lembaga kemanusiaan di Manggarai berupaya membangun standarisasi mitigasi bencana non-fisik. Edukasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran hukum dan sosial masyarakat pengungsi, sehingga mereka tidak hanya sekadar bertahan hidup, tetapi juga mampu saling melindungi dari potensi ancaman sosial di lingkungan darurat.

Penulis: Zabidi 
Editor: Redaksi
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Wujudkan Tenda Pengungsian Aman dan Ramah, Masyarakat Korban Bencana Manggarai Dampingi Pemulihan Traumatis Perempuan dan Anak
  • Wujudkan Tenda Pengungsian Aman dan Ramah, Masyarakat Korban Bencana Manggarai Dampingi Pemulihan Traumatis Perempuan dan Anak
  • Wujudkan Tenda Pengungsian Aman dan Ramah, Masyarakat Korban Bencana Manggarai Dampingi Pemulihan Traumatis Perempuan dan Anak
  • Wujudkan Tenda Pengungsian Aman dan Ramah, Masyarakat Korban Bencana Manggarai Dampingi Pemulihan Traumatis Perempuan dan Anak
  • Wujudkan Tenda Pengungsian Aman dan Ramah, Masyarakat Korban Bencana Manggarai Dampingi Pemulihan Traumatis Perempuan dan Anak
  • Wujudkan Tenda Pengungsian Aman dan Ramah, Masyarakat Korban Bencana Manggarai Dampingi Pemulihan Traumatis Perempuan dan Anak

Posting Komentar