Warga Dusun Wetok Tempuh Dua Jam Demi Tiga Jerigen Air Bersih
LINTAS86.com, MANGGARAI - Krisis air bersih Wetok masih menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat Dusun Wetok, Desa Langkas, Kecamatan Cibal. Di tengah proses pemulihan pascagempa, sebagian warga masih harus berjalan jauh melewati bukit dan jalan berbatu demi mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut terungkap dalam asesmen lapangan yang dilakukan International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) bersama tim pelayanan kesehatan (Yankes) pada 17 Oktober 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya memetakan kondisi kesehatan masyarakat, tetapi juga meninjau berbagai faktor yang memengaruhi kualitas hidup warga, termasuk ketersediaan air bersih.
Saat melakukan asesmen, tim menemukan fakta bahwa akses air bersih masih menjadi tantangan terbesar bagi masyarakat. Sebagian warga harus menempuh perjalanan panjang menuju sumber mata air karena belum tersedianya pasokan air yang mudah dijangkau dari permukiman mereka.
Salah satu warga yang ditemui tim adalah Gabriel Namput (67). Di usianya yang tidak lagi muda, ia masih harus berjalan kaki setiap hari untuk memenuhi kebutuhan air keluarganya.
Perjalanan Panjang Demi Memenuhi Kebutuhan Dasar
Gabriel terlihat memikul jerigen air saat tim asesmen tiba di lokasi. Dengan langkah perlahan, ia berjalan menyusuri jalur berbatu yang menanjak menuju rumahnya.
Perjalanan tersebut bukan perjalanan singkat. Untuk mendapatkan air bersih, ia harus berjalan menuju sumber mata air yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumahnya. Setelah jerigen terisi, perjalanan kembali harus ditempuh dengan beban yang jauh lebih berat.
“Setiap hari di pagi dan sore hari saya harus menggendong tiga buah jerigen melewati bukit selama dua jam perjalanan untuk mendapatkan air bersih di sumber mata air, rasa lelah dan capek itu sudah biasa bagi kami, keluarga di rumah juga membutuhkan air,” ujar Gabriel.
Rutinitas tersebut dilakukannya setiap pagi dan sore. Total waktu yang dihabiskan untuk mengambil air bisa mencapai empat jam dalam sehari.
Air yang diperoleh digunakan untuk kebutuhan minum, memasak, mencuci, mandi, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.
Bagi masyarakat perkotaan, air bersih mungkin menjadi sesuatu yang mudah diperoleh. Namun di Dusun Wetok, air masih menjadi kebutuhan yang harus diperjuangkan setiap hari.
Medan Berat Menjadi Tantangan Warga
Selain jarak yang cukup jauh, kondisi geografis juga menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat.
Jalan yang dilalui menuju sumber air didominasi bebatuan dan tanjakan curam. Pada beberapa titik, warga harus berjalan dengan sangat hati-hati untuk menghindari risiko terjatuh.
Aktivitas tersebut tidak hanya dilakukan oleh laki-laki dewasa. Sebagian keluarga juga mengandalkan anggota keluarga lainnya untuk membantu memenuhi kebutuhan air.
Kondisi ini menggambarkan bahwa persoalan air bersih bukan hanya masalah infrastruktur, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap aktivitas dan kesehatan masyarakat.
Semakin jauh sumber air yang harus dijangkau, semakin besar pula tenaga dan waktu yang harus dikeluarkan warga.
Asesmen Ungkap Berbagai Persoalan Kesehatan
Selain meninjau kondisi sumber air, tim kesehatan juga melakukan pemeriksaan kepada masyarakat.
Dari hasil pelayanan yang dilakukan, ditemukan berbagai keluhan kesehatan yang cukup sering dialami warga.
Dokter Lilis Wijaya, SP.KKLP., MKM menjelaskan bahwa hipertensi dan myalgia menjadi dua masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan selama kegiatan berlangsung.
“Dalam pelayanan tadi merupakan pelayanan standar yaitu mulai dari pendaftaran, pemeriksaan hingga memberikan obat, sedangkan temuan yang paling tinggi itu adalah hipertensi dan myalgia yang dipicu oleh aktivitas masyarakat yang sering jalan kaki di bebatuan sehingga muncul kesemutan pada kaki dan pinggang,” jelasnya.
Menurutnya, aktivitas fisik yang berat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat.
Banyak warga harus berjalan kaki dalam waktu lama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kondisi tersebut menyebabkan tubuh bekerja lebih keras dibandingkan masyarakat yang memiliki akses lebih mudah terhadap kebutuhan dasar.
Selain hipertensi dan myalgia, petugas kesehatan juga menemukan keluhan berupa batuk, demam, nyeri sendi, hingga gangguan pernapasan.
Air Bersih Menjadi Keluhan Utama Warga
Dalam asesmen tersebut, kebutuhan air bersih menjadi isu yang paling banyak disampaikan masyarakat kepada tim.
