76 KK di Nanga Na’e Hadapi Rumah Rusak Berat, Banjir dan Kecemasan Gempa
LINTAS86.com, MANGGARAI – Sebanyak 76 keluarga di Nanga Na’e masih menghadapi rumah rusak berat, ancaman banjir, dan kecemasan terhadap gempa susulan pascabencana.
Kondisi tersebut terungkap dalam pelayanan kesehatan dan dukungan psikososial di Dusun Nanga Na’e, Desa Para Lando, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan yang dilakukan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai itu juga mencatat sejumlah persoalan kesehatan dan lingkungan yang dihadapi masyarakat.
Pada layanan kesehatan, lima personel yang dikoordinasikan dokter Nugroho Budiawan memeriksa 67 warga. Selain pemeriksaan, petugas memberikan edukasi kesehatan serta penanganan awal sesuai kondisi pasien.
Petugas menemukan sejumlah keluhan berupa myalgia atau nyeri otot, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dispepsia, gastritis, hipertensi, diabetes melitus, serta sefalgia atau sakit kepala.
Kamarudin Depek Mukhtar menjadi salah seorang warga yang menjalani pemeriksaan. Ia datang dengan luka pada kaki akibat terkena hantaman bangunan saat membersihkan puing rumahnya yang rusak parah.
"Saya memeriksa kaki yang luka dan sudah infeksi karena terlalu lama. Kaki luka karena dihantam bangunan saat membersihkan rumah yang rusak. Tadi kaki saya dibersihkan, diberi salep dan obat supaya cepat sembuh," ujar Depek.
Selain pelayanan kesehatan, dukungan psikososial diberikan kepada warga melalui Psychosocial Support Service (PSS).
Relawan PMI Kabupaten Manggarai, Lediana Jelihat, mengatakan orang dewasa mengikuti focus group discussion (FGD), sedangkan anak-anak mengikuti kegiatan ekspresif dan kreatif berupa bermain dan bernyanyi.
"Kami dari layanan PSS membagi kelompok menjadi dua, yaitu FGD untuk orang dewasa dan kegiatan ekspresif kreatif berupa bermain dan bernyanyi untuk anak-anak," kata Lediana.
Interaksi dengan masyarakat menghasilkan sejumlah temuan. Selain 76 KK yang rumahnya mengalami kerusakan berat, tim mencatat sampah masih berserakan di sekitar posko dan banjir kerap terjadi akibat luapan Kali Wae Kuli.
Kondisi psikososial juga menjadi perhatian setelah ditemukan kecemasan terhadap gempa susulan pada kalangan guru.
"Kami menemukan ada 76 KK yang rumahnya rusak berat, sampah yang berserakan di sekitar posko, sering terjadi banjir yang disebabkan oleh luapan air Kali Wae Kuli, serta tingkat kecemasan guru saat gempa susulan masih tinggi yang terlihat dari tingkat stresnya," ujar Lediana.
Komandan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) Desa Para Lando, Viviani Astri, menyoroti persoalan sampah di Dusun Nanga Na’e.
Menurut dia, belum tersedianya wadah penampungan sampah dan tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi salah satu penyebab sampah berserakan. Kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah juga dinilai masih perlu ditingkatkan.
"Di sini memang sampah berserakan karena tidak adanya tempat sampah dan TPA. Apalagi kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan terkait sampah masih kurang. Saya berharap PMI Kabupaten Manggarai bisa memberikan solusi terkait hal ini dengan memberikan bantuan berupa plastik sampah," kata Viviani.
Rangkaian temuan tersebut menunjukkan warga Nanga Na’e masih menghadapi berbagai persoalan selama masa pemulihan. Selain kerusakan tempat tinggal, kebutuhan kesehatan, kondisi psikososial, ancaman banjir, dan kebersihan lingkungan menjadi hal yang memerlukan perhatian.
Layanan kesehatan dan psikososial menjadi bagian dari upaya menjangkau kebutuhan tersebut, mulai dari pemeriksaan dan penanganan awal terhadap keluhan kesehatan hingga pendampingan bagi masyarakat terdampak.
Penulis: Edho
Editor: Redaksi
Posting Komentar