Pengertian Kata Baku dan Kata Serapan beserta Contohnya


LINTAS86.com, Ponorogo- Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan bahasa, seseorang dapat menyampaikan gagasan, pengetahuan, perasaan, maupun informasi kepada orang lain.

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, kata baku dan kata serapan menjadi dua materi yang penting dipahami. Keduanya sering ditemukan dalam pelajaran sekolah, soal ujian, karya ilmiah, surat resmi, artikel, hingga komunikasi sehari-hari.

Lantas, apa pengertian kata baku dan kata serapan? Apa perbedaannya? Bagaimana pula contoh kata baku dan kata serapan dalam bahasa Indonesia?

Sebelum membahasnya, perlu diketahui bahwa pedoman resmi ejaan bahasa Indonesia yang berlaku adalah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi Kelima atau EYD V. Pedoman tersebut mengatur penggunaan huruf, penulisan kata, tanda baca, serta penulisan unsur serapan. [ejaan.keme...smen.go.id], [badanbahas...smen.go.id]

1. Pengertian Kata Baku

Kata baku adalah bentuk kata yang penggunaannya mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang berlaku.

Kata baku penting digunakan dalam komunikasi formal. Untuk memastikan penggunaan bahasa Indonesia secara tepat, penulis dapat merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk kosakata serta EYD V untuk aturan ejaan. KBBI sendiri merupakan salah satu produk kodifikasi bahasa yang digunakan sebagai acuan oleh masyarakat. [badanbahas...smen.go.id], [badanbahas...smen.go.id]

Penggunaan kata baku biasanya diperlukan dalam:

  • tugas sekolah;
  • surat resmi;
  • laporan;
  • makalah;
  • skripsi;
  • artikel ilmiah;
  • buku pelajaran;
  • dokumen pemerintahan;
  • karya jurnalistik; dan
  • komunikasi resmi lainnya.

Dengan menggunakan kata baku, tulisan akan lebih konsisten dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Contoh Kata Baku dalam Bahasa Indonesia

Salah satu contoh yang sering membuat orang salah menulis adalah terima kasih.

Bentuk yang benar adalah:

terima kasih

bukan:

terimakasih

Kedua unsur tersebut ditulis terpisah.

Contoh lainnya adalah kata menghargai, bukan mengharga-i. Kata yang telah memperoleh imbuhan ditulis mengikuti kaidah pembentukan dan penulisan kata dalam bahasa Indonesia. EYD V memang mempunyai bagian tersendiri yang mengatur kata dasar dan kata turunan. [ejaan.keme...smen.go.id]

Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak bentuk kata tidak baku yang kerap digunakan karena pengaruh kebiasaan berbicara.

Contoh yang mudah ditemui antara lain:

  • aktivitas, bukan aktifitas;
  • antre, bukan antri;
  • apotek, bukan apotik;
  • atlet, bukan atlit;
  • izin, bukan ijin;
  • jenderal, bukan jendral;
  • praktik, bukan praktek;
  • risiko, bukan resiko;
  • sistem, bukan sistim; dan
  • teknologi, bukan tehnologi.

Karena itu, bentuk yang sering diucapkan atau ditulis masyarakat belum tentu merupakan bentuk yang tepat untuk digunakan dalam tulisan formal.

2. Pengertian Kata Serapan

Kata atau unsur serapan merupakan unsur dari bahasa lain yang masuk dan digunakan dalam bahasa Indonesia.

Menariknya, unsur yang diserap bahasa Indonesia tidak hanya berasal dari bahasa asing. Pedoman resmi EYD V menjelaskan bahwa bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa daerah, seperti Jawa, Sunda, dan Bali, serta bahasa asing seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, Cina, dan Inggris. [ejaan.keme...smen.go.id], [badanbahas...smen.go.id]

Hal tersebut menunjukkan bahwa bahasa Indonesia senantiasa berkembang seiring dengan interaksi masyarakat, perkembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Kontak antarmasyarakat dan antarkebudayaan memungkinkan terjadinya proses saling menyerap unsur bahasa. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa juga menjelaskan bahwa kosakata bahasa daerah dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kosakata bahasa Indonesia. [badanbahas...smen.go.id]

Bagaimana Unsur Serapan Masuk ke Bahasa Indonesia?

