Desa Dekat Sesar Aktif Mulai Siapkan Rumah Tahan Gempa
LINTAS86.com, BANYUWANGI - Pelatihan retrofitting Wongsorejo digelar di Balai Desa Bimorejo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, pada 29-31 Oktober 2026. Sebanyak 20 peserta dari Desa Bimorejo dan Desa Bajulmati mengikuti kegiatan yang difokuskan pada penguatan bangunan rumah agar lebih aman menghadapi ancaman gempa bumi. Peserta berasal dari unsur perangkat desa, tokoh masyarakat, anggota Satuan Siaga Berbasis Masyarakat (SIBAT), hingga tukang bangunan lokal.
Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah yang berada dekat dengan Sesar Wongsorejo. Selama tiga hari, peserta mendapatkan materi teori dan praktik mengenai teknik retrofitting atau penguatan bangunan rumah sederhana agar lebih tahan terhadap guncangan gempa.
Selain memberikan keterampilan teknis, kegiatan ini juga bertujuan membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mitigasi bencana berbasis komunitas. Dengan keterlibatan masyarakat secara langsung, diharapkan pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dan dikembangkan di lingkungan masing-masing.
Pelatihan Digelar Selama Tiga Hari
Sejak Rabu pagi, Balai Desa Bimorejo dipadati peserta yang mengikuti pembukaan pelatihan. Kegiatan berlangsung selama tiga hari dan menghadirkan empat fasilitator yang memiliki pengalaman dalam penguatan bangunan tahan gempa.
Peserta mendapatkan materi mengenai karakteristik gempa bumi, risiko yang ditimbulkan oleh sesar aktif, serta cara memperkuat bangunan rumah menggunakan metode yang sesuai dengan kondisi masyarakat pedesaan.
Camat Wongsorejo Muhammad Mahfud mengatakan kegiatan tersebut penting karena wilayahnya termasuk kawasan yang memiliki potensi ancaman gempa bumi.
"Pelatihan retrofitting atau rumah aman gempa dari PMI Banyuwangi diikuti oleh tokoh masyarakat, perangkat desa, SIBAT, dan tukang lokal. Jadi tolong kegiatan ini diikuti secara baik, karena ilmu baru ini kiranya agar bisa diaplikasikan di masyarakat, apalagi kita berada di wilayah rawan gempa Sesar Wongsorejo," ungkapnya.
Menurut Mahfud, keterlibatan berbagai unsur masyarakat menjadi langkah strategis agar pengetahuan tentang rumah aman gempa dapat menjangkau lebih banyak warga.
Selain tokoh masyarakat dan perangkat desa, kehadiran tukang bangunan lokal menjadi bagian penting dalam pelatihan. Mereka merupakan pihak yang paling sering terlibat dalam pembangunan rumah warga sehingga memiliki peran besar dalam meningkatkan kualitas konstruksi bangunan di desa.
Peserta Belajar Dua Teknik Penguatan Bangunan
Selama pelatihan, peserta mendapatkan pendampingan intensif dari fasilitator. Materi yang diberikan tidak hanya berupa teori di dalam ruangan, tetapi juga praktik langsung di lapangan.
Ada dua teknik utama yang dipelajari peserta.
Pertama adalah teknik ferrosemen yang memanfaatkan wiremesh atau kawat anyam untuk memperkuat bagian tertentu bangunan. Teknik ini dikenal cukup efektif untuk meningkatkan kekuatan struktur sekaligus relatif mudah diterapkan pada rumah sederhana.
Kedua adalah metode konvensional yang menitikberatkan pada pemasangan elemen-elemen penting seperti kolom praktis, ring balok, dan pengikat struktur lainnya. Komponen tersebut berfungsi menjaga bangunan tetap kokoh saat menerima beban guncangan gempa.
Wakil Ketua PMI Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Nurhadi, M.M., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana.
