PMI Surabaya Gerakkan 1.400 PMR Lawan Urban Heat
LINTAS86.com, Surabaya– Gelombang panas ekstrem kini bukan lagi sekadar isu global yang jauh dari realitas kehidupan sehari-hari. Di kota metropolitan seperti Surabaya, fenomena kenaikan suhu udara akibat berkurangnya ruang terbuka hijau dan masifnya pembangunan infrastruktur beton telah menjadi tantangan nyata yang mengancam kesehatan masyarakat. Merespons ancaman tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya mengambil langkah taktis dengan menggerakkan ribuan relawan muda untuk mengampanyekan mitigasi krisis iklim dari tingkat sekolah.
Tepat pada Sabtu (20/6/2026), atmosfer Kampus Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) tampak berbeda dari biasanya. Sebanyak 1.400 anggota Palang Merah Remaja (PMR) dari berbagai sekolah se-Kota Surabaya berkumpul dengan satu misi besar. Mereka menyatukan kekuatan dalam ajang Latihan Gabungan (Latgab) PMR se-Kota Surabaya. Mengusung tema besar "Urban Heat: Panas Melanda Surabaya, Saatnya PMR Aksi Nyata", kegiatan kolaboratif ini didukung penuh oleh American Red Cross (AmCross) serta International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC).
Urgensi Isu Urban Heat di Wilayah Perkotaan Surabaya
Pemilihan tema Urban Heat (pulau panas perkotaan) bukan tanpa alasan kuat. Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, Surabaya mengalami transformasi tata ruang yang sangat masif. Kepadatan bangunan bertingkat, aspal jalanan yang menyerap radiasi matahari, serta tingginya mobilitas kendaraan bermotor memicu penumpukan panas antropogenik di lapisan atmosfer bawah.
Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara di area perkotaan terasa jauh lebih menyengat dibandingkan dengan wilayah pedesaan yang masih kaya vegetasi. Dampak buruknya pun mulai mengintai aktivitas belajar mengajar di sekolah. Paparan gelombang panas yang ekstrem berpotensi tinggi memicu gangguan kesehatan fisik pada anak-anak dan remaja, mulai dari gejala dehidrasi akut, kelelahan parah akibat panas (heat exhaustion), hingga penurunan fungsi kognitif dan daya konsentrasi belajar di ruang kelas.
Melalui Latgab berskala besar ini, PMI Kota Surabaya memosisikan para anggota PMR sebagai garda terdepan atau pelopor edukasi kemanusiaan. Mereka dibekali pengetahuan komprehensif agar mampu menjadi agen perubahan yang menyebarluaskan strategi pencegahan dampak buruk cuaca panas di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal masing-masing.
Apresiasi Rektor Unitomo Terhadap Semangat Kemanusiaan Relawan Muda
Pelaksanaan kegiatan yang bertepatan dengan puncak cuaca terik khas Surabaya ini tidak menyurutkan semangat para peserta. Sejak pagi hari, ribuan remaja berpakaian seragam lapangan khas PMR tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian simulasi dan pembekalan materi.
Kehadiran dan daya juang ribuan relawan muda ini mendapat apresiasi tinggi dari institusi tuan rumah. Rektor Universitas Dr. Soetomo, Prof. Dr. Siti Marwiyah, S.H., M.H., menyampaikan rasa bangganya saat melihat antusiasme para pelajar yang peduli pada isu-isu krusial masa depan bumi.
"Kami mengapresiasi kehadiran dan semangat para peserta yang tetap antusias mengikuti kegiatan ini di tengah cuaca panas Kota Surabaya. Kepada para orang tua, tidak perlu khawatir karena kegiatan ini merupakan wadah pembelajaran yang sangat positif bagi putra-putri mereka. Selamat berlatih dan terus mengembangkan kemampuan diri. Piala bukanlah tujuan utama, melainkan simbol dari proses belajar dan semangat untuk terus hadir memberikan aksi kemanusiaan yang bermanfaat bagi sesama," ujar Prof. Siti Marwiyah dalam sambutannya di hadapan ribuan peserta.
Beliau juga menambahkan bahwa kampus Unitomo selalu terbuka untuk menjadi ruang kolaborasi ilmiah dan sosial yang melahirkan inovasi mitigasi bencana bagi generasi muda.
Ruang Eksplorasi Potensi dan Wawasan Isu Kemanusiaan Kontemporer
Kegiatan Latgab PMR tahun 2026 ini dirancang secara interaktif dan edukatif agar pesan-pesan ilmiah mengenai perubahan iklim dapat dicerna dengan mudah oleh para remaja. Berbagai pos kegiatan taktis disiapkan oleh panitia, mulai dari Youth Station, simulasi Sekolah Siaga Bencana (SSB), kompetisi orasi bertema Urban Heat, hingga sesi pemutaran video edukasi kreatif yang diproduksi sendiri oleh masing-masing unit sekolah.