EYD V membagi unsur serapan berdasarkan taraf integrasinya menjadi dua kelompok besar. [ejaan.keme...smen.go.id]

Pertama, unsur yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia

Unsur tersebut digunakan dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi penulisan dan pelafalannya masih mengikuti bahasa asing.

Pedoman EYD V memberikan contoh:

  • force majeure;
  • de facto; dan
  • de jure.

Istilah tersebut digunakan di tengah kalimat bahasa Indonesia, tetapi bentuk dan pelafalannya masih mengikuti bahasa sumber. [ejaan.keme...smen.go.id]

Kedua, unsur yang telah disesuaikan

Kelompok berikutnya adalah unsur bahasa sumber yang penulisan dan pelafalannya telah disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.

Penyesuaian ejaan dilakukan seperlunya sehingga bentuk bahasa Indonesianya tetap dapat dibandingkan dengan bentuk asal. Proses penyerapan itu dapat menyangkut huruf, gabungan huruf maupun imbuhan. [ejaan.keme...smen.go.id]

Sebagai contoh, pedoman resmi memberikan berbagai aturan perubahan bentuk. Gabungan huruf aa dari bahasa Belanda, misalnya, dapat menjadi a, sedangkan huruf c dalam sejumlah lingkungan tertentu dapat diserap menjadi k. Contoh yang diberikan antara lain construction menjadi konstruksi, cubic menjadi kubik, dan crystal menjadi kristal. [ejaan.keme...smen.go.id]

Apakah Semua Kata Serapan Harus Diubah?

Tidak.

Inilah salah satu hal penting yang perlu dipahami ketika mempelajari kata serapan.

EYD V mengatur berbagai cara penyesuaian unsur serapan, tetapi juga mengakui adanya unsur serapan yang sudah lazim digunakan dan tidak sesuai dengan kaidah umum penulisan unsur serapan sehingga tidak perlu diubah. Contoh yang tercantum dalam pedoman antara lain alamat, bengkel, kabar, koperasi, makalah, napas, paham, populer, proyek, sehat, telepon, terjemah, dan trayek. [ejaan.keme...smen.go.id]

Jadi, kita tidak dapat mengubah sebuah kata asing menjadi bahasa Indonesia hanya berdasarkan perkiraan sendiri. Bentuk yang telah diterima perlu menjadi rujukan.

Kata Serapan Juga Bisa Berasal dari Bahasa Daerah

Ada anggapan bahwa kata serapan hanya berasal dari bahasa asing. Padahal, bahasa daerah juga mempunyai peranan penting dalam memperkaya bahasa Indonesia.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menjelaskan bahwa hubungan antarbahasa memungkinkan terjadinya saling serap. Kosakata bahasa daerah bahkan dapat dimanfaatkan untuk memperkaya bahasa Indonesia seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. [badanbahas...smen.go.id]

Contoh menarik adalah unduh dan unggah yang menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa diserap dari bahasa Jawa dan digunakan sebagai padanan download dan upload. [badanbahas...smen.go.id]

Hal ini sekaligus menunjukkan kekayaan bahasa daerah memiliki peranan penting dalam perkembangan bahasa Indonesia.

Apa Perbedaan Kata Baku dan Kata Serapan?

Kata baku dan kata serapan sering dibahas bersama, tetapi keduanya tidak berarti hal yang sama.

Perbedaan sederhananya adalah:

Kata baku berkaitan dengan bentuk kata yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Sedangkan kata serapan berkaitan dengan unsur bahasa lain yang masuk atau digunakan dalam bahasa Indonesia.

Dengan demikian, kata serapan tidak selalu berarti kata tidak baku.

Sebuah kata yang berasal dari bahasa lain dapat mengalami penyesuaian dan akhirnya menjadi bagian dari kosakata bahasa Indonesia. EYD V secara khusus mengatur bagaimana penulisan dan pelafalan unsur dari bahasa sumber dapat disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. [ejaan.keme...smen.go.id], [ejaan.keme...smen.go.id]

Mengapa Kata Baku dan Kata Serapan Penting Dipelajari?

