PMI Surabaya Edukasi PMR Hadapi Ancaman Urban Heat

LINTAS86.com, Surabaya – Terik matahari menyengat halaman sekolah di siang hari yang terik. Lapangan upacara yang gersang tampak memantulkan gelombang panas yang membuat siapa saja enggan berdiri di atasnya. Namun, pemandangan berbeda terlihat hanya beberapa meter dari sana, tepat di bawah rindangnya pepohonan beringin, di mana udara terasa jauh lebih sejuk dan nyaman. Perbedaan suhu ekstrem dalam satu area ini bukan sekadar fenomena cuaca harian biasa. Hal ini merupakan simulasi nyata dari tantangan lingkungan terbesar yang sedang dihadapi kota-kota besar di dunia: Urban Heat Island atau pulau panas perkotaan.
Guna merespons ancaman nyata tersebut, ratusan anggota Palang Merah Remaja (PMR) berkumpul dalam rangkaian Latihan Gabungan PMR Kota Surabaya di Universitas Dr. Soetomo, Sabtu (20/6/2026). 
Melalui forum Climate Talk bertajuk "Urban Heat: Panas Melanda Surabaya, Saatnya PMR Aksi Nyata", para relawan muda ini diajarkan untuk tidak lagi memandang suhu panas sebagai takdir cuaca, melainkan sebuah tantangan kesehatan dan lingkungan yang harus dimitigasi sejak dini. 
Kegiatan strategis ini mendapatkan dukungan penuh dari American Red Cross (AmCross) serta International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC).

Memahami Data Global Warming Melalui Kacamata BMKG

Kenaikan suhu udara yang dirasakan oleh warga Kota Pahlawan belakangan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Terdapat benang merah yang kuat antara aktivitas pembangunan kota dengan perubahan iklim global yang terus bereskalasi dari tahun ke tahun.
Narasumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Shanaz Septy Prayuda, S.Tr., M.T., memaparkan data komprehensif mengenai tren peningkatan suhu di Indonesia. 
Menurutnya, lonjakan suhu ekstrem yang terjadi saat ini merupakan kelanjutan dari rekor panas yang terus pecah di tingkat nasional.
"Peningkatan suhu yang dirasakan masyarakat saat ini tidak terlepas dari fenomena global warming atau pemanasan global. Berdasarkan pencatatan historis, tahun 2025 kemarin tercatat resmi sebagai tahun terpanas kelima sepanjang sejarah pengamatan meteorologi di Indonesia. Anomali suhu yang kita alami mencapai angka 0,36 derajat Celsius di atas batas normal," jelas Septy saat memaparkan materi di hadapan peserta.
Meskipun angka 0,36 derajat Celsius terdengar sangat kecil bagi orang awam, Septy mengingatkan bahwa dalam sistem iklim global, dampak akumulatifnya sangat masif. 
Kenaikan ini memicu anomali cuaca yang sulit diprediksi, meningkatkan konsumsi energi listrik secara drastis akibat penggunaan alat pendingin, serta memperparah risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat urban yang rentan.

