Yuli Arinta Dampingi Relawan PMI Hadapi Tekanan Pascagempa Flores

LINTAS86.com, MANGGARAI - Selama berminggu-minggu menjalankan misi kemanusiaan pascagempa Flores, banyak relawan PMI menghabiskan waktunya untuk mendengarkan cerita orang lain.

Mereka mendengar kisah keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Mereka menyaksikan warga yang berjuang kembali menjalani kehidupan setelah gempa. Mereka hadir membantu distribusi bantuan, menyediakan layanan air bersih, mendukung kebutuhan sanitasi, hingga mendampingi masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.

Namun di tengah semua tugas itu, ada satu pertanyaan yang jarang muncul. Siapa yang mendengarkan para relawan?

Pertanyaan itulah yang menjadi dasar pelaksanaan Layanan Dukungan Psikososial PMI Pusat bagi staf dan relawan PMI yang bertugas di wilayah terdampak Gempa Flores di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Untuk wilayah Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat, kegiatan tersebut difasilitasi oleh Yuli Arinta Dewi, S.P., S.Psi., M.Si., Fasilitator Dukungan Kelompok PMI yang juga merupakan relawan PMI Provinsi Jawa Tengah serta dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang, bersama Noviyanti dari PMI Jakarta Timur.

Program berlangsung pada 12 hingga 24 Oktober 2026 sebagai bagian dari upaya menjaga kesejahteraan psikologis para relawan yang selama ini berada di garis depan pelayanan kemanusiaan.

Berawal dari Kesadaran bahwa Relawan Juga Manusia

Dalam setiap operasi kemanusiaan, relawan sering dipandang sebagai sosok yang selalu siap membantu siapa saja.

Mereka bergerak ketika masyarakat membutuhkan bantuan. Mereka berada di lapangan saat kondisi sulit terjadi. Mereka bekerja ketika banyak orang memilih mencari tempat aman.

Namun di balik dedikasi tersebut, relawan tetaplah manusia biasa yang memiliki keterbatasan fisik maupun emosional.

Mereka dapat mengalami kelelahan, tekanan, kecemasan, bahkan kejenuhan setelah menjalankan tugas dalam waktu yang panjang.

Yuli Arinta Dewi menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan hal yang wajar dalam penugasan kemanusiaan.

"Relawan sering kali lebih fokus membantu orang lain dibanding memperhatikan kondisi dirinya sendiri. Padahal menjaga diri, mengenali kelelahan, dan berbagi pengalaman merupakan bagian penting untuk tetap bisa menjalankan pelayanan kemanusiaan secara berkelanjutan," ujar Yuli Arinta Dewi.

Menurutnya, kesehatan mental bukan hanya kebutuhan masyarakat terdampak bencana, tetapi juga kebutuhan para petugas yang setiap hari memberikan bantuan.

Menyusuri Manggarai Raya untuk Mendengar Para Penolong

Rangkaian kegiatan diawali pada 12 Oktober 2026 melalui koordinasi dengan Kepala Markas PMI Manggarai dan Koordinator Lapangan PMI Provinsi NTT.

Keesokan harinya, Yuli dan Noviyanti bertemu dengan relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) di Desa Lemarang dan Desa Para Lando, Kabupaten Manggarai.

Mereka kemudian melanjutkan pendampingan kepada relawan Water, Sanitation and Hygiene (WASH) yang bertugas di Camp WASH PMI Desa Bajak pada 14 Oktober 2026.

Sesi berikutnya diberikan kepada staf dan relawan PMI Kabupaten Manggarai pada 15 Oktober.

Program dilanjutkan ke Kabupaten Manggarai Timur pada 17 Oktober dan Kabupaten Manggarai Barat pada 19 Oktober 2026.

Di setiap lokasi, mereka menemukan cerita yang hampir sama. Para relawan menghadapi tekanan pekerjaan yang tinggi, kebutuhan masyarakat yang besar, dan tantangan lapangan yang terus berubah setiap hari.

Meski demikian, sebagian besar relawan memilih menyimpan pengalaman tersebut agar tetap bisa fokus menjalankan tugas.

Ruang Aman yang Selama Ini Dibutuhkan

Berbeda dengan pertemuan formal atau rapat koordinasi, sesi dukungan kelompok dirancang sebagai ruang yang aman dan nyaman.