Pemahaman mengenai kata baku dan kata serapan sangat bermanfaat, terutama bagi pelajar.

Dengan memahaminya, siswa dapat lebih teliti ketika mengerjakan tugas bahasa Indonesia, menyusun laporan, menulis makalah maupun membuat berbagai jenis karya tulis.

Bagi masyarakat umum, pengetahuan tersebut juga membantu ketika membuat surat resmi, laporan pekerjaan atau tulisan yang akan dipublikasikan.

Kosakata bahasa Indonesia sendiri terus berkembang. Kontak antara bahasa Indonesia dengan bahasa daerah maupun bahasa asing turut memperkaya perbendaharaan kata yang digunakan masyarakat. [ejaan.keme...smen.go.id], [badanbahas...smen.go.id]

Bagaimana Cara Mengetahui Sebuah Kata Baku atau Tidak?

Ada beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan.

1. Jangan hanya mengandalkan kebiasaan berbicara

Sebuah kata yang sering terdengar dalam percakapan belum tentu merupakan bentuk yang tepat untuk tulisan formal.

2. Periksa melalui KBBI

Gunakan KBBI ketika ragu mengenai bentuk atau makna sebuah kata. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyediakan KBBI sebagai salah satu layanan kebahasaan untuk masyarakat. [badanbahas...smen.go.id]

3. Gunakan EYD V

Jika keraguan berkaitan dengan aturan penulisan, gunakan EYD V. Pedoman resmi tersebut membahas penggunaan huruf, penulisan kata, tanda baca serta penulisan unsur serapan. [ejaan.keme...smen.go.id], [badanbahas...smen.go.id]

4. Jangan menebak bentuk kata serapan

Unsur serapan mempunyai aturan tersendiri. Beberapa di antaranya mengalami perubahan ejaan, sementara bentuk tertentu yang telah lazim justru dipertahankan. [ejaan.keme...smen.go.id], [ejaan.keme...smen.go.id]

Kesimpulan

Kata baku adalah bentuk kata yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, sedangkan kata serapan berkaitan dengan unsur dari bahasa lain yang masuk dan digunakan dalam bahasa Indonesia.

Unsur serapan dapat berasal dari bahasa daerah maupun bahasa asing. Sebagian unsur masih mempertahankan bentuk bahasa sumber, sementara sebagian lainnya mengalami penyesuaian dengan kaidah bahasa Indonesia. [ejaan.keme...smen.go.id]

Kata baku dan kata serapan sama-sama memiliki peranan penting dalam bahasa Indonesia. Penyerapan kosakata juga menjadi salah satu proses yang membuat perbendaharaan bahasa Indonesia terus berkembang. [badanbahas...smen.go.id]

Karena itu, ketika ragu mengenai sebuah kata, jangan hanya mengandalkan kebiasaan pengucapan atau tulisan yang beredar di media sosial. Gunakan KBBI dan EYD V sebagai rujukan kebahasaan.

Dengan membiasakan diri menggunakan rujukan yang tepat, pelajar dan masyarakat dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan lebih cermat dan benar.


Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi

Sumber Rujukan

  1. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi Kelima (EYD V). [ejaan.keme...smen.go.id], [badanbahas...smen.go.id]
  2. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, EYD V, Penulisan Unsur Serapan. [ejaan.keme...smen.go.id]
  3. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, EYD V, Penulisan Unsur Serapan Umum dan Khusus. [ejaan.keme...smen.go.id], [ejaan.keme...smen.go.id]
  4. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kontribusi Kosakata Bahasa Daerah dalam Bahasa Indonesia. [badanbahas...smen.go.id]

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Pengertian Kata Baku dan Kata Serapan beserta Contohnya
  • Pengertian Kata Baku dan Kata Serapan beserta Contohnya
  • Pengertian Kata Baku dan Kata Serapan beserta Contohnya
  • Pengertian Kata Baku dan Kata Serapan beserta Contohnya
  • Pengertian Kata Baku dan Kata Serapan beserta Contohnya
  • Pengertian Kata Baku dan Kata Serapan beserta Contohnya

Posting Komentar