Puluhan Titik Bencana Terjang Tempursari, 600 KK Terdampak dan Ratusan Warga Terisolasi
LINTAS86.com, LUMAJANG – Puluhan titik bencana akibat cuaca ekstrem ditemukan di Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang. Banjir, longsor, pohon tumbang, tanggul jebol hingga putusnya akses jalan terjadi di sejumlah desa dan menyebabkan ratusan kepala keluarga terdampak serta sebagian warga masih terisolasi.
Kondisi tersebut terungkap dalam assessment yang dilakukan Pengurus PMI Provinsi Jawa Timur Bidang Penanggulangan Bencana bersama PMI Kabupaten Lumajang, Senin (2/11/2026). Tim dipimpin Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Jawa Timur, Edy Purwinarto, didampingi Kepala Markas PMI Kabupaten Lumajang Nurhadi Santoso, staf PMI serta relawan yang turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi terkini wilayah terdampak.
Assessment diawali dengan koordinasi bersama Pemerintah Kecamatan Tempursari guna memperbarui data lapangan, memetakan kerusakan, serta menentukan kebutuhan penanganan darurat yang harus segera dilakukan.
Hasil peninjauan menunjukkan dampak bencana cukup luas. Tidak hanya merendam permukiman warga, banjir juga merusak infrastruktur vital, mengancam rumah penduduk, menutup akses jalan desa hingga mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat.
Bagi warga Tempursari, kondisi ini bukan sekadar banjir tahunan. Beberapa lokasi mengalami perubahan alur sungai, longsoran besar, dan kerusakan jalan yang membuat mobilitas masyarakat terganggu secara signifikan.
Jalan Putus dan Wilayah Terisolasi
Salah satu titik terdampak paling serius berada di Dusun Tamansari RT 01 RW 06 Desa Kaliuling. Longsor yang terjadi menutup jalan penghubung Tamansari-Iburaja sehingga kendaraan tidak dapat melintas.
Material longsoran menutup badan jalan dan menyebabkan aktivitas warga terhambat. Hingga kini pembersihan dan pembukaan akses masih terus dilakukan.
Di Desa Purorejo, kerusakan lebih besar terjadi setelah tanggul Wareng jebol akibat luapan Sungai Glidik. Air yang meluap menggerus badan jalan hingga menyebabkan akses penghubung Purorejo menuju Tamansari Bawah sepanjang sekitar 200 meter putus total.
Akibat rusaknya akses tersebut, sejumlah wilayah mengalami keterisolasian.
Kepala Markas PMI Kabupaten Lumajang, Nurhadi Santoso, mengatakan assessment menemukan beberapa titik kritis yang membutuhkan penanganan segera.
"Dari hasil assessment hari ini, terdapat beberapa titik longsor, tanggul jebol, luapan sungai, hingga akses jalan yang terputus. Sebagian warga juga masih terisolasi akibat hilangnya akses penghubung antarwilayah," kata Nurhadi.
Menurutnya, kerusakan akses jalan menjadi persoalan paling mendesak karena berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat dan distribusi bantuan.
"Kerusakan paling serius saat ini berada di wilayah yang akses jalannya hilang akibat tergerus banjir. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa RT masih terisolasi," jelasnya.
Data sementara menunjukkan sebanyak 33 KK di RT 03 RW 07 dan 84 KK di RT 02 RW 07 Tamansari Bawah masih mengalami keterbatasan akses akibat putusnya jalur penghubung.
Sungai Meluap, Ratusan KK Terdampak
Selain menyebabkan kerusakan infrastruktur, tingginya debit air sungai juga memicu banjir di sejumlah desa.
Luapan Sungai Rawaan menyebabkan genangan di Desa Tempursari yang meliputi RT 01 hingga RT 04 RW 02 Dusun Krajan serta RT 01 RW 04 Dusun Tempursari.
Jumlah warga terdampak di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 600 kepala keluarga. Genangan air masuk ke kawasan permukiman dan mengganggu aktivitas warga.
Sementara itu, banjir akibat luapan Sungai Dol juga dilaporkan terjadi di Desa Purorejo dan Bulurejo.
Sebanyak 100 KK di Dusun Umbulrejo, Desa Purorejo, serta 100 KK di Dusun Umbulsari, Desa Bulurejo, terdampak akibat meluasnya genangan air ke kawasan permukiman.