Dokter Magdalena Dos Santos Belo dari IFRC mengatakan bahwa tujuan utama asesmen adalah mengidentifikasi kebutuhan masyarakat agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kondisi lapangan.
“Tujuan dari asesmen ini adalah agar kita bisa mengetahui apa yang diperlukan untuk ditindaklanjuti terutama dalam kesehatan masyarakat yang perlu digali dan mengetahui informasinya supaya tindakan yang diambil bisa tepat sasaran,” ujarnya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan warga, kebutuhan air bersih menjadi prioritas utama yang diharapkan mendapat perhatian dalam proses pemulihan pascagempa.
Keterbatasan air tidak hanya menyulitkan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berdampak terhadap sanitasi dan kesehatan lingkungan.
Masyarakat menjadi lebih sulit menjaga kebersihan diri, mencuci peralatan rumah tangga, maupun membersihkan lingkungan sekitar.
Debu dan Hunian Darurat Tingkatkan Risiko Penyakit
Selain masalah air bersih, asesmen juga menemukan faktor lain yang berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat.
Kondisi cuaca yang kering menyebabkan meningkatnya debu di lingkungan sekitar. Debu yang terhirup secara terus menerus dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
“Dari temuan saya di lapangan munculnya penyakit disebabkan oleh susahnya ketersediaan air bersih, selain itu juga kekeringan yang dapat menimbulkan adanya debu yang menjadi faktor utama munculnya penyakit ISPA,” kata Dokter Magdalena.
Tim juga menemukan masih adanya warga yang tinggal di tenda darurat berukuran kecil akibat kerusakan rumah pascagempa.
Sebagian keluarga bahkan harus tinggal secara berdesakan karena keterbatasan terpal dan fasilitas hunian sementara.
Kondisi tersebut menyebabkan sirkulasi udara menjadi kurang baik dan berpotensi meningkatkan risiko sesak napas maupun batuk.
“Saya juga menemukan adanya masyarakat yang masih tinggal di tenda kecil yang tidak layak huni dengan berdesakan karena kekurangan terpal, sehingga sirkulasi udaranya tidak stabil yang bisa memicu adanya penyakit sesak napas dan batuk,” tambahnya.
Warga Masih Berjuang Pascagempa
Salah satu warga yang masih tinggal di hunian sementara adalah Herlina Sin (39). Rumah yang sebelumnya ditempati mengalami kerusakan sehingga ia bersama keluarganya belum bisa kembali tinggal dengan normal.
“Saat ini kami masih tinggal di posko kecil karena rumah kami hancur. Saat diperiksa tadi saya punya keluhan mual-mual, pusing, sakit pada bagian lutut dan demam sehingga dokter memberikan saya obat,” katanya.
Keluhan yang dialami Herlina menjadi gambaran kondisi sebagian warga yang masih menghadapi berbagai tantangan kesehatan pascabencana.
Beban hidup bertambah ketika kebutuhan dasar seperti air bersih belum dapat terpenuhi secara memadai.
Harapan Akan Air Bersih dan Layanan Kesehatan
Petugas Puskesmas setempat, Martinus K. Roli, mengatakan bahwa kasus batuk dan demam masih cukup banyak ditemukan pada masyarakat sejak gempa terjadi.
“Pascagempa banyak masyarakat mulai dari anak-anak sampai orang dewasa yang mengalami batuk dan demam serta penyakit lain yang dipicu oleh susahnya air bersih,” ujarnya.
Ia berharap peningkatan layanan kesehatan dan penyediaan air bersih dapat terus dilakukan agar masyarakat tidak semakin rentan terhadap berbagai penyakit.
Hasil asesmen menunjukkan bahwa air bersih dan kesehatan merupakan dua kebutuhan dasar yang saling berkaitan. Ketika akses terhadap air bersih terbatas, risiko munculnya berbagai masalah kesehatan akan meningkat.
Karena itu, upaya pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung kesehatan masyarakat dan mempercepat pemulihan warga Dusun Wetok pascagempa. Dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak diharapkan mampu membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar mereka dan menjalani kehidupan yang lebih sehat di masa mendatang.
Foto Utama: Gabriel Namput membawa jerigen air dari sumber mata air menuju rumahnya di Dusun Wetok.
Nama File Foto:
gabriel-cari-air-wetok.jpg
Alt Foto:
Warga Dusun Wetok membawa air bersih dari sumber mata air
Caption + Kredit:
Gabriel Namput membawa jerigen berisi air bersih setelah menempuh perjalanan menuju sumber mata air di Dusun Wetok, Desa Langkas, Kecamatan Cibal. Foto: Dokumentasi Lapangan.
Sumber: Tim Asesmen IFRC dan Tim Yankes
Byline: Redaksi LINTAS86.COM

Posting Komentar