Menjadi Pewarta Warga Kekinian: Semangat Jurnalisme di Era Digital

lintas86.com, Ponorogo - Perkembangan internet, telepon pintar, media sosial, blog, dan berbagai platform digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh sekaligus menyampaikan informasi. Kini, masyarakat tidak hanya menjadi pembaca atau penonton, tetapi juga dapat mendokumentasikan peristiwa dan menyampaikan informasi dari lingkungan sekitar.

Fenomena tersebut membuka ruang bagi berkembangnya jurnalisme warga atau citizen journalism. Masyarakat dapat mengangkat persoalan lokal, pendidikan, lingkungan, sosial, budaya, kemanusiaan hingga peristiwa di sekitar yang belum tentu mendapatkan perhatian media.

Namun kemudahan memproduksi informasi juga membawa tanggung jawab. Kemampuan mengambil foto, merekam video dan menulis unggahan tidak otomatis membuat seluruh informasi yang dihasilkan menjadi berita yang benar.

Karena itu, pewarta warga kekinian membutuhkan literasi media, kemampuan memeriksa fakta serta kesadaran etika sebelum informasi disebarluaskan.

UNESCO menempatkan literasi media dan informasi sebagai seperangkat kemampuan penting yang membantu masyarakat berinteraksi secara kritis dengan informasi dan menghadapi tantangan seperti misinformasi dan disinformasi di lingkungan digital. [unesco.org], [unesco.org]

Apa Itu Jurnalisme Warga?

Secara sederhana, jurnalisme warga dapat dipahami sebagai partisipasi masyarakat dalam mendokumentasikan, mengolah dan menyampaikan informasi mengenai berbagai peristiwa atau persoalan di sekitarnya.

Pewarta warga tidak harus memulai dari sebuah peristiwa besar.

Kondisi jalan di desa, kegiatan sekolah, persoalan lingkungan, aktivitas kemanusiaan, tradisi masyarakat, potensi wisata, kesiapsiagaan bencana hingga pelayanan publik dapat menjadi informasi bernilai ketika dilaporkan secara akurat dan bertanggung jawab.

Di situlah salah satu kekuatan jurnalisme warga. Masyarakat berada dekat dengan peristiwa sehingga berpeluang menemukan berbagai cerita lokal yang tidak selalu dapat dijangkau media dalam waktu bersamaan.

Meski demikian, jurnalisme warga perlu dibedakan dengan profesi wartawan dan produk jurnalistik perusahaan pers. Pers profesional di Indonesia bekerja dalam kerangka hukum dan standar profesi. Dewan Pers menegaskan bahwa pers nasional berpedoman pada undang-undang tentang pers, Kode Etik Jurnalistik, dan peraturan-peraturan Dewan Pers. [jdih.dewanpers.or.id], [jdih.dewanpers.or.id]

Pewarta Warga Bukan Sekadar Mengunggah di Media Sosial

Salah satu kekeliruan yang perlu dihindari adalah menganggap semua unggahan tentang suatu kejadian sebagai kegiatan jurnalistik.

Ada perbedaan penting antara sekadar mengunggah dan berusaha menghasilkan informasi yang dapat dipercaya.

Jika ingin mengembangkan diri sebagai pewarta warga, seseorang perlu mulai membiasakan diri bertanya:

Apakah informasi ini benar? Dari mana sumbernya? Apakah saya menyaksikannya sendiri? Bisakah informasi tersebut diverifikasi? Apakah orang lain yang terkait sudah dimintai keterangan? Apakah foto dan video yang digunakan benar-benar berasal dari kejadian tersebut?

Pertanyaan sederhana itu menjadi semakin penting ketika informasi dapat tersebar kepada ratusan bahkan ribuan orang hanya melalui beberapa sentuhan pada layar telepon.

Kementerian Komunikasi dan Digital bahkan mengingatkan masyarakat menggunakan prinsip berhenti, berpikir, melakukan verifikasi, kemudian membagikan informasi. Literasi digital dinilai berkaitan dengan kemampuan seseorang membedakan informasi benar dan palsu. [portal.komdigi.go.id]

Pegang Fakta, Jangan Menciptakan Cerita

Modal utama pewarta warga bukan kamera mahal atau jumlah pengikut di media sosial.

Modal terpenting adalah kepercayaan.

Karena itu, informasi yang disampaikan harus berpijak pada fakta.

