59 Rit dalam Enam Hari, PMI Nagekeo Distribusikan 325 Ribu Liter Air Bersih Pascagempa
| PMI Kabupaten Nagekeo mendistribusikan air bersih untuk masyarakat terdampak gempa. Selama 25-30 September 2026 tercatat 59 rit distribusi dengan volume 325.000 liter. Foto: PMI Kabupaten Nagekeo |
LINTAS86.com, NAGEKEO – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Nagekeo telah menjalankan 59 rit distribusi dan menyalurkan total 325.000 liter air bersih dalam operasi pelayanan bagi masyarakat terdampak gempa selama periode 25-30 September 2026.
Distribusi dilakukan melalui layanan Water, Sanitation and Hygiene (WASH) dengan menyesuaikan kebutuhan serta kondisi di wilayah terdampak.
Pada pelayanan Rabu (30/9/2026), PMI Nagekeo menyalurkan sebanyak 5.000 liter air bersih menuju Dusun 1 Kaburea, Desa Tendakinde.
Air itu diperuntukkan bagi 30 kepala keluarga dengan jumlah penerima manfaat 107 jiwa.
Berdasarkan data kegiatan, penerima manfaat terdiri atas 58 orang dewasa, 27 remaja, 20 anak-anak, dan dua balita.
Air yang dibawa menuju permukiman warga berasal dari sumur bor Lape. Distribusi dilakukan dengan membawa air dari sumber tersebut kemudian memasukkannya langsung ke tempat penampungan milik warga.
Pelayanan pada 30 September menjadi kelanjutan operasi yang sudah dilaksanakan PMI Nagekeo sejak 25 September 2026.
Dalam kurun enam hari itu, jumlah pengiriman telah mencapai 59 rit. Jika seluruh pelayanan diakumulasikan, volume air yang didistribusikan mencapai 325.000 liter.
Operasi distribusi membutuhkan dukungan kendaraan untuk menghubungkan sumber air dengan titik penerima manfaat.
Catatan odometer kendaraan pada pelayanan 30 September menunjukkan angka awal 16.708 kilometer dan angka akhir 16.888 kilometer. Artinya, satu kendaraan menempuh jarak operasional sekitar 180 kilometer pada pelayanan hari tersebut.
Jarak perjalanan menjadi salah satu unsur operasional yang perlu diperhitungkan selain ketersediaan air.
Distribusi juga membutuhkan bahan bakar, personel, waktu, serta koordinasi di lapangan. Seluruh unsur tersebut menjadi bagian dari rangkaian pelayanan sebelum air akhirnya sampai ke tempat penampungan masyarakat.
Operasi dilakukan saat PMI Nagekeo menghadapi keterbatasan sumber daya, termasuk dukungan anggaran untuk kebutuhan operasional.
Meski demikian, layanan air bersih tetap dilanjutkan menggunakan personel serta sumber daya yang tersedia.
Fokus pelayanan adalah membantu kebutuhan mendasar masyarakat yang sedang menghadapi dampak gempa.
Jika melihat data pada 30 September secara khusus, 5.000 liter air disalurkan kepada 107 orang dalam 30 keluarga. Sementara itu, apabila ditarik ke periode operasi sejak 25 September, angka tersebut merupakan bagian dari total 325.000 liter yang telah disalurkan.
Data ini penting untuk membedakan antara volume pelayanan pada satu titik dan akumulasi keseluruhan operasi.
Begitu pula dengan angka 59 rit. Jumlah tersebut merupakan akumulasi distribusi sejak 25 hingga 30 September, bukan hanya jumlah perjalanan yang dilakukan pada 30 September.
Dengan demikian, terdapat empat angka utama dalam laporan kegiatan: 59 rit distribusi, total 325.000 liter air selama periode operasi, 5.000 liter yang disalurkan ke Dusun 1 Kaburea pada 30 September, serta 107 jiwa penerima manfaat pada pelayanan tersebut.
Data penerima manfaat juga memberikan gambaran lebih terperinci mengenai kelompok masyarakat yang dilayani.
Dua balita dan 20 anak-anak menjadi bagian dari 107 penerima tersebut. Selain itu terdapat 27 remaja dan 58 orang dewasa.
Di tengah kondisi pascabencana, layanan air bersih menjadi bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat. Keberlanjutan pelayanan bergantung pada berbagai unsur operasional karena air harus diambil dari sumber dan dibawa menuju masyarakat.
PMI Nagekeo menjalankan distribusi secara bertahap berdasarkan situasi lapangan.
Keterbatasan dukungan operasional yang dihadapi menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan kegiatan. Sebab, tingginya kebutuhan distribusi berbanding dengan kebutuhan kendaraan, bahan bakar, personel, waktu, dan koordinasi.
Catatan perjalanan hingga sekitar 180 kilometer pada salah satu hari pelayanan menunjukkan bahwa skala operasi tidak hanya bisa diukur berdasarkan liter air yang telah disalurkan.
Jarak tempuh juga menjadi bagian dari pekerjaan yang diperlukan agar bantuan sampai ke penerima.
Sampai dengan pencatatan pada 30 September 2026, operasi tersebut telah berlangsung enam hari. Total air yang telah disalurkan mencapai 325.000 liter melalui 59 rit pelayanan.
Selama kebutuhan masyarakat terdampak masih ada, layanan WASH menjadi salah satu bagian dari respons yang perlu dipertahankan dengan mempertimbangkan kondisi serta kemampuan sumber daya yang tersedia.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi
Posting Komentar