"Kegiatan ini merupakan Program Kesiapsiagaan dan Penanggulangan Bencana, yaitu sebagai upaya antisipasi dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi gempa bumi, khususnya ancaman Sesar Wongsorejo. Gempa tidak membunuh manusia, rumah yang tidak amanlah yang membunuh."
Menurut Nurhadi, pemahaman mengenai rumah aman gempa menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko korban jiwa ketika bencana terjadi.
Ancaman Sesar Wongsorejo
Pelatihan ini difokuskan pada dua desa yang berada di kawasan pesisir utara Banyuwangi, yaitu Bimorejo dan Bajulmati. Kedua desa tersebut termasuk wilayah yang berdekatan dengan jalur Sesar Wongsorejo.
Sesar Wongsorejo merupakan salah satu sesar aktif darat yang ada di Jawa Timur. Karakteristik sesar ini adalah sesar geser mendatar atau strike-slip fault yang berpotensi memicu gempa bumi dangkal.
Gempa yang bersumber dari sesar darat memiliki karakteristik berbeda dibanding gempa megathrust. Meskipun magnitudonya tidak selalu besar, dampak kerusakan dapat signifikan karena pusat guncangan berada dekat dengan permukiman warga.
Faktor lain yang meningkatkan risiko adalah kondisi tanah di sejumlah wilayah Wongsorejo yang didominasi endapan sedimen. Kondisi tersebut dapat memperkuat efek guncangan ketika gempa terjadi.
Karena itu, penguatan bangunan rumah menjadi salah satu langkah mitigasi yang dipandang efektif untuk mengurangi dampak bencana.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan bahwa upaya pengurangan risiko tidak selalu membutuhkan biaya besar. Banyak perbaikan sederhana yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keamanan bangunan, asalkan dilakukan dengan teknik yang benar.
Akan Dibangun Rumah Percontohan
Selain pelatihan, program ini juga akan ditindaklanjuti dengan pembangunan dua unit rumah percontohan aman gempa.
Masing-masing rumah akan dibangun di Desa Bimorejo dan Desa Bajulmati sebagai media pembelajaran masyarakat.
"Setelah pelatihan ini kami akan membuat Prototype Rumah Aman Gempa di 2 desa ini yaitu Bimorejo dan Bajulmati masing-masing 1 unit," terang Nurhadi.
Rumah percontohan tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi yang memudahkan masyarakat memahami penerapan prinsip bangunan aman gempa secara langsung.
Keberadaan rumah contoh juga akan membantu tukang bangunan dan warga melihat bagaimana elemen-elemen penguatan struktur diterapkan dalam konstruksi bangunan sehari-hari.
Harapan Peserta
Salah satu peserta pelatihan, Umy Nasikhah dari SIBAT Bimorejo, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru selama mengikuti kegiatan tersebut.
"Saya merasa sangat bersyukur dan bangga sebagai anggota SIBAT dapat mengikuti pelatihan Retrofitting Pemodelan Rumah Aman Gempa. Melalui pelatihan ini, saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman baru mengenai pentingnya membangun serta memperkuat rumah agar lebih aman terhadap risiko gempa bumi, apalagi desa kami dekat dengan Sesar Wongsorejo."
Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan wawasan yang selama ini belum banyak dipahami masyarakat.
Ia berharap ilmu yang diperoleh peserta tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata, tetapi dapat diterapkan secara nyata.
"Semoga ilmu dan pengalaman yang kami dapatkan selama pelatihan ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi dapat diterapkan dan disebarluaskan kepada masyarakat, khususnya di Desa Bimorejo."
Harapan tersebut selaras dengan tujuan pelatihan, yaitu menciptakan masyarakat yang lebih siap menghadapi ancaman bencana melalui peningkatan kapasitas lokal.
Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, pelatihan retrofitting di kawasan Sesar Wongsorejo diharapkan menjadi langkah awal membangun permukiman yang lebih aman sekaligus memperkuat ketangguhan desa menghadapi risiko gempa bumi di masa mendatang.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi

Posting Komentar