Polres Ponorogo Siaga Hadapi Bencana Hidrometeorologi 2026

LINTAS86.com, PONOROGO – Polres Ponorogo mengambil langkah antisipatif menghadapi potensi bencana hidrometeorologi dengan menggelar Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Tahun 2026 di wilayah Kabupaten Ponorogo, Rabu (4/11/2026).
Kegiatan yang berlangsung dengan melibatkan unsur TNI, pemerintah daerah, BPBD, PMI, relawan, dan berbagai organisasi kemasyarakatan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan personel serta koordinasi lintas sektor menghadapi musim penghujan yang berpotensi memunculkan banjir, tanah longsor, dan bencana lainnya.
Kapolres Ponorogo, AKBP Damus Asa, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai langkah mitigasi dan pemetaan wilayah rawan bencana. Fokus pengawasan dan kesiapsiagaan diarahkan pada kawasan perkotaan yang memiliki potensi banjir serta wilayah pegunungan yang rawan longsor.
"Hampir semua di wilayah Jatim juga melaksanakan apel kesiapsiagaan ini. Dan kita sudah melakukan mitigasi dan antisipasi, terutama di wilayah perkotaan yang biasanya rawan banjir dan wilayah Kabupaten Ponorogo daerah atas, daerah pegunungan seperti Ngebel, yang daerah rawan untuk tanah longsor dan sebagainya," ujar AKBP Damus Asa.
Menurutnya, wilayah Kecamatan Ngebel dan sejumlah kawasan perbukitan lainnya menjadi perhatian khusus karena memiliki karakteristik geografis yang rentan terhadap pergerakan tanah ketika curah hujan meningkat dalam waktu yang lama.
Selain melakukan pemetaan potensi risiko, Polres Ponorogo juga memastikan seluruh personel dan sarana pendukung dalam kondisi siap digunakan sewaktu-waktu apabila terjadi bencana.
Seluruh Personel Berstatus Siaga Satu
Dalam apel tersebut, Polres Ponorogo menegaskan seluruh kekuatan personel berada pada status siaga satu. Kebijakan ini dilakukan agar ketika terjadi keadaan darurat, seluruh unsur dapat bergerak cepat tanpa harus melakukan persiapan tambahan.
"Personel hampir semuanya kita libatkan, siaga satu. Jadi ketika ada kejadian bencana tidak kalang-kabut menyiapkan, tapi dari saat ini sudah-sudah kita siapkan semuanya," tuturnya.
Kesiapan tersebut tidak hanya mencakup personel kepolisian, tetapi juga kendaraan operasional, perlengkapan evakuasi, sarana komunikasi, hingga mekanisme koordinasi dengan instansi terkait.
Langkah ini dinilai penting mengingat bencana hidrometeorologi kerap terjadi secara tiba-tiba dan membutuhkan respons cepat pada jam-jam pertama kejadian untuk meminimalkan dampak terhadap masyarakat.
Forkopimda Perkuat Mitigasi
Sementara itu, Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengapresiasi sinergi yang dibangun berbagai pihak dalam menghadapi ancaman bencana.
Menurutnya, kesiapsiagaan menjadi kebutuhan penting karena tidak ada pihak yang dapat memprediksi kapan bencana akan terjadi.
"Kerjasama semuanya, termasuk Polres, maupun TNI, dan beberapa organisasi masyarakat. Nah, ini kita istilahnya mitigasi lah, karena kita enggak pernah tahu namanya bencana itu kan bisa datang sewaktu-waktu," kata Lisdyarita.
Ia menilai keterlibatan seluruh unsur menjadi kekuatan utama dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang efektif. Dengan adanya koordinasi yang baik, proses evakuasi, distribusi bantuan, hingga pemulihan pascabencana dapat dilakukan lebih cepat.
PMI Siapkan Relawan dan Dukungan Kemanusiaan
Dukungan terhadap apel kesiapsiagaan juga datang dari PMI Kabupaten Ponorogo. Ketua PMI Kabupaten Ponorogo, Luhur Karsanto, melalui Staf Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Ponorogo, M. Nur Amin Zabidi, menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi situasi kebencanaan.
"PMI Kabupaten Ponorogo mendukung penuh pelaksanaan Apel Kesiapsiagaan Bencana sebagai upaya memperkuat koordinasi antarinstansi dalam menghadapi potensi bencana. Sinergi antara PMI, Polres, BPBD, TNI, pemerintah daerah, dan relawan sangat penting agar proses evakuasi, pelayanan kesehatan, hingga distribusi bantuan dapat berjalan cepat dan tepat sasaran," kata Nur Amin.
Menurutnya, sebagai lembaga kemanusiaan, PMI memiliki mandat untuk memberikan pelayanan darurat kepada masyarakat terdampak bencana. Karena itu, PMI terus menjaga kesiapan sumber daya manusia maupun perlengkapan penunjang operasi kemanusiaan.
"Sebagai lembaga kemanusiaan, PMI selalu menyiapkan relawan siaga, layanan pertolongan pertama, ambulans, peralatan evakuasi, serta logistik darurat untuk mendukung penanganan bencana. Kegiatan apel seperti ini menjadi sarana penting untuk menyamakan langkah dan memperkuat kesiapan seluruh unsur yang terlibat," ujarnya.
PMI juga menyiapkan dukungan layanan kesehatan, pertolongan pertama, ambulans, relawan lapangan, hingga distribusi bantuan logistik apabila sewaktu-waktu dibutuhkan dalam operasi penanggulangan bencana.
Koordinasi Jadi Kunci Penanganan Bencana
Lebih lanjut, Nur Amin menegaskan bahwa keberhasilan penanganan bencana tidak hanya ditentukan oleh kesiapan peralatan, tetapi juga kualitas koordinasi antarinstansi di lapangan.
"Koordinasi lintas sektor merupakan kunci utama keberhasilan penanggulangan bencana. Karena itu, PMI Kabupaten Ponorogo terus memperkuat kolaborasi dengan Polres dan seluruh pemangku kepentingan agar respons darurat dapat dilakukan secara cepat, terukur, dan mampu meminimalkan risiko korban maupun dampak yang ditimbulkan," tegasnya.
Kolaborasi tersebut mencakup pertukaran informasi, pemetaan wilayah rawan, simulasi penanganan bencana, hingga penyusunan mekanisme tanggap darurat yang melibatkan seluruh unsur terkait.
Melalui apel kesiapsiagaan ini, jajaran Forkopimda Ponorogo berharap seluruh elemen dapat semakin siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana hidrometeorologi selama musim penghujan.
Dengan kesiapan personel, dukungan peralatan, keterlibatan relawan, serta sinergi antara Polres, TNI, PMI, BPBD, pemerintah daerah, dan masyarakat, diharapkan proses penanganan bencana di Ponorogo dapat berlangsung lebih cepat, efektif, dan mampu memberikan perlindungan maksimal bagi warga.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi
Posting Komentar