Tiga Kali Pieter Berjalan Ke Bukit Demi Mengabari Anaknya Pascagempa
LINTAS86.com, NAGEKEO - Krisis infrastruktur pascabencana sering kali memperparah isolasi digital yang dialami oleh masyarakat pedesaan di wilayah kepulauan. Di Desa Riti, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, NTT, kesulitan berkomunikasi sebenarnya bukan baru dirasakan oleh warga setelah gempa bumi mengguncang permukiman mereka. Kondisi jaringan telekomunikasi di wilayah berbukit ini memang sudah sangat terbatas sejak masa sebelum bencana.
Pieter Petrus Bernabas Bado (57), salah seorang warga setempat, menceritakan bahwa sebelumnya masyarakat desa sempat sedikit terbantu dalam pemenuhan akses informasi berkat adanya koneksi internet satelit Starlink. Namun, sarana modern tersebut kini tidak dapat lagi diandalkan. Saat ini layanan tersebut sudah terputus total akibat dampak teknis sekunder dari bencana gempa bumi.
“Sekarang Starlink juga sudah terputus. Kami di desa masih menunggu kabel optik yang sampai sekarang belum datang. Itu sudah ditunggu dari sebelum gempa,” ungkap Pieter dengan raut wajah penuh harap akan hadirnya keadilan digital di desanya.
Kondisi sosial pascagempa semakin sulit ketika pasokan daya listrik dari PLN sempat padam total sesaat setelah guncangan utama terjadi. Dalam gelap gulita dan ketidakpastian tersebut, Pieter sama sekali tidak bisa menggunakan telepon selulernya untuk menghubungi sanak saudara di luar pulau.
“Apalagi waktu awal kemarin listrik padam, tidak bisa telepon sama sekali,” katanya mengenang kepanikan massa di hari pertama bencana.
Dalam keadaan buntu seperti itu, area puncak bukit yang tinggi menjadi satu-satunya tempat yang harus didatangi warga untuk berburu satu atau dua batang sinyal seluler. Jarak sekitar setengah kilometer menuju bukit mungkin terdengar pendek bagi sebagian orang, namun perjalanan itu harus ditempuh berulang kali hanya untuk mendapatkan satu kesempatan berharga berbicara dengan keluarga. Tercatat, Pieter harus berjalan kaki bolak-balik demi menyambung komunikasi darurat.
“Kemarin sudah tiga kali saya ke bukit untuk menelepon video untuk mengabari anak saya. Tapi sekarang enak, tinggal video juga sudah ada PMI dan dibantu sama petugas,” ujar Pieter tersenyum lega pada Senin, 7 September 2026 [context].
Kini, beban fisik yang harus dipikul oleh Pieter dan warga Desa Riti lainnya mulai terangkat berkat hadirnya posko kemanusiaan. Kehadiran layanan Restoring Family Links (RFL) yang diinisiasi oleh Palang Merah Indonesia (PMI) memberikan kemudahan akses komunikasi bagi para penyintas bencana. PMI menyediakan sarana komunikasi gratis menggunakan perangkat khusus yang dapat digunakan masyarakat untuk menghubungi keluarga, termasuk mereka yang menghadapi keterbatasan akses geografis setelah bencana.
Dengan bantuan petugas RFL PMI yang siaga di lapangan, Pieter tidak perlu lagi bersusah payah mencari titik sinyal di atas bukit yang terjal. Ia cukup datang ke lokasi layanan di tenda darurat PMI dan kembali melakukan panggilan video dengan nyaman.
Teknologi sederhana berupa telepon dan panggilan video memiliki arti yang jauh lebih besar dan sakral setelah bencana. Di balik layar kecil itu, ada wajah hangat keluarga yang ingin dipastikan keselamatannya. Jarak antara Desa Riti dan Makassar memang tidak berubah secara geografis, dan jaringan telekomunikasi reguler juga belum sepenuhnya pulih di Nangaroro. Namun, kehadiran RFL PMI telah menjadi jembatan kemanusiaan yang memastikan bahwa sejauh apa pun jaraknya, kerinduan keluarga tetap dapat saling menyapa tanpa sekat.
Penulis: Haafiid
Editor: Redaksi
Posting Komentar