Peserta tidak diwajibkan berbicara. Mereka juga tidak dipaksa menceritakan pengalaman yang membuat mereka tidak nyaman.

Namun ketika suasana mulai terbentuk, banyak relawan memilih membuka cerita mereka secara sukarela.

Ada yang berbicara tentang kelelahan setelah berhari-hari bertugas. Ada yang mengisahkan kesulitan koordinasi di lapangan. Ada pula yang mengaku merasa tertekan ketika kebutuhan masyarakat terus berdatangan sementara sumber daya yang tersedia terbatas.

Dalam sesi tersebut, para relawan tidak mencari siapa yang benar atau salah.

Mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk berbagi dan didengarkan.

"Kadang-kadang seseorang tidak membutuhkan solusi yang rumit. Mereka hanya perlu ruang untuk berbicara dan merasa bahwa apa yang mereka alami dipahami oleh orang lain," kata Yuli.

Selain sesi berbagi pengalaman, peserta juga mendapatkan psikoedukasi mengenai pengelolaan stres, pentingnya menjaga waktu istirahat, komunikasi yang suportif, serta pemanfaatan dukungan sosial di lingkungan kerja.

Dukungan yang Tidak Perlu Menunggu Penugasan Selesai

Salah satu hal penting yang muncul selama kegiatan adalah perlunya dukungan diberikan sejak masa tanggap darurat masih berlangsung.

Hal ini juga menjadi pembahasan saat tim fasilitator berdiskusi dengan Pengurus PMI Kabupaten Manggarai Barat pada 19 Oktober 2026.

Selama ini banyak orang beranggapan bahwa layanan psikososial diberikan setelah seseorang mengalami tekanan berat atau setelah operasi kemanusiaan selesai.

Padahal pada masa tanggap darurat, relawan justru sedang menghadapi beban pekerjaan yang paling tinggi.

Karena itu, pemantauan kondisi mental relawan perlu dilakukan sejak awal agar organisasi dapat mengenali kebutuhan mereka lebih cepat, termasuk kebutuhan istirahat, penyesuaian beban kerja, penguatan koordinasi, maupun kebutuhan dukungan lanjutan.

Inspirasi dari Mereka yang Memilih Tetap Peduli

Kegiatan yang dilaksanakan PMI Pusat ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap relawan merupakan bagian penting dari pelayanan kemanusiaan.

Di balik setiap bantuan yang sampai kepada masyarakat, ada orang-orang yang bekerja tanpa banyak sorotan.

Mereka rela meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membantu sesama.

Melalui pendampingan yang dilakukan Yuli Arinta Dewi dan Noviyanti, para relawan mendapatkan kesempatan untuk mengingat bahwa mereka tidak sendirian menghadapi tekanan di lapangan.

Ada organisasi yang peduli terhadap kondisi mereka. Ada rekan-rekan yang siap mendengarkan. Ada ruang yang memungkinkan mereka beristirahat sejenak sebelum kembali menjalankan tugas kemanusiaan.

Gempa Flores mungkin menghadirkan banyak tantangan bagi masyarakat dan para relawan.

Namun dari kegiatan ini lahir satu pelajaran penting bahwa membantu sesama tidak hanya berarti memberikan pertolongan kepada masyarakat terdampak.

Membantu sesama juga berarti menjaga orang-orang yang setiap hari memilih hadir untuk menolong.

Sebab relawan yang kuat bukanlah relawan yang tidak pernah lelah.

Melainkan relawan yang memiliki dukungan ketika rasa lelah itu datang.

Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Yuli Arinta Dampingi Relawan PMI Hadapi Tekanan Pascagempa Flores
  • Yuli Arinta Dampingi Relawan PMI Hadapi Tekanan Pascagempa Flores
  • Yuli Arinta Dampingi Relawan PMI Hadapi Tekanan Pascagempa Flores
  • Yuli Arinta Dampingi Relawan PMI Hadapi Tekanan Pascagempa Flores
  • Yuli Arinta Dampingi Relawan PMI Hadapi Tekanan Pascagempa Flores
  • Yuli Arinta Dampingi Relawan PMI Hadapi Tekanan Pascagempa Flores

Posting Komentar