PMI Siapkan Kelas Darurat bagi Pelajar Terdampak di Boleng

LINTAS86.comMANGGARAI BARAT – Gerak cepat penanganan krisis pendidikan pascagempa bumi di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mulai menunjukkan hasil nyata di lapangan. Untuk membantu sekolah tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar di tengah kondisi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai Barat telah mendirikan tenda darurat di lingkungan SMPN 4 Boleng. Langkah nyata ini diambil guna menyambung rantai pendidikan anak-anak yang terputus akibat ketakutan pascabencana.
Fasilitas darurat yang kini berdiri di area halaman sekolah dirancang khusus untuk meminimalkan risiko apabila getaran bumi kembali melanda kawasan tersebut. Tenda yang dibangun menggunakan bahan terpal yang dimodifikasi menjadi ruang peneduh tersebut berfungsi sebagai ruang belajar sementara di luar bangunan sekolah. Memiliki ukuran 9 x 12 meter, tenda dapat digunakan oleh hingga dua kelas atau sekitar 52 siswa dalam satu waktu secara bersamaan.
Proses pendirian bangunan sementara yang masif ini membutuhkan koordinasi yang matang serta pengerahan tenaga terlatih. Tercatat sebanyak 7 (tujuh) personel PMI terlibat dalam mendirikan tenda di lapangan. Komposisi tim kemanusiaan ini terdiri dari dua pengurus, tiga staf Markas PMI Kabupaten Manggarai Barat, dan dua relawan yang bahu-membahu merampungkan pemasangan terpal dalam waktu singkat.
Wakil Ketua PMI Kabupaten Manggarai Barat, David Edward Rego, menjelaskan bahwa intervensi kemanusiaan yang dilakukan oleh pihaknya bertumpu pada asas koordinasi dan permintaan riil dari pemangku kebijakan lokal di tingkat terbawah.
“Kami membantu mendirikan tenda darurat ini setelah menerima permintaan dari Kepala Desa untuk membantu menyediakan tempat yang lebih aman bagi kegiatan belajar mengajar,” kata David menjelaskan latar belakang aksi tanggap darurat tersebut.
Lebih lanjut, David menjelaskan bahwa wilayah terdampak gempa di sektor pendidikan ternyata tidak hanya menyasar satu sekolah saja. Ruang lingkup kerusakan fasilitas publik di Kecamatan Boleng tergolong cukup masif, sehingga memerlukan pemetaan logistik yang matang agar bantuan yang disalurkan tepat sasaran.
“Sesuai surat /laporan yang diterima dari Pihak Pemerintah Desa dan Sekolah PMI diminta untuk membantu 4 (empat) sekolah di Kecamatan Boleng. Fokus awal kami adalah membantu menyediakan tenda darurat sebagai shelter untuk mendukung proses belajar mengajar. Namun, kami tetap akan melakukan asesmen di sekolah-sekolah tersebut untuk melihat kondisi bangunan dan kebutuhan masing-masing sekolah,” ujar David merinci target operasi organisasi.
Sebagai bukti komitmen pelayanan yang merata, selain pemasangan dan pendirian tenda untuk sekolah dimaksud diatas pada hari yang sama PMI Manggarai Barat juga melakukan hal yang sama pada Sekolah Menengah Atas Negeri Komodo yang terletak di ibu kota Kabupaten Manggarai Barat. Mobilitas tim sengaja dipacu secara maraton demi mencakup kebutuhan sekolah di wilayah perkotaan maupun pedalaman.
Ke depan, program penanganan pascabencana oleh PMI tidak akan berhenti pada urusan pemenuhan tempat belajar darurat saja. Kedepan selain Pendirian Tenda Shelter pada Sarana Gedung Sekolah yang terdampak PMI Manggarai Barat juga akan focus pada pendsitribusin logistic yang lain serta pendistribusian air dan Pelayanan Kesehatan tentunya melalui koordinasi dan kerja sama dengan Pemerintah Daerah Setempat melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat.
Kendati tenda besar sebagai pelindung utama siswa dari cuaca ekstrem sudah berhasil didirikan di SMPN 4 Boleng, tantangan baru kembali mencuat di lapangan. Fasilitas shelter penampungan ini masih membutuhkan perlengkapan belajar yang memadai agar fungsinya sebagai kelas pengganti dapat berjalan optimal. Guru-guru di lapangan mengakui bahwa keterbatasan sarana logistik tulis-menulis menghambat jalannya transfer ilmu ke siswa.
“Kami tidak hanya membutuhkan tenda. Papan tulis dan ATK untuk anak-anak juga masih diperlukan, seperti buku tulis, agar kegiatan belajar tetap bisa berjalan dengan baik meskipun dilakukan di luar bangunan sekolah,” kata Marcelinus Jehani, guru setempat penuh harap.
Sambil menunggu kondisi bangunan sekolah dinyatakan aman oleh otoritas teknik pemerintah, tenda darurat yang berfungsi menjadi ruang belajar sementara diharapkan dapat membantu siswa dan guru kembali menjalankan aktivitas pendidikan dengan lebih nyaman. Upaya gotong royong ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah kepungan bencana, hak anak-anak daerah untuk mengenyam pendidikan harus tetap diperjuangkan secara maksimal.

Penulis: Zabidi 

Editor: Redaksi

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • PMI Siapkan Kelas Darurat bagi Pelajar Terdampak di Boleng
  • PMI Siapkan Kelas Darurat bagi Pelajar Terdampak di Boleng
  • PMI Siapkan Kelas Darurat bagi Pelajar Terdampak di Boleng
  • PMI Siapkan Kelas Darurat bagi Pelajar Terdampak di Boleng
  • PMI Siapkan Kelas Darurat bagi Pelajar Terdampak di Boleng
  • PMI Siapkan Kelas Darurat bagi Pelajar Terdampak di Boleng

Posting Komentar