Meski sebagian besar warga masih bertahan di rumah masing-masing, kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat terganggu, terutama mereka yang bergantung pada akses jalan untuk bekerja maupun berdagang.
Banjir juga menyebabkan sejumlah fasilitas umum terdampak. Beberapa ruas jalan desa mengalami kerusakan, sementara jaringan listrik di sejumlah titik masih mengalami gangguan.
Hingga assessment dilakukan, sebagian wilayah Tempursari masih mengalami pemadaman listrik akibat cuaca ekstrem dan dampak kerusakan sarana pendukung.
Rumah Warga Terancam Gerusan Sungai
Tidak hanya banjir, perubahan aliran sungai akibat jebolnya tanggul menimbulkan ancaman baru bagi permukiman warga di Desa Purorejo.
Gerusan Sungai Glidik dilaporkan semakin mendekati rumah-rumah penduduk yang berada di sepanjang bantaran sungai.
Data lapangan menunjukkan sedikitnya 10 rumah warga berada dalam kondisi terancam. Dari jumlah tersebut, tiga rumah telah mengalami kerusakan pada bagian teras akibat erosi yang terus berlangsung.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian utama tim PMI saat melakukan assessment di lokasi.
Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Jawa Timur, Edy Purwinarto, mengatakan jebolnya tanggul telah mengubah arah aliran sungai sehingga diperlukan langkah cepat agar kerusakan tidak semakin meluas.
"Jebolnya tanggul yang mengikis jalan dan beberapa bangunan rumah penduduk menjadi aliran sungai baru perlu segera penanganan dengan membangun kembali tanggul sehingga aliran sungai dikembalikan ke aliran semula," kata Edy saat meninjau lokasi di Desa Purorejo.
Menurutnya, penanganan tanggul menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah kerusakan tambahan terhadap rumah maupun infrastruktur yang berada di sekitar lokasi.
"Sementara rumah yang berada di pinggir kali sepanjang 200 meter segera ditangani," ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa risiko bencana belum sepenuhnya berakhir. Apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, ancaman gerusan dan longsor susulan masih mungkin terjadi.
Longsor dan Pohon Tumbang di Berbagai Titik
Tim assessment juga mencatat sejumlah kejadian longsor dan pohon tumbang yang tersebar di beberapa wilayah Tempursari.
Di wilayah Halimo, Dusun Iburaja, Desa Kaliuling, longsor dan pohon tumbang menyebabkan material tanah mengenai dapur rumah milik seorang warga bernama Misinyem.
Di Desa Pundungsari, longsor terjadi di Jalan Raya Tempursari RT 03 RW 01 sehingga menyebabkan sebagian badan jalan kabupaten mengalami kerusakan.
Sementara itu, longsor di kawasan Dusun Kalirejo menuju Kalitiri mengancam keberadaan tiang PLN dan merusak sebagian bahu jalan.
Petugas juga menangani pohon tumbang di Jalan Raya Tempursari, Dusun Krajan, Desa Pundungsari. Pohon yang sempat mengganggu akses lalu lintas tersebut berhasil dievakuasi sehingga jalur kembali dapat dilalui kendaraan.
Meski demikian, tim terus melakukan pemantauan mengingat curah hujan di wilayah Lumajang masih cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir.
PMI dan Pemerintah Percepat Penanganan
PMI Lumajang bersama PMI Jawa Timur terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, PLN, pemerintah desa, dan berbagai unsur terkait untuk mempercepat respons darurat.
Prioritas utama saat ini adalah memastikan keselamatan masyarakat, membuka kembali akses yang terputus, serta melakukan pemantauan pada lokasi yang berpotensi mengalami longsor maupun banjir susulan.
Nurhadi Santoso menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi perhatian utama seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana.
"Prioritas saat ini adalah keselamatan warga, pemulihan akses yang terputus, serta pemantauan wilayah yang masih berpotensi mengalami longsor susulan maupun banjir lanjutan," tegasnya.
Selain penanganan darurat, bencana yang terjadi di Tempursari juga menjadi pengingat pentingnya upaya mitigasi jangka panjang. Penguatan tanggul, normalisasi sungai, pemeliharaan kawasan rawan longsor, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kejadian serupa di masa mendatang.
Sementara proses penanganan terus berlangsung, warga diminta tetap waspada dan segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda longsor, kenaikan debit sungai, atau potensi bahaya lain yang dapat mengancam keselamatan masyarakat.

Posting Komentar