Saya Sangat Bahagia Bisa Tanya Kabar Saudara Lewat Layanan PMI
Operasi pemulihan hubungan keluarga ini difokuskan di Desa Kebirangga, sebuah wilayah yang terdampak cukup signifikan di pesisir utara Pulau Flores. Selama tiga hari berturut-turut, mulai dari tanggal 5 hingga 7 September 2026, tim relawan PMI bergerak dari satu posko ke posko lainnya demi memfasilitasi kebutuhan komunikasi darurat para pengungsi secara gratis tanpa ada pungutan biaya sama sekali.
Data resmi PMI mencatat, penyebaran penerima manfaat layanan telepon gratis ini meliputi 12 orang di Dusun Gola 1, 5 orang di Dusun Gola 2, dan 10 orang berada di Dusun Nioniba. Kehadiran para relawan RFL PMI yakni Ian Dato, Astin Aga, dan Dewa Wero, menjadi jembatan krusial di tengah lumpuhnya fasilitas telekomunikasi publik pascabencana yang melanda kawasan NTT.
Kepala Markas PMI Kabupaten Ende, Allan Senda, menjelaskan bahwa dampak psikologis akibat ketidakpastian kabar keluarga sering kali jauh lebih berat dirasakan oleh para pengungsi dibandingkan dengan keterbatasan logistik fisik di tenda darurat. Rasa cemas yang terus menggerogoti pikiran dapat menurunkan imunitas tubuh para pengungsi di tenda-tenda darurat.
"Layanan RFL ini merupakan mandat inti kemanusiaan PMI dalam situasi bencana alam maupun konflik. Ketika gempa berkekuatan M 7,7 menghantam Laut Flores, infrastruktur komunikasi runtuh total, meninggalkan trauma mendalam bagi warga di pengungsian yang tidak tahu nasib keluarga mereka di luar distrik," urai Allan Senda dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).
Allan memaparkan bahwa pergerakan tim RFL PMI Ende sengaja menyasar daerah pelosok seperti Kecamatan Maukaro karena minimnya akses bantuan komunikasi alternatif di wilayah tersebut. Pilihan lokasi ini didasarkan pada asesmen cepat mengenai area yang paling terisolasi secara sinyal telepon seluler.
"Tujuan utama kami di lapangan adalah memberikan ketenangan jiwa bagi warga. Berhasil menghubungkan 27 jiwa di Dusun Gola dan Nioniba ini adalah langkah awal yang sangat penting bagi psikologis mereka. Kami ingin memastikan tidak ada jarak komunikasi yang membuat pengungsi semakin menderita di tengah masa sulit pascagempa ini," kata Allan Senda menegaskan komitmen lembaganya.
Kondisi kepanikan sebelum kedatangan tim PMI salah satunya dirasakan secara mendalam oleh Hildegardis A. Aba, seorang warga berusia 32 tahun yang mengungsi di Dusun Gola 1. Dirinya menuturkan, ketidakmampuan mengakses jaringan seluler membuatnya didera rasa takut yang luar biasa mengenai keselamatan keluarganya yang berada di pusat Kota Ende.
"Sejak kejadian gempa, saya tidak bisa menghubungi saudara saya di Ende sama sekali. Hari-hari di pengungsian rasanya penuh tekanan yang berat karena pikiran saya terus tertuju ke sana tanpa henti. Jaringan rusak total, membuat saya merasa sangat cemas atas keadaan mereka yang juga merasakan guncangan," tutur Hildegardis mengenang malam-malam tanpa kabar.
Titik balik kenyamanan psikologisnya terjadi saat para relawan PMI membawa perangkat telepon darurat ke tenda pengungsiannya di Dusun Gola 1. Kesempatan berharga tersebut langsung digunakannya untuk menghubungi nomor darurat keluarga dan memastikan kondisi keselamatan seluruh anggota keluarganya di kota asal.
"Ketika PMI memberikan layanan telepon gratis, saya sangat bahagia dan senang sehingga bisa bertanya kabar dengan saudara saya di Ende. Beban berat di kepala saya langsung hilang seketika itu juga. Terima kasih PMI atas layanan yang diberikan sehingga rasa cemas, khawatir atas keberadaan saudara saya, bisa kembali mengetahuinya dengan pasti," ucap Hildegardis sembari menyeka air mata kebahagiaan yang menetes di pipinya.
Hingga saat ini, kondisi di beberapa wilayah terdampak di Pulau Flores, seperti Kabupaten Ende, Sikka, Manggarai, dan Nagekeo, masih dalam pemantauan ketat serta penanganan dari instansi terkait. Guna meringankan beban masyarakat secara menyeluruh, PMI berkomitmen untuk terus menyalurkan paket bantuan darurat terintegrasi yang mencakup penyediaan air bersih, pemenuhan kebutuhan logistik makanan, pemulihan trauma melalui dukungan psikososial, serta pendirian tenda sekolah darurat bagi anak-anak korban gempa.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi

Posting Komentar