Senyum Anak Aeramo: Belajar Lesehan di Bawah Terpal PMI


LINTAS86.com, NAGEKEO — Dampak gempa bumi tektonik yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan duka mendalam bagi masyarakat, tidak terkecuali bagi anak-anak di Kabupaten Nagekeo. Bangunan sekolah yang retak dan rawan roboh memicu rasa trauma yang mendalam, memaksa aktivitas instruksional konvensional di dalam kelas terhenti total. Menghadapi situasi darurat ini, Palang Merah Indonesia (PMI) bergerak cepat mendistribusikan logistik darurat untuk merakit fasilitas pengajaran sementara. Mengandalkan ruang terbuka, anak-anak kini kembali membalut senyum mereka melalui aktivitas literasi di lingkungan yang ramah dan aman dari potensi runtuhan material bangunan pascagempa.
Tempat belajar alternatif tersebut didirikan secara swadaya di bawah rindangnya pepohonan di Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Selembar terpal putih terbentang di antara pepohonan. Beberapa batang bambu menjadi penyangga. Di bawahnya, belasan anak duduk berkelompok dengan buku dan alat tulis di hadapan mereka. Area terbuka ini sengaja dipilih untuk memberikan ketenangan psikologis bagi para siswa agar mereka terhindar dari ketakutan terjebak di dalam ruang beton.
Suasana di lokasi pengungsian dan belajar darurat ini memang sangat berbeda dengan kondisi ruang kelas formal yang biasanya dilengkapi meja, kursi, dan papan tulis kokoh. Tidak ada dinding. Tidak ada pintu. Fasilitasnya pun sangat terbatas. Tanah yang berselimutkan debu dan dedaunan kering terpaksa bertransformasi menjadi area lesehan tempat anak-anak menuntut ilmu. Namun, pagi itu ruang sederhana tersebut kembali dipenuhi suara anak-anak yang belajar, bercanda, dan sesekali tertawa.
Kehadiran ruang belajar beratapkan kain terpal bantuan Palang Merah Indonesia (PMI) ini bertindak sebagai media pemulihan kondisi mental (trauma healing) kolektif yang sangat krusial bagi tumbuh kembang emosional anak. Terpal bantuan Palang Merah Indonesia (PMI) itu kini menjadi bagian dari ruang belajar sementara bagi siswa SDK Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, setelah gempa mengguncang wilayah tersebut.
Langkah jemput bola mengaktifkan kembali roda pendidikan dasar ini didesain agar para siswa tidak terlalu lama larut dalam bayang-bayang ketakutan dan kejenuhan di kamp pengungsian utama. Bagi anak-anak, ruang belajar itu bukan sekedar tempat untuk mengikuti pelajaran. Di tengah rasa takut yang masih tersisa, terpal tersebut menjadi ruang yang membantu mereka perlahan kembali menjalani rutinitas. Melalui interaksi sosial yang teratur, struktur kehidupan normal mereka secara bertahap mulai terbangun kembali.
Di tengah kondisi yang tidak ideal ini, kebersamaan antara guru dan siswa menjadi pemandangan yang mengharukan sekaligus menginspirasi banyak pihak. Mereka dapat kembali bertemu teman, mendengarkan guru, membuka buku, mengerjakan tugas, dan bermain bersama tanpa harus masuk ke bangunan sekolah yang masih membuat sebagian dari mereka merasa khawatir. Guru pengajar dituntut lebih fleksibel dalam membawakan materi ajar, menyelipkan aneka permainan edukatif guna mencairkan suasana tegang.
Florentina Tey, guru SDK Aeramo, memahami bahwa belajar di bawah terpal tentu jauh dari kondisi ruang kelas yang ideal. Namun, dalam situasi pascabencana, kesempatan untuk kembali belajar menjadi sesuatu yang sangat berarti. Keberanian para guru untuk tetap hadir mengajar di lapangan terbuka merupakan bentuk dedikasi tanpa batas untuk memastikan hak-hak akademis generasi muda Flores tidak terabaikan begitu saja.
“Walaupun sederhana dan terbatas, lumayan untuk sekadar belajar. Daripada di rumah, sementara di dalam kelas belum bisa masuk,” ujar Florentina.
