Dari Nol hingga Berprestasi: Ketika PMR Membentuk Karakter dan Jiwa Kemanusiaan Siswa
Salah satu sosok yang berada di balik proses tersebut adalah Laily, guru BK sekaligus fasilitator PMR MAN 2 Gresik. Ia telah menjadi fasilitator PMR sejak 2022, setelah sebelumnya aktif sebagai anggota KSR Universitas Negeri Malang. Saat pertama kali mendampingi para siswa, Laily menemukan sebuah tantangan Dimana sebagian besar anggota PMR belum memiliki pemahaman yang kuat mengenai materi dasar kepalangmerahan. Bahkan, beberapa materi yang seharusnya menjadi bagian dari pembelajaran PMR masih belum mereka kenal.
Perubahan itu terlihat ketika MAN 2 Gresik mengikuti Jumbara Kabupaten untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tidak mengikuti perlombaan. Dengan persiapan yang dimulai dari nol, para siswa justru mampu membawa pulang 12 piala dan menempati posisi kedua dalam perolehan juara.
“Sekarang waktunya pembuktian, waktunya saling buktiin dan disana sampai ada yang tumbang tipes hingga opname, tapi ketika opname mereka masih belajar dan gak pernah aku ngelihat anakku sebelajar itu. Terus minta pulang sama dokternya sampai bilang gini “Dokter, saya mau pulang”, “loh. kenapa kamu belum sembuh?”, “Saya mau lomba. Saya pengen segera pulang.” Bagi Laily, pencapaian tersebut bukan hanya tentang jumlah piala.
Baginya, piala hanya menjadi pencapaian pada satu momen. Setelah perlombaan selesai, siswa akan kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Yang jauh lebih penting adalah nilai dan kebiasaan yang mereka bawa setelah mengikuti PMR.
Pembelajaran seperti inilah yang menurut Laily menjadi bagian penting dari PMR: bukan hanya mengetahui teori, tetapi mampu menghubungkan pengetahuan tersebut dengan kehidupan sehari-hari. Pada akhirya, PMR bukan hanya tentang tandu, pertolongan pertama, perlombaan, atau piala yang tersusun di lemari sekolah. Lebih dari itu, PMR menjadi tempat bagi para siswa untuk belajar tentang arti kepedulian, keberanian, tanggung jawab, dan kemanusiaan.
Laily pun menyampaikan pesan sederhana bagi para siswa yang masih ragu untuk bergabung dengan PMR.
“PMR itu adalah sebuah dunia yang sangat menyenangkan. Kita diajari pentingnya kemanusiaan. Kita diajari untuk bermanfaat bagi banyak orang.” Sebab, pada akhirnya, keberhasilan sebuah organisasi tidak selalu diukur dari seberapa banyak piala yang berhasil diraih. Ada sesuatu yang jauh lebih berharga ketika seorang siswa yang awalnya datang tanpa tujuan, pulang dengan karakter yang lebih kuat, kepedulian yang lebih besar, dan keberanian untuk membantu sesama.
Dari PMR, mereka belajar menolong orang lain. Dan dari proses itu, mereka juga belajar menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
Penulis: Peserta Pelatihan Kehumasan PMI Provinsi Jawa Timur 2026
Editor: Redaksi

Posting Komentar