Mengapa Surabaya Terasa Lebih Panas? Mengenal Urban Heat Island

Faktor makro seperti pemanasan global bukanlah satu-satunya pemicu gerahnya udara di Surabaya. Kota metropolitan seperti Surabaya memiliki karakteristik infrastruktur yang memperparah akumulasi panas di lapisan atmosfer bawah. Fenomena lokal inilah yang dikenal secara ilmiah sebagai Urban Heat Island (UHI).
Pakar Kesehatan Masyarakat dari Universitas Airlangga (Unair), Oedaja Soedirham, dr., M.PH., M.A., Ph.D., mengupas tuntas mengapa suhu udara di kawasan perkotaan selalu memegang rekor lebih tinggi jika dibandingkan dengan wilayah pedesaan di sekitarnya.
"Perbedaan antara desa dan kota terlihat jelas dari struktur permukaannya. Di desa, permukaan tanah terbuka dan vegetasi hijau masih sangat mendominasi, sehingga radiasi panas matahari dapat diserap dan dilepaskan kembali ke atmosfer secara alami. Sebaliknya, wilayah kota modern kini dipenuhi oleh hamparan beton, jalan aspal, serta gedung-gedung tinggi yang bersifat menyerap dan menyimpan panas dalam jangka waktu yang jauh lebih lama," tutur Oedaja.
Selain masalah material bangunan yang tidak ramah termal, Oedaja juga menyoroti tata ruang kota. 
Kerapatan bangunan yang terlalu padat menyebabkan sirkulasi angin terhambat, sehingga panas terjebak di area permukiman. 
Kondisi ini diperparah oleh panas antropogenik yang diproduksi langsung dari mobilitas kendaraan bermotor, aktivitas industri manufaktur, hingga buangan udara panas dari mesin pengondisi udara (Air Conditioner) yang digunakan secara masif di perkantoran dan rumah tinggal.

Menjadikan Sekolah Sebagai Laboratorium Panas Mandiri

Agar teori sains tentang urban heat ini tidak terasa mengawang-awang, panitia pelatihan mengajak para anggota PMR melakukan pendekatan kontekstual. 
Mereka diajak melihat area sekolah masing-masing sebagai sebuah "laboratorium panas" mini yang mencerminkan kondisi kota secara makroskopis.
Dalam lingkungan sekolah, terdapat titik-titik mikro-iklim yang memiliki karakter suhu bertolak belakang, antara lain:

Area Penumpukan Panas (Hotspots)

  • Lapangan Upacara: Area terbuka luas berbahan semen atau aspal tanpa adanya naungan pohon pelindung.
  • Area Parkir Kendaraan: Lapangan yang dipenuhi kendaraan berbahan logam yang memantulkan dan menyimpan radiasi panas.
  • Ruang Kelas Tanpa Ventilasi: Ruangan dengan langit-langit rendah berbahan atap seng atau beton tanpa sirkulasi udara silang yang memadai.

Area Pendinginan Alami (Coolspots)

  • Taman Sekolah: Zona vegetasi dengan rumput alami yang aktif melakukan transpirasi untuk mendinginkan udara.
  • Kawasan Rindang: Lorong-lorong sekolah yang terlindungi oleh kanopi pohon pelindung berdaun lebat.
  • Gazebo dan Ruang Terbuka Hijau: Ruang sosial dengan desain arsitektur ramah lingkungan yang mengoptimalkan angin alami.
Melalui simulasi pemetaan titik panas ini, para peserta PMR dilatih untuk peka terhadap kondisi termal di sekitar mereka. Mereka belajar mengidentifikasi area mana saja di sekolah yang membutuhkan intervensi penghijauan mendesak.

Dampak Nyata Terhadap Kesehatan Remaja dan Lingkungan

Ancaman terbesar dari melonjaknya intensitas urban heat di lingkungan sekolah bukan sekadar rasa tidak nyaman saat belajar, melainkan penurunan tingkat produktivitas dan ancaman penyakit fisik.
Oedaja Soedirham kembali menekankan bahwa paparan suhu tinggi dalam ruangan kelas secara terus-menerus memicu beban kerja termal yang berat bagi tubuh remaja. 
Dari sisi medis, kondisi lingkungan yang terlalu panas secara konsisten dapat meningkatkan risiko dehidrasi akut, memicu kelelahan ekstrem akibat panas (heat exhaustion), penurunan konsentrasi belajar, hingga potensi penyakit kardiovaskular jika tubuh dipaksa bekerja keras mendinginkan diri secara konvensional.
Oleh karena itu, langkah mitigasi struktural dan non-struktural harus segera diambil oleh pihak sekolah dengan melibatkan peran aktif kader kesehatan remaja seperti PMR.

