BPBD Kabupaten Blitar Gelar Review Gladi Kontinjensi Erupsi Gunung Kelud Demi Perkuat Mitigasi Bencana
LINTAS86.com, BLITAR — Upaya serius dalam memperkuat sistem mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana alam terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Blitar. Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar, sebuah forum strategis bertajuk Rapat Koordinasi Review Pelaksanaan Gladi Kontinjensi Penanganan Letusan Gunung Api Kelud resmi digelar pada hari Kamis, 6 Agustus 2026.
Kegiatan penting yang berpusat di Aula Kantor BPBD Kabupaten Blitar ini dibuka secara langsung oleh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blitar, Wahyudi, ST., MM. Dalam pelaksanaannya, beliau didampingi oleh Kepala Bidang Kesiapsiagaan, Sabar, serta dihadiri oleh kurang lebih 40 peserta yang merepresentasikan berbagai unsur pentahelix penanggulangan bencana di daerah.
Kehadiran puluhan peserta dari berbagai lintas instansi ini mencerminkan komitmen kuat bersama untuk membangun koordinasi yang solid, terintegrasi, dan siap siaga dalam melindungi masyarakat dari potensi bahaya aktivitas vulkanik Gunung Kelud yang sewaktu-waktu dapat meningkat.
Partisipasi Aktif Unsur Pentahelix Kebencanaan
Keberhasilan penanganan darurat bencana sangat ditentukan oleh kolaborasi lintas sektoral yang terjalin dengan baik sejak jauh hari. Dalam rapat koordinasi ini, unsur peserta yang hadir berasal dari spektrum yang sangat luas, mencakup jajaran instansi pemerintah daerah, unsur aparat keamanan, lembaga teknis vertikal, hingga organisasi relawan kemanusiaan.
Beberapa instansi dan lembaga terkemuka yang ambil bagian dalam forum ini meliputi:
- Unsur TNI dan POLRI yang bertanggung jawab atas aspek keamanan, ketertiban umum, serta evakuasi warga.
- Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blitar.
- Dinas Sosial Kabupaten Blitar selaku penanggung jawab klaster logistik dan dapur umum pengungsian.
- Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD).
- Dinas Perhubungan Kabupaten Blitar yang memegang peran vital dalam manajemen lalu lintas jalur evakuasi.
- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebagai lembaga pengamat aktivitas gunung api terpercaya.
- Posko SAR Malang.
- Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Blitar.
- Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) dan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) yang memastikan kelancaran komunikasi darurat.
- Serta berbagai lembaga, komunitas, dan penggiat kebencanaan lokal lainnya.
Urgensi Pembaruan Dokumen Rencana Kontinjensi (Renkon)
Dalam sambutan pembukanya, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blitar, Wahyudi, ST., MM, memaparkan bahwa penyusunan dokumen perencanaan penanggulangan bencana harus terus dievaluasi agar selalu relevan dengan dinamika di lapangan.
"Pertemuan ini bertujuan untuk menyempurnakan Rencana Kontinjensi (Renkon) Penanganan Letusan Gunung Api Kelud, sehingga seluruh pihak yang terlibat dapat semakin bersinergi, memiliki pembagian tugas yang jelas, serta lebih siap dalam menghadapi potensi erupsi Gunung Kelud," ujar Wahyudi di hadapan puluhan peserta rapat.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh pemaparan dari Happy, selaku Konsultan Kebencanaan BPBD Kabupaten Blitar. Dalam materinya, ia menjelaskan bahwa pembaruan dokumen Renkon sudah menjadi kebutuhan mutlak yang mendesak. Dokumen perencanaan kontinjensi yang lama diketahui telah disusun sekitar tiga tahun yang lalu dan kini sudah banyak mengalami perubahan mendasar.
"Penyusunan Renkon yang baru menjadi sangat penting mengingat dokumen sebelumnya telah disusun sekitar tiga tahun lalu dan kini sudah banyak mengalami perubahan, terutama terkait kondisi lapangan, infrastruktur, serta data kependudukan," jelas Happy.