Runtuhnya infrastruktur fisik akibat bencana gempa tidak serta-merta melumpuhkan semangat belajar anak-anak di pelosok Nagekeo. Gempa tidak hanya mengubah kondisi bangunan sekolah. Bagi anak-anak, bencana juga meninggalkan rasa takut dan ketidakpastian. Karena itu, pemulihan tidak selalu dimulai dari bangunan yang kembali berdiri. Terkadang, pemulihan dimulai dari hal sederhana: menyediakan ruang yang cukup aman bagi anak untuk kembali duduk bersama teman-temannya dan membuka buku.
Bela, salah seorang siswa kelas 5 SDK Aeramo, mengaku senang bisa kembali mengikuti kegiatan belajar. Namun, rasa takut masih ada. Pengakuan jujur dari seorang anak penyintas bencana ini merefleksikan bahwa luka psikologis membutuhkan waktu penanganan yang telaten dan berkelanjutan dari semua pihak terkait.
“Senang saya bisa kumpul dan belajar bareng teman-teman saya, tetapi sampai saat ini masih takut kalau belajar di dalam kelas,” katanya.
Dukungan psikososial yang terintegrasi di dalam pendirian tenda sekolah darurat ini terbukti efektif dalam memulihkan rasa percaya diri para murid secara berkala. Pengakuan sederhana itu menunjukkan bahwa proses kembali pulih membutuhkan waktu. Bagi anak-anak terdampak bencana, kembali belajar adalah bagian dari proses membangun kembali rasa percaya diri dan keberanian. Di bawah terpal PMI, proses itu berlangsung perlahan.
Setiap harinya, pemandangan penuh harapan terus tersaji di bawah naungan atap putih darurat tersebut. Ada anak yang serius membaca. Ada yang mengerjakan tugas. Ada yang memperhatikan guru. Ada pula yang bercanda dengan teman di sela-sela pelajaran. Kondisinya memang belum sempurna. Panas matahari masih terasa. Tanah dan dedaunan menjadi bagian dari lantai. Fasilitas belajar pun terbatas.
Tetapi ruang sederhana tersebut memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk tetap mendapatkan haknya untuk belajar sekaligus kembali merasakan suasana sekolah. Komitmen bersama untuk menjaga nyala api pendidikan ini diwujudkan melalui gotong royong pemeliharaan kebersihan di sekitar area pohon tempat berteduh.
Bagi PMI, dukungan pascabencana bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan dasar. Pemulihan juga berarti membantu masyarakat terdampak untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari secara bertahap. Termasuk memastikan anak-anak memiliki ruang untuk belajar, berinteraksi, dan membangun kembali rasa aman setelah mengalami bencana. Langkah taktis ini akan terus dievaluasi dan dikoordinasikan bersama instansi kedinasan setempat demi kelancaran pemulihan jangka panjang.
Terpal itu mungkin hanya sementara. Tetapi bagi anak-anak Aeramo, keberadaannya menjadi bagian dari langkah kecil untuk kembali bangkit. Di bawah terpal putih tersebut, sekolah perlahan kembali hidup. Buku-buku kembali terbuka. Guru kembali mendampingi. Teman-teman kembali berkumpul. Dan di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, anak-anak Aeramo kembali belajar bukan hanya tentang pelajaran di dalam buku, tetapi juga tentang keberanian untuk melangkah maju setelah bencana. Karena pemulihan tidak selalu dimulai dari bangunan yang kembali berdiri. Kadang, pemulihan dimulai dari sebuah ruang sederhana yang membuat seorang anak merasa aman untuk kembali belajar.
Penulis: Haafiid
Editor: Redaksi
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Senyum Anak Aeramo: Belajar Lesehan di Bawah Terpal PMI
  • Senyum Anak Aeramo: Belajar Lesehan di Bawah Terpal PMI
  • Senyum Anak Aeramo: Belajar Lesehan di Bawah Terpal PMI
  • Senyum Anak Aeramo: Belajar Lesehan di Bawah Terpal PMI
  • Senyum Anak Aeramo: Belajar Lesehan di Bawah Terpal PMI
  • Senyum Anak Aeramo: Belajar Lesehan di Bawah Terpal PMI

Posting Komentar