PMI Sediakan Tenda Darurat Pembelajaran Siswa SMPS Katolik St. Yoseph Kalasansa Boanio
LINTAS86.com, NAGEKEO — Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Nagekeo menyalurkan bantuan fasilitas darurat untuk menunjang keberlanjutan operasional SMPS Katolik ST. Yoseph Kalasansa Boanio, Kabupaten Nagekeo. Bantuan berupa enam lembar terpal diserahkan dan dipasang langsung pada Selasa (8/9/2026) guna mendirikan tenda pembelajaran sementara bagi para siswa pascabencana gempa bumi.
Guncangan gempa bumi sebelumnya memaksa kegiatan sekolah berpindah ke luar bangunan utama. Langkah ini diambil untuk menjamin keselamatan 113 siswa—terdiri atas 69 murid laki-laki dan 44 murid perempuan—serta 12 guru dan seorang staf administrasi yang beraktivitas di lingkungan sekolah tersebut.
Sebelum bantuan PMI tiba di lokasi, civitas akademika SMPS Katolik ST. Yoseph Kalasansa Boanio terpaksa melangsungkan proses KBM di bawah naungan terpal darurat seadanya yang dihimpun dari partisipasi para orang tua siswa.
Kepala Sekolah SMPS Katolik ST. Yoseph Kalasansa Boanio, Aman Gole, menceritakan perjuangan sekolah dalam mempertahankan jam belajar peserta didik di tengah keterbatasan fasilitas pascabencana.
“Sejak gempa, pembelajaran akhirnya kami lakukan di tenda darurat. Sebelumnya kami menggunakan atap terpal yang kami minta dari orang tua siswa. Kondisinya memang masih sederhana, tetapi kami berusaha agar anak-anak tetap bisa belajar,” jelas Aman Gole.
Aman mengapresiasi keandalan tim PMI Kabupaten Nagekeo yang merealisasikan penyaluran enam lembar terpal penutup. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu menciptakan ketenangan dan kenyamanan proses belajar mengajar sementara waktu.
“Dengan adanya bantuan dari PMI hari ini, kami sangat terbantu. Terpal ini bisa digunakan untuk mendukung tempat belajar sementara sehingga kegiatan pembelajaran anak-anak dapat tetap berjalan,” tambahnya.
Di samping pemenuhan tenda darurat, pihak sekolah mengidentifikasi kebutuhan krusial lain berupa penampung air atau tandon berkapasitas 1.200 liter. Sarana ini sangat dibutuhkan untuk menopang sanitasi dasar serta kebutuhan MCK para siswa dan guru agar potensi munculnya penyakit pascabencana dapat dicegah.
Mengenai kronologi penyaluran bantuan, Ketua PMI Kabupaten Nagekeo membeberkan bahwa koordinasi awal telah terjalin sejak 4 September 2026 pascakontak pertama dari pihak sekolah.
“Awalnya sekolah menghubungi saya pada tanggal 4 September. Saya informasikan agar pihak sekolah membuat surat permohonan dan menyiapkan kerangkanya terlebih dahulu, sehingga dari pihak PMI nantinya dapat membantu memasangkan terpalnya,” papar Ketua PMI Kabupaten Nagekeo.
Usai pembuatan struktur kerangka tenda selesai dikerjakan secara mandiri oleh pihak sekolah, personel operasional PMI bergerak ke lokasi pada Selasa (8/9/2026) untuk melakukan pemasangan terpal secara teknis.
“Setelah kerangkanya terpasang, hari ini kami bersama tim datang untuk memasangkan terpal. Kami berharap bantuan ini bisa membuat tempat belajar sementara menjadi lebih layak dan membantu guru maupun siswa selama proses pemulihan pascagempa,” ungkapnya.
PMI Kabupaten Nagekeo juga memasukkan usulan tandon air kapasitas 1.200 liter ke dalam skema penanganan sektor WASH (Water, Sanitation, and Hygiene). Dukungan sarana fisik dan sanitasi ini diharapkan dapat menjaga kualitas proses belajar mengajar agar tetap berlangsung aman, higienis, dan terlindungi di masa tanggap darurat.
Penulis: Haafiid
Editor: Redaksi
Posting Komentar