Dua Minggu Mengungsi Akibat Gempa, 43 Anak Panti di Manggarai Ikuti Layanan PSS
LINTAS86.com, MANGGARAI – Sebanyak 43 anak Panti Asuhan Pelayanan Kasih di Kabupaten Manggarai mengikuti layanan Psychosocial Support Service (PSS) setelah menjalani masa pengungsian sekitar dua minggu akibat gempa dan gempa susulan.
Pelayanan berlangsung di lingkungan Panti Asuhan Pelayanan Kasih, Kelurahan Waso, Kecamatan Langke Rembong, Kamis (1/10/2026).
Data kegiatan mencatat peserta terdiri atas 17 anak laki-laki dan 26 anak perempuan.
Layanan dilakukan setelah anak-anak melewati masa pengungsian di kawasan lebih tinggi di sekitar panti. Mereka mengungsi setelah gempa susulan membuat penghuni memilih meninggalkan bangunan panti dan mencari tempat yang dirasakan lebih aman.
Paulina Pajong (56), pembimbing Panti Asuhan Pelayanan Kasih, mengatakan anak-anak mengalami ketakutan ketika gempa terjadi.
Dalam kondisi tersebut, mereka mencari Paulina sebelum akhirnya bersama-sama keluar dari bangunan.
“Saat gempa, anak-anak mencari saya, menangis dan memeluk saya, lalu mereka menarik saya keluar ruangan,” kata Paulina.
Menurut Paulina, setelah gempa pertama, gempa susulan membuat mereka harus bertahan di kawasan lebih tinggi selama kurang lebih dua minggu.
“Setelah itu gempa susulan datang dan kami semua pun terpaksa berlindung di atas gunung hingga dua minggu lamanya. Sekarang kami sudah pindah lagi ke panti setelah mendapat bantuan tenda,” ujarnya.
Psikoedukasi gempa melalui lagu
Setelah melewati periode pengungsian tersebut, layanan PSS diberikan sebagai salah satu bentuk pendampingan kepada anak-anak.
Kegiatan tidak hanya berupa interaksi antara relawan dan penerima manfaat.
Anak-anak mendapatkan psikoedukasi mengenai cara melindungi diri apabila menghadapi gempa. Materi tersebut disampaikan melalui lagu sehingga informasi dapat diterima dalam suasana yang lebih dekat dengan aktivitas anak.
Selain itu, digunakan pendekatan ekspresif-kreatif berupa kegiatan bernyanyi dan bergerak bersama.
Relawan pendamping PMI Kabupaten Manggarai Lediana Jelihat menjelaskan jumlah anak yang mengikuti pelayanan sebanyak 43 orang.
“Kami melakukan psikoedukasi tentang cara melindungi diri dari gempa lewat lagu kepada 43 orang anak, 17 orang laki-laki dan 26 perempuan, serta ekspresif kreatif berupa bernyanyi dan bergoyang bersama,” jelas Lediana.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bagian dari pelayanan pascabencana yang diarahkan kepada kebutuhan psikososial.
Bencana menyebabkan anak-anak mengalami perubahan keadaan dalam waktu cepat. Selain meninggalkan tempat tinggal atau ruang aktivitasnya, mereka juga harus beradaptasi dengan lokasi pengungsian dan kondisi setelah kembali.
Pendampingan kemudian dilakukan dalam suasana yang memberikan ruang kepada anak-anak untuk berkomunikasi dan mengikuti kegiatan bersama.
Kembali ke kawasan panti
Paulina menyebut anak-anak kini telah berpindah kembali ke panti setelah memperoleh bantuan tenda.
Kondisi tersebut menandai perubahan fase dari masa ketika mereka mengungsi di kawasan lebih tinggi menuju masa transisi untuk kembali menjalani aktivitas.
Ketua PMI Kabupaten Manggarai Hironnymus A. Kaunang, BCKN, mengatakan bantuan yang diberikan diharapkan dapat mendukung kehidupan sehari-hari anak-anak panti.
“Bantuan dari PMI sangat bermanfaat bagi anak-anak panti terutama untuk melanjutkan kehidupan mereka sehari-hari. Harapan saya semoga ada para dermawan yang peduli dengan kemanusiaan yang berbaik hati memberikan bantuan kepada anak-anak panti,” kata Hironnymus.
Pelayanan juga melibatkan fasilitator PSS Meutie N. S. Bulan yang ditugaskan PMI Pusat.
Saat rombongan tiba, anak-anak memberikan sambutan dengan mengalungkan selendang. Meutie mengaku terharu karena rombongan yang datang untuk memberikan pelayanan justru mendapatkan sambutan khusus.
“Saya sangat terharu atas sambutannya, padahal kita biasanya melayani tapi saat ini kita disambut dengan sesuatu yang berbeda, suatu penghargaan bagi kami dan semoga bantuan dari PMI sangat bermanfaat bagi anak-anak,” katanya.
Ia juga menyampaikan pesan kepada anak-anak untuk mempertahankan semangat selama menjalani masa transisi.
“Selama masa transisi ini saya berharap adek-adek tetap semangat, belajar yang rajin dan selalu berdoa, karena apa pun kesulitan kita semuanya terasa ringan ketika kita bawa dalam doa,” ujarnya.
Pelayanan PSS pada 1 Oktober menjadi salah satu dukungan setelah masa pengungsian anak-anak berlangsung sekitar dua minggu.
Dalam informasi kegiatan yang tersedia, tidak disebutkan tingkat kerusakan keseluruhan bangunan panti, detail kekuatan gempa, maupun rincian bantuan material yang telah diterima selain adanya bantuan tenda. Informasi tersebut karena itu tidak diasumsikan lebih lanjut.
Fakta yang tercatat menunjukkan 43 anak telah mengikuti kegiatan psikososial, termasuk psikoedukasi perlindungan diri saat gempa dan kegiatan ekspresif-kreatif.
Setelah melewati dua minggu di pengungsian, para penghuni kini memasuki masa berikutnya untuk kembali menjalani aktivitas di lingkungan Panti Asuhan Pelayanan Kasih.
Pendampingan psikososial menjadi bagian dari proses tersebut karena kebutuhan anak setelah bencana tidak hanya menyangkut kebutuhan sehari-hari, tetapi juga pemulihan rasa nyaman setelah mengalami ketakutan dan perubahan lingkungan secara mendadak.
Penulis: Edho
EDitor: Redaksi
Posting Komentar