Mengelola Setetes Berkah Demi Menjaga Napas Kehidupan


LINTAS86.com, PONOROGO - Deru truk tangki Palang Merah Indonesia (PMI) yang perlahan meninggalkan kawasan RT 02 RW 05 menyisakan senyum lega sekaligus lembaran perjuangan baru bagi Pardi (60) dan Mariyem. Air jernih yang kini menggenangi wadah-wadah penampungan di rumah mereka disambut sebagai berkah luar biasa di tengah gersangnya musim kemarau yang melanda wilayah perbukitan tersebut.

Namun, pasca-penerimaan bantuan tersebut, Pardi sadar betul bahwa pasokan air bersih tidaklah abadi. Memahami betapa sulitnya proses pendistribusian dan terbatasnya kuota bantuan, lansia ini langsung menerapkan manajemen air yang ketat di rumah tangga mereka. 

Air jernih dari PMI diartikan sebagai "barang mahal" yang penggunaannya harus disortir dengan sangat bijak. Pardi memutuskan untuk mengkhususkan bantuan tersebut hanya untuk kebutuhan paling vital: konsumsi harian.

"Air dari PMI ini sangat bersih, jadi kami khususkan untuk memasak dan minum sehari-hari," tutur Pardi menjelaskan pembagian jatah air di rumahnya.

Pengetatan ini berdampak pada aktivitas domestik lainnya. Untuk urusan mandi dan mencuci pakaian, Pardi secara sadar memilih untuk tidak "menghabiskan" air jernih kiriman PMI. Pasca-bantuan dialokasikan untuk minum dan masak, ia kembali menguatkan kakinya melangkah menyusuri sudut perbukitan lain guna mencari belik atau sumber air alternatif yang masih tersisa. Walau kualitas air yang didapat jauh dari kata jernih dan cenderung keruh, Pardi rela melakoninya demi menghemat pasokan air konsumsi. Rasa lelah menyusuri jalanan terik demi sebaskom air mandi menjadi konsekuensi yang tetap ia jalani dengan lapang dada.

Melihat kenyataan bahwa kemarau adalah siklus tahunan yang terus berulang dan kondisi fisiknya yang makin menua, Pardi menatap masa depan dengan sebuah harapan sederhana. Ia sangat berharap program penanganan kekeringan dan distribusi air bersih seperti yang dilakukan PMI tidak berhenti sebagai aksi sesaat, melainkan terus mengalir secara berkala dan berkelanjutan.

Bagi Pardi dan Mariyem, bantuan air bersih pasca-kekeringan parah bukan sekadar urusan logistik atau bantuan darurat biasa. Uluran tangan tersebut adalah pilar utama penopang kehidupan yang menjaga napas dan martabat mereka untuk terus bertahan di tengah ketidakpastian musim. 

Penulis: Zabidi 
Editor: Redaksi
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Mengelola Setetes Berkah Demi Menjaga Napas Kehidupan
  • Mengelola Setetes Berkah Demi Menjaga Napas Kehidupan
  • Mengelola Setetes Berkah Demi Menjaga Napas Kehidupan
  • Mengelola Setetes Berkah Demi Menjaga Napas Kehidupan
  • Mengelola Setetes Berkah Demi Menjaga Napas Kehidupan
  • Mengelola Setetes Berkah Demi Menjaga Napas Kehidupan

Posting Komentar