30 Murid SLB Ruteng Diperiksa, Sakit Gigi Jadi Temuan Terbanyak

LINTAS86.com, MANGGARAI– Sebanyak 30 dari total 93 murid SLB Tenda Ruteng mengikuti layanan kesehatan, Promosi Kesehatan (Promkes), serta Psychosocial Support Service (PSS) yang diberikan Palang Merah Indonesia (PMI) di Ruteng pada Jumat, 2 Oktober 2026.

Murid yang mengikuti kegiatan berasal dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Pelayanan dilakukan dalam masa pemulihan setelah gempa yang turut berdampak terhadap kegiatan belajar di sekolah tersebut.

Sebanyak 10 personel terlibat dalam kegiatan. Mereka terdiri atas lima personel PMI Pusat dan lima relawan pendamping PMI Kabupaten Manggarai. Pelaksanaan pelayanan juga mendapat dukungan pihak sekolah dan orang tua murid.

Pemeriksaan kesehatan menjadi salah satu pelayanan kepada murid. Berdasarkan laporan pemeriksaan menyeluruh atau medical check up (MCU), sakit gigi karena gigi berlubang menjadi temuan yang paling banyak.

Relawan pendamping pelayanan kesehatan PMI Kabupaten Manggarai, Hilda P. S Primon, menyatakan selain masalah gigi, pemeriksaan menemukan sakit kepala dan keluhan pada saluran pencernaan bagian atas.

" Saat melakukan pemeriksaan menyeluruh temuan yang paling banyak adalah sakit gigi karena berlubang, sakit kepala hingga keluhan pada saluran pencernaan bagian atas", tegas Hilda P. S Primon salah satu relawan pendamping layanan kesehatan PMI Kabupaten Manggarai.

Tidak disebutkan dalam bahan mengenai jumlah murid untuk masing-masing jenis keluhan tersebut. Data yang tersedia hanya menerangkan sakit gigi akibat gigi berlubang sebagai temuan terbanyak serta adanya sakit kepala dan keluhan saluran pencernaan bagian atas.

Selain pemeriksaan kesehatan, Promkes diberikan untuk memperkenalkan sejumlah kebiasaan hidup sehat kepada murid.

Materinya mencakup perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS, etika batuk dan bersin, serta praktik mencuci tangan dengan benar.

Anak-anak terlihat antusias mengikuti kegiatan. Mereka memperhatikan ketika relawan menjelaskan cara mencuci tangan dan pentingnya perilaku hidup bersih serta sehat.

Layanan ketiga berupa PSS. Kegiatan ini dikemas dengan metode yang menyenangkan dan ekspresif melalui aktivitas mewarnai, bernyanyi, serta bergoyang.

Kegiatan psikososial tidak hanya melibatkan anak dan relawan. Guru maupun orang tua murid ikut berpartisipasi.

Koordinator layanan PSS utusan PMI Pusat asal PMI Surabaya, Meuti Nadia Soraya Bulan, menerangkan bentuk kegiatan tersebut.

" PSS tadi kami melibatkan guru dan orang tua murid dalam kegiatan mewarnai dan expresif kreatif berupa bergoyang dan bernyanyi", Ungkap Meuti Nadia Soraya Bulan yang merupakan kordinator layanan PSS utusan PMI Pusat yang berasal dari PMI Surabaya.

Saat aktivitas mewarnai berlangsung, relawan turut mengajak murid berbicara mengenai pengalaman ketika gempa.

Beberapa anak menceritakan bahwa mereka berlari keluar rumah karena takut ketika gempa terjadi.

Cerita berbeda disampaikan seorang murid yang justru kembali masuk ke dalam rumah saat gempa. Berdasarkan cerita yang disampaikan dalam kegiatan, anak tersebut melakukan tindakan itu mengikuti instruksi ibunya.

Seorang murid lainnya mengakui masih merasa takut jika gempa kembali terjadi. Anak tersebut menghadapi rasa takut dengan berdoa kepada Tuhan.

Cerita dari anak-anak menjadi bagian dari layanan psikososial yang memberi ruang kepada mereka untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman setelah bencana.

Pendampingan guru diperlukan selama rangkaian kegiatan. Dalam laporan disebutkan bahwa mayoritas murid SLB Tenda Ruteng merupakan anak dengan tunagrahita.

