40 Warga Ikut Edukasi, 86 Siswa Terdata Pascagempa Nagekeo

 


LINTAS86.com, NAGEKEO – Kondisi pascagempa Nagekeo masih memengaruhi aktivitas sebagian masyarakat di lingkungan permukiman dan sekolah. Sebanyak 40 warga Kelurahan Dhawe mengikuti edukasi dukungan psikososial, sementara 86 siswa SDK Galawea terdata sebagai calon penerima manfaat dalam asesmen Tim Dukungan Psikososial (PSS) PMI.

Dua kegiatan dilaksanakan pada Rabu (30/9/2026) dan Kamis (1/10/2026) di Kecamatan Aesesa serta Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan pertama berlangsung di RT 003 Kelurahan Dhawe, Kecamatan Aesesa, Rabu sore pukul 17.00 hingga 18.20 WITA.

Sebanyak 40 warga mengikuti kegiatan. Mereka terdiri atas 24 orang dewasa, tujuh lansia dan sembilan anak-anak.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diberi kesempatan menceritakan pengalaman dan perasaan setelah mengalami gempa.

Sejumlah warga menangis ketika mengingat kembali kejadian. Sebagian mengaku masih takut terhadap kemungkinan gempa susulan dan belum sepenuhnya merasa aman berada di dalam rumah.

Rasa takut itu turut memengaruhi aktivitas sehari-hari. Beberapa warga masih ragu untuk kembali beraktivitas seperti biasa di dalam rumah.

Ada warga yang baru beberapa kali masuk ke rumah. Mereka melakukannya untuk mengambil pakaian atau kebutuhan penting.

Tim PSS memberikan penjelasan bahwa setelah mengalami peristiwa yang mengancam keselamatan, sejumlah respons dapat muncul, antara lain rasa takut, cemas, panik, sulit merasa aman hingga terus teringat kepada kejadian gempa.

“Rasa takut setelah bencana merupakan hal yang dapat terjadi. Yang penting adalah tidak menghadapinya sendirian,” menjadi salah satu penguatan yang disampaikan selama kegiatan.

Tim juga memberikan sejumlah teknik sederhana yang dapat dilakukan ketika rasa takut atau kecemasan muncul.

Warga diajak melakukan latihan pernapasan untuk membantu menenangkan diri. Peserta kemudian mempraktikkan butterfly hug, yaitu teknik memberikan pelukan kepada diri sendiri secara bergantian.

Selain itu, warga didorong berbicara kepada orang yang dipercaya dan saling memberikan dukungan. Mendengarkan, membantu memberikan rasa aman serta tidak menghakimi menjadi bagian dari dukungan lingkungan yang ditekankan kepada peserta.

Setelah kegiatan terhadap warga Dhawe, Tim PSS melakukan asesmen pada lingkungan pendidikan sehari berikutnya.

Asesmen berlangsung di SDK Galawea, Kelurahan Ulupulu, Kecamatan Nangaroro, Kamis (1/10/2026), pukul 08.15 hingga 10.00 WITA.

Hampir sebulan setelah gempa, aktivitas belajar mengajar sekolah masih dijalankan menggunakan tenda darurat.

Bangunan SDK Galawea belum digunakan sepenuhnya karena terdapat keretakan pada bagian sudut bangunan. Kondisi itu membuat warga sekolah khawatir terhadap keamanan bangunan apabila gempa kembali terjadi.

Selama asesmen, Tim PSS berbincang dengan guru dan kepala sekolah untuk mengetahui situasi warga sekolah ketika maupun setelah gempa.

Tim menghimpun data mengenai jumlah siswa dan tenaga sekolah, bantuan yang telah diterima serta dukungan yang datang dari berbagai pihak. Kondisi sekolah darurat dan kegiatan pembelajaran juga diamati secara langsung.

Hasil asesmen menyebut SDK Galawea belum pernah mendapatkan kegiatan khusus berupa dukungan psikososial.

Bantuan yang sebelumnya diterima sekolah berupa sembako dari sejumlah partai dan organisasi. Adapun tenda yang digunakan untuk menunjang proses belajar mengajar berasal dari BNPB dan bantuan alumni.

