Tim SIBAT PMI Dirikan Tenda Darurat di SDI Lemarang
Pendirian tenda darurat ini dikerjakan secara gotong royong oleh 16 anggota Tim SIBAT Desa Lemarang bersama tiga orang guru SDI Lemarang dan dua orang perangkat Desa Lemarang. Kolaborasi ini dilakukan untuk menciptakan ruang kelas sementara agar para murid dan guru dapat menjalankan aktivitas belajar tanpa dibayangi ancaman keruntuhan bangunan.
Kondisi fisik gedung SDI Lemarang saat ini dilaporkan mengkhawatirkan. Seluruh dinding dan struktur ruangan mengalami retak-retak pascabencana gempa bumi yang melanda kawasan tersebut. Hal itu membuat area dalam bangunan tidak aman lagi untuk dipergunakan sebagai tempat beraktivitas.
Komandan Tim SIBAT Desa Lemarang, Polikarpus Jemadin, menyatakan rasa prihatinnya terhadap nasib para siswa jika tidak segera mendapatkan tempat belajar pengganti yang layak dan aman dari ancaman reruntuhan.
“Kami dari tim SIBAT melihat kondisi sekolah sudah tidak layak lagi dipakai, yaitu seluruh ruangan sekolah retak, sehingga kami khawatir dengan hal itu. Makanya bersama dengan rekan guru kami berinisiatif untuk mendirikan tenda darurat,” kata Polikarpus.
Meskipun pendirian sekolah darurat berhasil direalisasikan, Polikarpus mengakui adanya kendala logistik yang dialami di lapangan. Jumlah terpal penutup yang dimiliki saat ini masih sangat terbatas untuk menampung seluruh kebutuhan ruang belajar yang ideal bagi siswa.
“Kami kekurangan terpal saat mendirikan sekolah darurat, tapi masih bisa dipakai untuk kegiatan belajar. Harapan saya semoga ada orang baik atau lembaga yang peduli dengan sekolah SDI Lemarang,” jelas Polikarpus.
Di sisi lain, langkah darurat yang ditempuh oleh pihak sekolah bersama relawan PMI ini merupakan tindak lanjut atas imbauan ketat dari Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai. Pemda menginstruksikan larangan penggunaan ruang kelas tertutup selama masa tanggap darurat demi keselamatan jiwa para siswa dan tenaga pendidik.
Guru SDI Lemarang, Marselinus Habin, menjelaskan bahwa pihak sekolah memilih patuh pada regulasi keselamatan tersebut dan langsung berkoordinasi dengan tim relawan lokal untuk mencari jalan keluar.
“Menindaklanjuti perintah dari Pemerintah Daerah yaitu tidak boleh melakukan kegiatan pembelajaran di dalam ruangan kelas selama pascabencana gempa, maka dari itu kami bersama tim SIBAT dan aparat desa berinisiatif untuk mendirikan sekolah darurat,” terang Marselinus.
Marselinus mengapresiasi keikutsertaan dan kepedulian relawan SIBAT PMI yang tanggap membantu penyediaan sarana darurat di sekolah tempatnya mengabdi. Menurutnya, aksi relawan kemanusiaan ini sangat berarti bagi kelangsungan masa depan para siswa di Desa Lemarang.
“Saya pribadi merasa bangga dan berterima kasih kepada PMI Kabupaten Manggarai karena telah menghadirkan tim SIBAT Desa Lemarang yang sangat membantu kami di desa dan memfasilitasi kami dengan bantuan terpal dan tenaga yang sangat luar biasa, sehingga siswa-siswi nantinya akan mengikuti proses kegiatan belajar mengajar lagi,” kata Marselinus.
Pendirian tenda belajar ini menjadi bukti nyata komitmen PMI Kabupaten Manggarai melalui penguatan kapasitas Tim SIBAT di tingkat desa. Kehadiran relawan PMI di tengah masyarakat tidak hanya berfokus pada penanganan darurat bencana, tetapi juga aktif mengawal pemulihan fasilitas publik, khususnya menjamin keberlanjutan hak belajar bagi anak-anak di daerah terdampak bencana.
Penulis: Edho
Editor: Redaksi


Posting Komentar