Penyintas Gempa Ruteng Dapatkan Layanan Kesehatan PMI
LINTAS86.com, MANGGARAI — Palang Merah Indonesia (PMI) menerjunkan Tim Pertolongan Kedaruratan Dasar dan Darurat (PKDD) untuk memberikan layanan kesehatan bergerak (Mobile Clinic) bagi masyarakat terdampak gempa bumi. Layanan ini menyasar penyintas gempa di Dusun Purek, Desa Beo Rahong, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, pada Sabtu (5/9/2026). Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan akses medis bagi warga yang terisolasi atau kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan resmi pascabencana.
Berdasarkan data operasional PMI di lokasi, sebanyak 158 jiwa tercatat sebagai penerima manfaat dalam program ini. Dari total tersebut, penerima layanan terdiri atas 55 orang laki-laki dan 103 orang perempuan. Tim medis juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, yang mencakup satu orang ibu hamil dan tujuh orang ibu menyusui. Sebagian besar warga mengakses layanan medis ini dengan membawa berbagai keluhan penyakit yang muncul pascagejala gempa dan selama berada di lingkungan pengungsian.
Layanan medis lapangan ini didukung oleh tenaga profesional yang terdiri atas satu orang dokter beserta enam pendamping utusan PMI Pusat, serta dibantu oleh satu anggota Korps Sukarela (KSR) PMI Kabupaten Manggarai. Selain membuka posko pemeriksaan fisik mendasar, tim juga mengintegrasikan fungsi pemantauan kesehatan berkala, layanan konsultasi medis, serta edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kondisi darurat bencana.
Hasil pemeriksaan klinis di lapangan menunjukkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi penyakit paling dominan, yakni dialami oleh 79 orang. Keluhan kesehatan lain yang berhasil terdeteksi meliputi myalgia atau nyeri otot sebanyak 35 orang, hipertensi (HT) sebanyak 15 orang, gatal-gatal pada kulit sebanyak 6 orang, serta gejala muntah-muntah sebanyak 3 orang. Selain itu, petugas menemukan kasus konjungtivitis (2 orang), otitis media (1 orang), hemoroid (1 orang), dan pasien dengan riwayat TB paru (1 orang).
Perwakilan Tim PKDD PMI Kabupaten Manggarai, dr. Matahari, menjelaskan bahwa mobile clinic dirancang untuk memangkas hambatan geografis dan logistik yang kerap menghalangi warga penyintas dalam mendapatkan pengobatan mendasar. Fokus utama operasional ini menyasar kelompok yang paling rentan terhadap paparan dampak buruk kondisi darurat.
"Kami melakukan layanan kesehatan dengan sistem mobile clinic yang bertujuan untuk membantu kesehatan dasar kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya kelompok rentan antara lain ibu hamil, lansia, anak-anak, dan korban bencana gempa Nusa Tenggara Timur," ujar dr. Matahari saat memberikan keterangannya di lokasi pelayanan.
Ia menambahkan, respons warga terhadap kehadiran tim medis terbilang sangat tinggi. Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kondisi fisiknya membantu proses penanganan medis berjalan lancar dan tertib di lokasi.
"Masyarakat sangat tertib dalam mengobati penyakitnya, dan kami mendapatkan kurang lebih 103 pasien saat menjalankan layanan. Harapannya khusus untuk masyarakat Desa Rahong dan masyarakat NTT, kesehatannya lebih baik lagi dalam menghadapi masa tanggap darurat pascabencana gempa NTT," kata dr. Matahari.
Di sisi lain, kehadiran posko kesehatan bergerak ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para penyintas yang mulai mengeluhkan gangguan kesehatan akibat goncangan psikologis dan penurunan kualitas lingkungan tempat tinggal sementara. Salah seorang perwakilan warga Desa Beo Rahong, Dus, mengungkapkan bahwa trauma akibat bencana gempa berdampak langsung pada fisik warga, sesuatu yang tidak pernah diprediksi sebelumnya oleh masyarakat setempat.
"Sebelumnya jika terjadi gempa kami hanya menganggapnya hal biasa, sekarang baru kami rasakan bagaimana tidur di tempat pengungsian dengan rasa takut dan sakit akibat dampak dari gempa tersebut," kata Dus.
Dus menceritakan bahwa tekanan fisiknya, terutama tingkat tekanan darah, mengalami kenaikan drastis setelah peristiwa bencana tersebut terjadi. Kondisi cemas berkepanjangan dan atmosfer pengungsian diakui menjadi pemicu utama memburuknya stamina warga.
"Awalnya saya ditensi hasilnya normal, tapi setelah gempa tekanan darah saya naik, mungkin terlalu cemas saat bencana gempa. Saya berharap layanan kesehatan ini tetap berjalan di desa kami selama pascabencana gempa ini," ujar Dus menandaskan.
PMI Kabupaten Manggarai memastikan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan guna mengerahkan sumber daya yang ada. Langkah ini diambil demi menjaga konsistensi respons kemanusiaan dan memenuhi kebutuhan dasar kesehatan warga selama masa pemulihan pascabencana.
Penulis: Edho
Editor: Redaksi

Posting Komentar