Setelah Gempa, Milan Kembali Belajar dan Bertemu Teman di Kelas Darurat


LINTAS86.com, Nagekeo — Senyum kecil terlihat dari wajah Milan, siswi kelas 6 SDK Wea Au. Setelah gempa mengguncang wilayah tempat tinggalnya, aktivitas belajar yang sempat terhenti kini perlahan kembali berjalan. Senin lalu, Milan kembali ke sekolah dan bertemu dengan teman-temannya.

Bagi Milan, kembali ke sekolah bukan sekedar kembali belajar. Ada rasa senang karena bisa kembali berkumpul bersama teman-teman setelah melalui hari-hari penuh ketidakpastian pascagempa.

“Saya senang bisa ketemu kembali dengan teman-teman,” kata Milan.

Pengalaman saat gempa masih ia ingat. Ketika gempa terjadi, Milan sedang tertidur sehingga tidak menyadari guncangan yang terjadi.

“Saat gempa saya masih tidur, jadi tidak sadar. Saat sadar, bapak saya gendong keluar rumah,” tuturnya.

Rasa takut sempat muncul ketika ia menyadari apa yang sedang terjadi. Namun, sang ayah berusaha menenangkannya.

“Bapak saya bilang, tidak usah takut,” ujar Milan.

Kini, Milan kembali duduk bersama teman-temannya di ruang belajar darurat. Kondisinya memang belum seperti ruang kelas yang biasa ia gunakan sebelumnya. Bangunan sementara tersebut masih sederhana, sehingga kegiatan belajar harus menyesuaikan dengan kondisi cuaca.

Pada pagi hari, suasana di sekitar kelas masih terasa cukup nyaman. Namun, ketika matahari mulai meninggi, panas mulai terasa di dalam ruang belajar. Anak-anak kemudian belajar di bagian depan kelas untuk mendapatkan udara yang lebih terbuka.

“Kalau pagi kursi kelasnya basah karena ada embun. Pagi-pagi tidak terlalu panas, tapi kalau siang mataharinya sudah naik jadi panas,” cerita Milan.

Kondisi tersebut membuat kehadiran atap menjadi sangat berarti bagi anak-anak. Setelah terpal dipasang di ruang kelas darurat, Milan merasa lebih nyaman mengikuti pembelajaran.

“Saya senang sekali sekarang kelas aku, soalnya tidak kena panas lagi,” katanya.

Kepala Sekolah SDK Wea Au, Marselina Mogi, mengatakan sekolah telah mencoba berbagai cara agar proses pembelajaran tetap berlangsung selama masa tanggap darurat bencana.

“Di masa tanggap darurat bencana beberapa sudah coba kami lakukan untuk pembelajarannya, mulai dari daring, tapi tidak efektif,” ujar Marselina.

Sekolah kemudian berinisiatif mendatangi pos-pos pengungsian untuk memberikan pembelajaran kepada anak didik. Namun, metode tersebut juga belum berjalan secara efektif.

“Kami melakukan kunjungan ke pos-pos pengungsian untuk melakukan pembelajaran untuk anak didik, tetapi juga masih belum efektif,” katanya.

Melihat kondisi tersebut, pihak sekolah kemudian melakukan rapat bersama kepala desa dan wali murid. Dari pertemuan itu disepakati pembangunan gedung darurat sebagai tempat belajar sementara bagi para siswa.

Upaya awal dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dari dua dusun bersama para wali murid. Mereka membangun ruang belajar sementara menggunakan bambu.

Namun, bangunan tersebut belum memiliki atap. Kondisi itu membuat anak-anak harus berhadapan langsung dengan panas matahari ketika pembelajaran berlangsung hingga siang hari.

Kebutuhan akan ruang belajar yang lebih nyaman kemudian disampaikan melalui komunikasi dengan yayasan. Dari komunikasi tersebut, pihak yayasan menghubungi PMI Kabupaten Nagekeo untuk mendapatkan dukungan.

“Senang komunikasi dengan yayasan. Yayasan menghubungi pihak PMI, belum sampai sehari sudah mendapatkan respons bahwa hari ini PMI Nagekeo akan melakukan pemasangan terpal di ruang kelas darurat di lapangan,” tutur Marselina.

Pemasangan terpal menjadi salah satu bentuk dukungan PMI untuk membantu keberlangsungan proses pembelajaran di SDK Wea Au selama masa tanggap darurat.

Bagi Milan, ruang kelas sederhana itu mungkin belum sepenuhnya seperti sekolah yang ia kenal sebelumnya. Namun, di tempat tersebut ia kembali bisa belajar, bercanda dan bertemu teman-temannya.

Setelah gempa membuatnya harus meninggalkan rumah dalam keadaan takut, kini Milan kembali duduk di bangku sekolah. Di bawah atap terpal, pelajaran kembali berlangsung dan senyum anak-anak mulai kembali terlihat.

Sekolah mungkin belum kembali seperti semula. Tetapi bagi Milan dan teman-temannya, bisa kembali belajar bersama adalah sebuah langkah kecil untuk bangkit setelah gempa.

Penulis: Haafiid 
Editor: Redaksi
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Setelah Gempa, Milan Kembali Belajar dan Bertemu Teman di Kelas Darurat
  • Setelah Gempa, Milan Kembali Belajar dan Bertemu Teman di Kelas Darurat
  • Setelah Gempa, Milan Kembali Belajar dan Bertemu Teman di Kelas Darurat
  • Setelah Gempa, Milan Kembali Belajar dan Bertemu Teman di Kelas Darurat
  • Setelah Gempa, Milan Kembali Belajar dan Bertemu Teman di Kelas Darurat
  • Setelah Gempa, Milan Kembali Belajar dan Bertemu Teman di Kelas Darurat

Posting Komentar