Pengembangan metode edukasi ini dinilai sangat efektif untuk mengasah kepekaan sosial sekaligus keterampilan teknis kepalangmerahan peserta. Meuti Nadia Soraya Bulan, S.Psi., menegaskan bahwa momentum Latgab ini merupakan panggung strategis bagi para siswa untuk membuktikan kapasitas diri mereka di luar bidang akademik sekolah.
"Melalui kegiatan ini, anggota PMR dapat mengeksplorasi kemampuan diri, mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, serta menunjukkan peran positif sebagai anggota PMR. Latihan Gabungan PMR merupakan ruang bagi anggota PMR untuk mengeksplorasi dan mengembangkan potensi diri serta memperluas wawasan mengenai isu-isu kemanusiaan yang relevan dengan kondisi saat ini. Harapannya, ilmu yang diperoleh selama kegiatan dapat diterapkan dan disebarluaskan di lingkungan sekolah maupun masyarakat," tutur Meuti Nadia Soraya Bulan jelas.
Suara dari Lapangan: Mengubah Rasa Gerah Menjadi Gerakan Nyata
Di sela-sela padatnya jadwal simulasi di area luar ruangan Universitas Dr. Soetomo, para peserta aktif bertukar pengalaman mengenai kondisi mikro-iklim di sekolah mereka masing-masing. Sebagian besar mengonfirmasi bahwa halaman sekolah yang dilapisi semen padat tanpa pohon menjadi titik terpanas yang paling dihindari saat jam istirahat.
Salah seorang anggota PMR tingkat Wira yang enggan disebutkan namanya membagikan refleksinya setelah mengikuti sesi talkshow interaktif bersama pakar klimatologi dari BMKG dan akademisi Universitas Airlangga. Remaja tersebut mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai solusi praktis mengatasi panas perkotaan.
"Awalnya saya kira latihan gabungan ini cuma soal pasang tenda atau balut bidai seperti biasa. Ternyata kami diajari konsep Urban Heat Island yang membuat saya sadar kenapa sekolah saya terasa panas sekali akhir-akhir ini. Jujur, tadi di lapangan sempat terasa gerah dan melelahkan, tapi penjelasan dari para ahli membuat kami sadar kalau masalah ini serius sekali. Sepulang dari sini, unit PMR kami berniat membuat projek cool roof kecil-kecilan dengan mengecat beberapa atap posko kami pakai warna putih cerah agar mantulkan panas, serta mengajak teman-teman sekelas untuk selalu membawa botol minum sendiri demi mencegah dehidrasi massal di sekolah," tuturnya penuh komitmen.
Rencana Aksi Taktis PMR Surabaya dalam Memitigasi Suhu Ekstrem
Sesuai dengan semangat slogan "Panas Melanda Surabaya, Saatnya PMR Aksi Nyata", luaran dari kegiatan ini bukan sekadar pemahaman teori di atas kertas. PMI Kota Surabaya mendorong seluruh unit sekolah yang terlibat untuk segera mengimplementasikan program penataan lingkungan mandiri.
Beberapa poin rekomendasi aksi taktis yang dapat dilakukan oleh 1.400 relawan muda sekembalinya mereka ke sekolah antara lain:
- Kampanye Green Lifestyle Sekolah: Mengedukasi warga sekolah untuk memperbanyak penanaman vegetasi pot di area koridor kelas guna menciptakan sirkulasi udara yang lebih sejuk.
- Optimalisasi Satuan Tugas Kesehatan: Menugaskan kader PMR di sekolah untuk memantau pemenuhan kebutuhan hidrasi siswa selama jam olahraga dan upacara bendera guna menghindari kasus pingsan akibat heat stroke.
- Advokasi Pembangunan Hijau: Berdialog dengan pihak manajemen sekolah untuk memprioritaskan pembuatan area resapan air dan mengurangi penutupan halaman sekolah menggunakan semen padat atau aspal.
Melalui sinergi yang kokoh antara pembekalan materi berkualitas tinggi dan gerakan akar rumput yang digerakkan oleh para remaja ini, PMI Kota Surabaya optimistis mampu menciptakan ekosistem sekolah yang lebih aman, nyaman, sehat, dan tangguh dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global di masa depan.
Penulis: Haafiid
Editor: Redaksi

Posting Komentar