Cerita Keluarga Penyintas KM Virgo Transport 8 Sentuh Emosi Relawan di Tanjung Perak

LINTAS86.com, Surabaya – Menjadi pendengar bagi keluarga yang sedang menunggu kabar orang terdekat ternyata bukan perkara mudah. Pengalaman itu dirasakan Valysha Shafa Assyifaa saat menjalankan tugas kemanusiaan untuk mendampingi keluarga penyintas KM Virgo Transport 8 di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Cerita yang disampaikan keluarga penyintas bahkan sempat menyentuh emosi relawan PMI Kota Surabaya tersebut.

“Mendengar cerita dari keluarga penyintas buat aku terenyuh dan hampir mengeluarkan air mata,” ujar Valysha, Selasa (15/9/2026).

Di tengah situasi tersebut, Valysha bersama relawan lainnya tetap berupaya menjaga ketenangan ketika memberikan pelayanan.

Pengalaman itu menggambarkan sisi lain dalam penanganan kecelakaan laut. Di saat petugas melakukan koordinasi dan informasi mengenai penyintas terus dinantikan, keluarga di darat juga harus menghadapi ketidakpastian mengenai kondisi orang terdekat mereka.

Menjadi Penghubung bagi Keluarga

Memasuki hari kedua keterlibatan dalam layanan gabungan penanganan KM Virgo Transport 8, PMI Kota Surabaya bergabung bersama Pos Layanan BPBD Kota Surabaya di Pelabuhan Tanjung Perak.

Salah satu pelayanan yang diberikan adalah Restoring Family Links (RFL).

Layanan ini menjadi sarana untuk membantu menjembatani komunikasi antara penyintas dengan keluarganya, termasuk membantu keluarga yang sedang mencari informasi mengenai anggota keluarga mereka.

Keluarga penyintas dapat mengakses RFL dengan datang langsung ke Pos Layanan di Pelabuhan Tanjung Perak.

Masyarakat yang tidak berada di lokasi juga dapat menghubungi petugas PMI melalui pesan WhatsApp untuk mendapatkan dukungan dalam proses komunikasi dan pencarian informasi mengenai anggota keluarga.

Kebutuhan akan komunikasi menjadi salah satu persoalan penting ketika keluarga terpisah dalam kondisi darurat. Namun, memperoleh informasi bukan satu-satunya hal yang dibutuhkan keluarga.

Pendampingan Saat Menunggu Kepastian

Tekanan emosional dapat muncul ketika seseorang harus menunggu kabar mengenai keluarganya dalam situasi krisis.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis diberikan kepada keluarga penyintas yang datang ke Pelabuhan Tanjung Perak, terutama mereka yang masih menunggu informasi mengenai kondisi kerabatnya.

Pendampingan diberikan untuk membantu keluarga menghadapi situasi krisis, menyediakan ruang aman untuk menyampaikan perasaan, sekaligus mengenali apabila terdapat kebutuhan dukungan lebih lanjut.

Interaksi inilah yang mempertemukan relawan dengan berbagai cerita personal keluarga.

Bagi Valysha, mendengarkan cerita tersebut turut memengaruhi emosinya. Kendati demikian, relawan berupaya tetap menjadi pendengar dan memberikan dukungan kepada keluarga yang tengah melewati masa penuh ketidakpastian.

Relawan Berjaga hingga Malam

Untuk menjaga keberlangsungan pelayanan, relawan PMI Kota Surabaya bertugas menggunakan sistem shift.

Layanan dibuka mulai pukul 06.00 hingga 22.00 WIB, dengan pergantian petugas pada pukul 14.00 WIB.

Pembagian waktu tersebut dilakukan agar pendampingan tetap dapat diberikan kepada keluarga sekaligus menjaga kesiapan relawan selama menjalankan tugas.

Pelayanan juga dilakukan secara kolaboratif.

Selain PMI Kota Surabaya dan BPBD Kota Surabaya, unsur yang terlibat meliputi BASARNAS, DVI Biddokkes Polda Jawa Timur, KP3 Tanjung Perak, BPBD Provinsi Jawa Timur, serta Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur.

Dukungan psikologis bagi keluarga penyintas juga diberikan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Petugas Dinas Sosial dan PMI berkolaborasi dalam pemberian PFA kepada anggota keluarga penyintas yang membutuhkan pendampingan.

Ada Sisi Kemanusiaan di Balik Penantian

Penanganan kecelakaan laut tidak hanya berkaitan dengan operasi di lapangan. Di belakangnya terdapat keluarga yang terus menunggu informasi tentang orang yang mereka cintai.

Dalam situasi seperti ini, komunikasi dan dukungan psikologis memiliki peran yang berbeda tetapi saling melengkapi.

RFL membantu membuka jalur komunikasi dan pencarian informasi bagi keluarga, sedangkan PFA memberikan dukungan awal ketika keluarga harus menghadapi tekanan akibat situasi krisis.

Pada akhirnya, pendampingan juga bukan sebatas prosedur pelayanan. Ada interaksi antarmanusia di dalamnya, ketika keluarga membutuhkan tempat untuk menyampaikan perasaan dan relawan berusaha hadir sebagai pendengar.

Hingga hari kedua pelayanan, PMI Kota Surabaya bersama unsur yang terlibat masih melakukan koordinasi serta membuka akses RFL dan PFA bagi keluarga penyintas KM Virgo Transport 8 yang membutuhkan.

Penulis: Intan Mauludi Lestari
Editor: Redaksi 


Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Cerita Keluarga Penyintas KM Virgo Transport 8 Sentuh Emosi Relawan di Tanjung Perak
  • Cerita Keluarga Penyintas KM Virgo Transport 8 Sentuh Emosi Relawan di Tanjung Perak
  • Cerita Keluarga Penyintas KM Virgo Transport 8 Sentuh Emosi Relawan di Tanjung Perak
  • Cerita Keluarga Penyintas KM Virgo Transport 8 Sentuh Emosi Relawan di Tanjung Perak
  • Cerita Keluarga Penyintas KM Virgo Transport 8 Sentuh Emosi Relawan di Tanjung Perak
  • Cerita Keluarga Penyintas KM Virgo Transport 8 Sentuh Emosi Relawan di Tanjung Perak

Posting Komentar