Bantuan PMI Jadi Bekal Maria Menyambut Kelahiran Buah Hati



LINTAS86.com, NAGEKEO -  Di sebuah permukiman pesisir Desa Nangadhero, Kabupaten Nagekeo, pengalaman gempa masih membekas bagi Maria Margaretha Nageleo, 24 tahun. Saat gempa terjadi, air naik dan membuat warga segera meninggalkan rumah untuk mencari tempat yang lebih aman.

Dalam kondisi sedang hamil dan memasuki masa menjelang persalinan, Maria ikut dievakuasi bersama warga menuju bukit. Untuk beberapa hari, bukit menjadi tempat mereka bertahan, meninggalkan rumah dan kehidupan yang biasanya berjalan seperti biasa.

“Waktu gempa itu air sudah naik, jadi kita semua mengungsi ke bukit. Tinggal di bukit bersama warga,” cerita Maria.

Selama sekitar satu minggu, warga bertahan di bukit. Permukiman yang biasanya dipenuhi aktivitas mendadak sepi karena sebagian besar warga memilih mengungsi.

Ketua RT 06, Marselinus, menggambarkan kondisi kampung saat itu.

“Kurang lebih satu minggu macam desa hantu di sini,” ujarnya.

Bagi Maria, berada di tempat pengungsian dalam kondisi hamil tentu bukan situasi yang mudah. Namun, keselamatan menjadi prioritas. Setelah sekitar satu minggu, Maria bersama warga lainnya mulai kembali ke rumah ketika kondisi memungkinkan.

Kini Maria sudah kembali ke rumahnya di Dusun Tiga, RT 06, Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa. Meski demikian, ia masih harus menghadapi kebutuhan lain yang tidak kalah penting yaitu mempersiapkan kelahiran buah hatinya.

“Ini saya sudah mau melahirkan bulan ini. Saya juga sementara hamil, jadi banyak yang harus disiapkan,” tutur Maria.

Di tengah kondisi pascagempa, Maria mengaku sempat memikirkan kebutuhan untuk persalinan. Ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli berbagai perlengkapan yang diperlukan.

“Kebetulan uang saya tidak ada. Jadi saya bingung juga mau beli kebutuhan untuk melahirkan,” katanya.

Kekhawatiran itu sedikit terjawab ketika bantuan dari Palang Merah Indonesia (PMI) tiba. Maria menerima Hygiene Kit, dan Baby Kit. Bantuan tersebut menurutnya bukan hanya berguna untuk kebutuhan menjelang persalinan, tetapi juga dapat digunakan setelah melahirkan dan untuk kebutuhan bayinya.

“Ini bisa dipakai untuk nifas juga. Untuk bayi juga lengkap. Ada kebutuhan bayi, ada selimut juga,” ujar Maria.

Satu per satu perlengkapan yang diterimanya ia ceritakan. Baginya, kelengkapan bantuan tersebut sangat membantu karena banyak kebutuhan yang sebelumnya harus ia siapkan sendiri kini sudah tersedia.

“Banyak banget dan lengkap banget. Jadi saya tidak perlu beli lagi,” katanya.

Bantuan itu datang pada waktu yang menurut Maria sangat tepat. Ia kini tidak hanya memikirkan bagaimana melewati masa pascagempa, tetapi juga bagaimana mempersiapkan dirinya menjadi seorang ibu.

“Senang sekali dapat bantuan ini. Terharu juga, karena saya sudah mau melahirkan dan kebutuhan untuk saya sama bayi sudah ada,” ucap Maria.

Rasa haru itu menjadi bagian dari perjalanan Maria setelah gempa. Dari rumah di kawasan pesisir, ia sempat menyelamatkan diri ke bukit bersama warga. Setelah sekitar satu minggu, ia kembali ke rumah dan kini bersiap menyambut kelahiran buah hatinya.

Bagi Maria, Hygiene Kit, dan Baby Kit, selimut, dan berbagai perlengkapan yang diterimanya bukan sekedar bantuan. Semua itu menjadi bekal yang membuatnya sedikit lebih tenang menghadapi persalinan, setelah sebelumnya harus menghadapi ketakutan dan ketidakpastian akibat gempa.

Kini, di rumahnya, Maria hanya menunggu satu hal yang paling dinantikan yaitu hari ketika buah hatinya lahir ke dunia.

 Penulis: Haafiid
Editor: Redaksi
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Bantuan PMI Jadi Bekal Maria Menyambut Kelahiran Buah Hati
  • Bantuan PMI Jadi Bekal Maria Menyambut Kelahiran Buah Hati
  • Bantuan PMI Jadi Bekal Maria Menyambut Kelahiran Buah Hati
  • Bantuan PMI Jadi Bekal Maria Menyambut Kelahiran Buah Hati
  • Bantuan PMI Jadi Bekal Maria Menyambut Kelahiran Buah Hati
  • Bantuan PMI Jadi Bekal Maria Menyambut Kelahiran Buah Hati

Posting Komentar