Pengungsi Mulai Pulang, Sejumlah Wilayah Manggarai Masih Membutuhkan Air Bersih
LINTAS86.com, MANGGARAI – Kebutuhan air bersih masih ditemukan di sejumlah wilayah Kabupaten Manggarai meskipun warga secara bertahap telah meninggalkan lokasi pengungsian dan kembali ke rumah masing-masing.
Kondisi tersebut membuat pelayanan kemanusiaan tetap berlanjut setelah posko pengungsian ditutup pada Rabu (30/9/2026).
Penutupan posko menandai berakhirnya salah satu bagian dari fase tanggap darurat. Setelah masyarakat kembali ke wilayah masing-masing, pola pelayanan PMI Kabupaten Manggarai ikut disesuaikan dengan kebutuhan yang masih ditemukan di lapangan.
Pelayanan yang sebelumnya terpusat di posko kini diarahkan langsung menuju komunitas.
Salah satu fokusnya adalah Water, Sanitation and Hygiene (WASH), terutama karena masih terdapat sejumlah titik yang membutuhkan pelayanan air bersih.
Koordinator layanan WASH, Dede, menyebut kebutuhan tersebut ditemukan di berbagai wilayah.
“Setelah penutupan posko, kami melihat ada beberapa titik wilayah yang masih membutuhkan air bersih yaitu, di Puskesmas Reo, Gumbang, Wae Poti, Nderu, Coca, Nggorang, Wae Pesi, Gincu Barat, Gincu Timur, Mukang Golo, Jengkalang, hingga Nanga Na'e dan Kampung Baru di Desa Para Lando,” ungkap Dede.
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa berakhirnya aktivitas pengungsian belum berarti kebutuhan terhadap pelayanan dasar ikut selesai.
Sebaliknya, kepulangan warga mengubah titik pelayanan.
Masyarakat yang sebelumnya terkonsentrasi dalam pengungsian kini kembali ke sejumlah wilayah. Pelayanan kemanusiaan pun diperlukan di lokasi-lokasi yang masih membutuhkan dukungan.
Selain layanan air bersih, bantuan sarana penampungan air juga diberikan.
Ancik Apul menyampaikan bahwa pada 30 September 2026 PMI Kabupaten Manggarai memberikan tandon atau profil tank sekaligus melakukan instalasi agar dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Hari ini tanggal 30 September 2026, PMI Kabupaten Manggarai memberikan bantuan berupa tandon atau profil tank, lalu menginstalasinya supaya masyarakat bisa langsung menggunakannya,” ujar Ancik Apul.
Bahan kegiatan tidak mencantumkan jumlah tandon yang diberikan. Karena itu, jumlah bantuan tersebut tidak disebutkan lebih lanjut.
Layanan bergeser ke masyarakat
Selain WASH, pelayanan lanjutan setelah penutupan posko mencakup pelayanan kesehatan, promosi kesehatan, dukungan psikososial atau PSS, serta bentuk bantuan kemanusiaan lainnya.
Kebutuhan dukungan psikososial antara lain ditemukan ketika pelayanan dilakukan di Dusun Wakal, Desa Kentol.
Kristina M. Beda, relawan PMI Kabupaten Manggarai yang terlibat dalam pelayanan PSS, melakukan psychological first aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis kepada masyarakat.
Dari pendampingan tersebut, kecemasan warga disebut telah mengalami penurunan. Meski demikian, kekhawatiran mengenai kondisi tempat tinggal masih ditemukan.
“Saat melakukan PFA kami menemukan bahwa tingkat kecemasan warga sudah berkurang, tetapi mereka masih khawatir akan tempat tinggal yang tidak nyaman karena rusak,” kata Kristina.
Kondisi tersebut menjadi salah satu informasi penting dalam fase setelah pengungsian.
Kembalinya warga ke rumah tidak selalu berarti seluruh kondisi tempat tinggal sudah kembali seperti sebelum bencana.
Kerusakan rumah dapat menimbulkan persoalan kenyamanan sekaligus kekhawatiran bagi penghuninya. Oleh sebab itu, dukungan psikososial masih menjadi bagian dari pelayanan yang dilakukan.
Kebutuhan yang ditemukan setelah penutupan posko setidaknya mencakup beberapa aspek, mulai dari air bersih, kebersihan, kesehatan, kondisi psikologis hingga kebutuhan masyarakat untuk kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
Pola tanggap bencana pun bergeser.
Pada masa pengungsian, petugas dan relawan dapat memberikan pelayanan melalui posko. Ketika masyarakat pulang, petugas perlu menjangkau lokasi warga dan menyesuaikan bentuk pelayanan berdasarkan situasi masing-masing wilayah.
Kondisi ini membuat penutupan posko lebih tepat dipahami sebagai perubahan tahapan penanganan.
Satu fase telah berakhir ketika warga mulai meninggalkan tempat pengungsian. Fase berikutnya adalah membantu masyarakat menghadapi kebutuhan yang tersisa setelah mereka kembali.
Pada 30 September, kebutuhan tersebut terlihat setidaknya dari dua bidang: air bersih yang masih diperlukan di sejumlah wilayah serta pendampingan psikologis terhadap masyarakat yang masih mencemaskan kondisi rumah.
Dengan demikian, aktivitas kemanusiaan di Manggarai belum sepenuhnya berakhir bersama penutupan posko.
Pelayanan bergerak dari satu lokasi terpusat menuju wilayah tempat masyarakat kembali menjalani kehidupan mereka, dengan kebutuhan lapangan menjadi dasar penyesuaian layanan selanjutnya.
Penulis: Edho
Editor: Redaksi
Posting Komentar