Suara Relawan: Tantangan dan Aksi Nyata di Lingkungan Sekolah

Mendapatkan pembekalan materi yang komprehensif membuat para peserta sadar bahwa peran mereka sangat krusial sebagai agen perubahan di lingkungan sekolah.
Salah satu peserta PMR tingkat Wira (SMA) yang meminta identitasnya dirahasiakan demi kenyamanan, mengungkapkan bahwa pelatihan ini membuka matanya mengenai kondisi sekolahnya sendiri yang terletak di pusat keramaian kota Surabaya.
"Selama ini kami mengira kalau ruang kelas terasa sangat gerah itu murni karena cuaca Surabaya yang memang panas dari sananya. Setelah ikut Climate Talk ini, saya baru sadar kalau lapangan sekolah kami yang dicor semen penuh dan minimnya pohon pelindung adalah penyebab utama panasnya lingkungan sekolah. Setelah pulang dari sini, saya dan teman-teman unit PMR berencana menghadap kepala sekolah. Kami ingin mengusulkan gerakan menanam tanaman merambat untuk green wall di depan kelas dan menaruh tanaman pot di koridor sekolah. Kami ingin membuktikan kalau PMR tidak cuma bisa mengobati orang pingsan, tapi juga bisa mencegah sekolah dari ancaman krisis iklim," ujarnya dengan penuh optimisme.

Langkah Strategis Mitigasi Urban Heat Berbasis Komunitas

Menghadapi tantangan global ini, kolaborasi antara kebijakan pemerintah dan aksi akar rumput merupakan kunci keberhasilan utama. Berbagai program adaptasi perubahan iklim sebenarnya telah diinisiasi oleh pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kota Surabaya sendiri telah diakui secara nasional sebagai salah satu daerah percontohan yang sukses mengembangkan Program Kampung Iklim (ProKlim).
Untuk mendukung program pemerintah tersebut, sekolah-sekolah di Surabaya melalui unit PMR dapat menerapkan beberapa rekomendasi mitigasi taktis berikut:
  • Penerapan Cool Roof: Mengecat atap bangunan sekolah dengan warna putih atau pelapis khusus yang memiliki daya refleksi matahari tinggi guna menurunkan suhu ruangan di bawahnya.
  • Pembuatan Green Wall dan Vertical Garden: Memanfaatkan dinding bangunan luar yang kosong untuk ditanami tanaman merambat guna mereduksi penyerapan panas oleh material beton.
  • Infrastruktur Permeabel: Mengganti penutup halaman sekolah dari semen padat menjadi paving block berpori atau rumput alami agar air hujan dapat terserap sekaligus menjaga kelembapan tanah.
  • Edukasi Adaptasi Individu: Mengampanyekan penggunaan pakaian berbahan katun tipis berwarna terang saat beraktivitas di luar ruangan untuk membantu memantulkan radiasi panas.
Pelajaran penting yang dipetik oleh ratusan relawan muda PMR Surabaya hari itu menegaskan bahwa menghadapi perubahan iklim tidak harus selalu dimulai dengan proyek skala besar. Melalui tindakan kecil yang konsisten—mulai dari merawat satu pohon di pojok halaman sekolah hingga mengedukasi teman sebaya mengenai bahaya dehidrasi—para remaja ini sedang meletakkan batu pertama bagi pembangunan Kota Surabaya yang lebih sejuk, sehat, dan tangguh di masa depan.

Penulis: Haafiid N 
Editor: Redaksi
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • PMI Surabaya Edukasi PMR Hadapi Ancaman Urban Heat
  • PMI Surabaya Edukasi PMR Hadapi Ancaman Urban Heat
  • PMI Surabaya Edukasi PMR Hadapi Ancaman Urban Heat
  • PMI Surabaya Edukasi PMR Hadapi Ancaman Urban Heat
  • PMI Surabaya Edukasi PMR Hadapi Ancaman Urban Heat
  • PMI Surabaya Edukasi PMR Hadapi Ancaman Urban Heat

Posting Komentar