Guru membantu relawan dalam berkomunikasi dan mengondisikan anak selama pelayanan berlangsung.

Kebutuhan pendampingan juga menjadi perhatian dalam penyampaian edukasi kebencanaan. Anak berkebutuhan khusus membutuhkan pengulangan, metode pembelajaran sederhana, dan pendekatan yang menarik agar informasi lebih mudah diterima.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah simulasi kebencanaan yang dikemas melalui permainan atau kegiatan menyenangkan. Tujuannya agar anak dapat memahami tindakan yang perlu dilakukan ketika menghadapi gempa.

Pelayanan pada 2 Oktober berlangsung saat kegiatan belajar mengajar SLB Tenda Ruteng belum sepenuhnya normal akibat dampak bencana.

Kerusakan bangunan sekolah membuat murid menjalani proses belajar di dalam tenda bantuan.

Kapasitas tenda yang terbatas membuat sekolah menerapkan pembagian jadwal pembelajaran menjadi dua kelompok waktu.

Sebagian kelas mengikuti pembelajaran pada Senin hingga Rabu. Kelas lainnya masuk pada Kamis hingga Sabtu.

Kondisi tersebut membuat seluruh murid belum dapat belajar dan bermain bersama dalam pola seperti sebelum gempa.

Kabupaten Manggarai memang telah memasuki fase pemulihan, tetapi situasi SLB Tenda Ruteng menunjukkan proses pemulihan pembelajaran masih berlangsung.

Keadaan sekolah menjadi konteks mengapa pelayanan terhadap murid mencakup lebih dari pemeriksaan kesehatan.

Layanan Promkes memberi edukasi kesehatan yang dapat dipraktikkan dalam keseharian. Sementara PSS menjadi ruang bagi murid untuk melakukan aktivitas menyenangkan sekaligus menyampaikan cerita mengenai pengalaman saat gempa.

Dari data kegiatan, sedikitnya ada empat angka penting yang dapat diverifikasi dari sumber yang tersedia: sekolah memiliki total 93 murid, sekitar 30 murid mengikuti pelayanan, kegiatan melibatkan 10 personel, dan tim tersebut terdiri atas lima personel PMI Pusat serta lima relawan pendamping PMI Kabupaten Manggarai.

Laporan juga memberikan verifikasi mengenai tiga kelompok layanan yang diberikan, yaitu kesehatan, Promkes, dan dukungan psikososial.

Sementara untuk pemeriksaan kesehatan, laporan baru menyebut jenis temuan tanpa merinci angka pada setiap keluhan. Karena itu, tidak dapat disimpulkan berapa murid yang mengalami sakit gigi, sakit kepala ataupun keluhan saluran pencernaan bagian atas.

Demikian pula belum terdapat rincian jumlah peserta untuk setiap jenjang SD, SMP, dan SMA dari sekitar 30 murid yang mengikuti kegiatan.

Informasi yang tersedia memastikan bahwa kegiatan berlangsung pada Jumat, 2 Oktober 2026, melibatkan murid lintas jenjang, serta dilaksanakan dalam situasi pembelajaran yang belum sepenuhnya normal.

Layanan tersebut sekaligus memperlihatkan kondisi terbaru yang tercatat dari SLB Tenda Ruteng dalam bahan kegiatan: sebagian murid masih belajar dengan sistem jadwal bergantian di tenda bantuan, sementara pemulihan kesehatan dan psikososial menjadi bagian dari pendampingan terhadap anak setelah gempa.

Penulis: Edho 

Editor: Redaksi


Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • 30 Murid SLB Ruteng Diperiksa, Sakit Gigi Jadi Temuan Terbanyak
  • 30 Murid SLB Ruteng Diperiksa, Sakit Gigi Jadi Temuan Terbanyak
  • 30 Murid SLB Ruteng Diperiksa, Sakit Gigi Jadi Temuan Terbanyak
  • 30 Murid SLB Ruteng Diperiksa, Sakit Gigi Jadi Temuan Terbanyak
  • 30 Murid SLB Ruteng Diperiksa, Sakit Gigi Jadi Temuan Terbanyak
  • 30 Murid SLB Ruteng Diperiksa, Sakit Gigi Jadi Temuan Terbanyak

Posting Komentar