Masukan Strategis dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Blitar
Sesi diskusi interaktif dalam rapat koordinasi tersebut diwarnai oleh berbagai masukan konstruktif dari para pemangku kepentingan. Salah satu pandangan dan rekomendasi strategis yang mendapat perhatian khusus disampaikan oleh perwakilan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Blitar, Sunu Ali Wardhana, selaku Sekretaris Pengurus.
Dalam pemaparannya, Sunu merumuskan empat poin masukan penting guna menyempurnakan dokumen Rencana Kontinjensi Gunung Kelud:
- Peninjauan Kembali Kondisi Lapangan: Perlunya pengecekan fisik secara berkala terhadap kondisi eksisting di lapangan, khususnya menyangkut kelayakan jalur evakuasi utama, rambu penunjuk arah, serta kapasitas daya tampung titik kumpul (assembly points) warga.
- Pemutakhiran Data Populasi Terdampak: Pemerintah daerah harus segera memperbarui data kependudukan secara akurat mengenai jumlah warga yang bermukim di wilayah-wilayah yang berpotensi langsung terdampak, meliputi Kecamatan Gandusari, Garum, Nglegok, Ponggok, dan Udanawu.
- Pendataan Kesiapan Sumber Daya: Diperlukannya inventarisasi yang komprehensif terhadap ketersediaan sumber daya, baik dari segi sarana prasarana milik pemerintah maupun logistik dan personel yang dimiliki oleh para penggiat kebencanaan di Kabupaten Blitar.
- Sinkronisasi Melalui Simulasi Berkala: Seluruh instansi dan unsur terkait harus menyelaraskan gerak langkah melalui pelaksanaan Gladi Posko dan Gladi Lapang secara rutin dan terprogram.
Pentingnya Pelaksanaan Gladi Posko dan Gladi Lapang
Menanggapi berbagai usulan dan dinamika diskusi, Konsultan Kebencanaan BPBD Kabupaten Blitar menekankan bahwa penyempurnaan dokumen tulis Renkon belumlah cukup jika tidak diuji melalui praktik langsung di lapangan.
"Setelah penyempurnaan dokumen Renkon, tahapan yang tidak kalah penting adalah pelaksanaan Gladi Posko dan Gladi Lapang yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Melalui latihan tersebut diharapkan koordinasi antarinstansi semakin solid, mekanisme penanganan darurat dapat berjalan efektif, dan kesiapsiagaan menghadapi potensi letusan Gunung Kelud dapat terus ditingkatkan," tegas Happy.
Rangkaian latihan simulasi berupa Gladi Posko (Command Post Exercise) dirancang untuk menguji rantai komando, kecepatan pengambilan keputusan, serta efektivitas arus komunikasi darurat di pos komando taktis. Sementara itu, Gladi Lapang (Field Training Exercise) akan menguji kesiapan fisik di lapangan, mulai dari proses peringatan dini (early warning), mobilisasi masyarakat menuju titik evakuasi, hingga pendirian pos pengungsian sementara.
Komitmen Menuju Kabupaten Blitar Tangguh Bencana
Rapat koordinasi dan review pelaksanaan gladi kontinjensi ini menjadi tonggak penting bagi Kabupaten Blitar dalam membangun ekosistem penanggulangan bencana yang tangguh dan terintegrasi.
Dengan memadukan perencanaan berbasis data mutakhir, pemutakhiran informasi demografi di zona rawan erupsi, kejelasan pembagian peran antarinstansi, serta uji coba operasional secara berkala melalui gladi, diharapkan seluruh elemen di Kabupaten Blitar—baik pemerintah, aparat keamanan, lembaga kemanusiaan, maupun masyarakat luas—memiliki kesiapan mental dan teknis yang optimal. Upaya preventif ini diharapkan mampu meminimalkan risiko bencana dan mewujudkan tujuan utama perlindungan keselamatan jiwa warga secara menyeluruh (zero casualty).

Posting Komentar