Dampak gempa juga ditemukan pada lingkungan tempat tinggal para siswa.

Sebagian besar siswa dilaporkan mengalami keretakan pada rumah masing-masing. Satu siswa tercatat mempunyai rumah yang kondisinya dinilai sudah tidak layak huni.

Di sisi lain, sejumlah siswa masih mengalami rasa takut, cemas dan khawatir ketika mengingat kemungkinan gempa kembali terjadi. Kondisi tersebut membuat beberapa siswa belum kembali bersekolah.

Dalam asesmen di SDK Galawea, calon penerima manfaat yang terdata meliputi 86 siswa serta 13 orang yang berasal dari unsur guru, kepala sekolah dan petugas keamanan.

Sebanyak lima orang mengikuti proses asesmen secara langsung.

Hasil asesmen menunjukkan kebutuhan pendampingan psikososial secara berkelanjutan bagi siswa maupun warga sekolah.

Pendampingan diharapkan dapat membantu anak memahami respons emosional yang muncul setelah bencana, membangun kembali rasa aman serta mendukung proses pemulihan.

Jika dirangkai berdasarkan pelaksanaan kegiatan, Tim PSS menjalankan dua bentuk respons di dua lokasi dalam waktu dua hari.

Di Dhawe, kegiatan berupa edukasi dan dukungan langsung kepada 40 warga dari tiga kelompok, yakni anak-anak, dewasa dan lansia.

Sementara di SDK Galawea, kegiatan difokuskan pada asesmen untuk menghimpun kondisi serta kebutuhan warga sekolah sebelum pendampingan lebih lanjut.

Dua lokasi tersebut juga menunjukkan dampak gempa dalam bentuk yang berbeda.

Di Dhawe, sejumlah warga masih takut memasuki dan beraktivitas di dalam rumah. Di Galawea, kegiatan belajar masih dilakukan di tenda, sementara sejumlah siswa juga masih merasakan ketakutan dan beberapa belum kembali mengikuti sekolah.

Pelaksanaan kegiatan melibatkan personel Tim PSS PMI Kabupaten Nagekeo dan Tim PSS PMI Pusat.

Tim PSS PMI Kabupaten Nagekeo terdiri atas Angelina Marici Ema dan Laurentia Brindrisa Mogi.

Sementara Tim PSS PMI Pusat melibatkan Elvana dari PMI Kabupaten Jember serta Farah Putri A dari PMI Kota Jakarta Timur.

Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa kondisi pascagempa masih berpengaruh terhadap aktivitas warga di dua lingkungan.

Keberadaan tenda memungkinkan proses pembelajaran SDK Galawea tetap berlangsung, sedangkan kegiatan psikososial di Dhawe memberikan ruang kepada warga untuk menyampaikan kondisi yang masih mereka rasakan.

Di dua lokasi tersebut, isu rasa aman menjadi salah satu bagian penting dari kondisi pascagempa. Warga masih menghadapi ketakutan untuk masuk rumah, sedangkan warga sekolah masih memiliki kekhawatiran terhadap bangunan ketika kemungkinan gempa kembali dipikirkan.

Edukasi serta asesmen yang dilakukan menjadi bagian dari upaya mengetahui kondisi masyarakat sekaligus memetakan kebutuhan dukungan psikososial setelah bencana di Kabupaten Nagekeo.

Penulis: Farah Putri 

Editor: Redaksi

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • 40 Warga Ikut Edukasi, 86 Siswa Terdata Pascagempa Nagekeo
  • 40 Warga Ikut Edukasi, 86 Siswa Terdata Pascagempa Nagekeo
  • 40 Warga Ikut Edukasi, 86 Siswa Terdata Pascagempa Nagekeo
  • 40 Warga Ikut Edukasi, 86 Siswa Terdata Pascagempa Nagekeo
  • 40 Warga Ikut Edukasi, 86 Siswa Terdata Pascagempa Nagekeo
  • 40 Warga Ikut Edukasi, 86 Siswa Terdata Pascagempa Nagekeo

Posting Komentar