Ketika meliput sebuah kegiatan, misalnya, pewarta warga perlu memastikan nama kegiatan, lokasi, waktu, jumlah peserta apabila tersedia, pihak yang menyelenggarakan serta keterangan narasumber.

Jika sebuah informasi belum dapat dipastikan kebenarannya, jangan mengubah dugaan menjadi fakta.

Prinsip jurnalistik profesional juga dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat. Dewan Pers memiliki Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku dan Standar Pers Profesional yang menjadi bagian dari kerangka profesionalisme pers Indonesia. [jdih.dewanpers.or.id], [jdih.dewanpers.or.id]

Belajar Unsur 5W+1H

Bagi pewarta warga pemula, salah satu metode paling mudah ketika mengumpulkan bahan tulisan adalah menggunakan 5W+1H.

Pertanyaan tersebut meliputi:

  • What: Apa yang terjadi?
  • Who: Siapa yang terlibat?
  • When: Kapan peristiwa berlangsung?
  • Where: Di mana peristiwa terjadi?
  • Why: Mengapa peristiwa tersebut terjadi?
  • How: Bagaimana peristiwa berlangsung?

Tidak semua jawaban harus dipaksakan masuk dalam satu paragraf. Namun, pertanyaan tersebut dapat menjadi panduan agar informasi penting tidak terlewat.

Setelah memperoleh informasi dasar, pewarta warga dapat mencari sisi yang paling penting bagi pembaca dan mengembangkannya melalui wawancara.

Wawancara Membuat Informasi Lebih Kuat

Jangan hanya datang ke lokasi, mengambil foto, kemudian pulang.

Jika memungkinkan, berbicaralah dengan orang yang benar-benar mengetahui peristiwa tersebut.

Tanyakan apa yang terjadi, alasan kegiatan dilakukan, dampaknya bagi masyarakat atau persoalan yang sedang dihadapi.

Catat nama dan kapasitas narasumber secara tepat.

Keterangan seorang penyelenggara juga tidak selalu cukup, khususnya ketika tulisan membahas persoalan yang melibatkan beberapa pihak. Untuk isu yang diperdebatkan atau mengandung tuduhan, upayakan mendapatkan keterangan dari pihak terkait agar tulisan tidak hanya menampilkan satu sisi.

Foto dan Video Juga Harus Akurat

Jurnalisme warga kekinian tidak sebatas tulisan.

Telepon pintar memungkinkan masyarakat membuat foto, video dan rekaman suara untuk mendukung informasi.

Namun dokumentasi visual juga harus digunakan secara bertanggung jawab.

Jangan menggunakan foto suatu peristiwa untuk menggambarkan kejadian yang berbeda. Jangan memotong video dengan cara yang menghilangkan konteks penting. Hindari menggunakan gambar lama seolah-olah merupakan peristiwa yang baru terjadi.

Perkembangan teknologi digital bahkan menghadirkan tantangan baru berupa konten manipulatif berbasis kecerdasan buatan. Kementerian Komunikasi dan Digital telah mengingatkan bahwa manipulasi berbasis AI dapat memperumit persoalan penyebaran hoaks. [portal.komdigi.go.id]

Karena itu, kemampuan melihat gambar saja semakin tidak cukup. Pewarta warga perlu mengetahui asal, waktu dan konteks suatu materi visual.

Jangan Kalah Cepat dengan Hoaks

Keinginan menjadi orang pertama yang mengabarkan sebuah kejadian dapat menjadi jebakan.

Lebih baik terlambat beberapa menit tetapi benar daripada menjadi yang pertama menyebarkan informasi yang ternyata keliru.

Persoalan hoaks bukan isu kecil dalam ruang digital. Kementerian Komunikasi dan Digital terus menyediakan kanal klarifikasi hoaks dan menempatkan literasi digital, deteksi konten serta edukasi verifikasi informasi sebagai bagian dari upaya mengurangi penyebaran informasi palsu. [komdigi.go.id], [portal.komdigi.go.id]

Sebelum membagikan informasi, pewarta warga dapat melakukan langkah sederhana:

  1. Baca informasi sampai selesai.
  2. Periksa siapa sumber pertamanya.
  3. Cari informasi dari sumber lain yang dapat dipercaya.
  4. Periksa tanggal, lokasi, foto dan video.
  5. Bedakan fakta, pendapat dan dugaan.
  6. Hubungi pihak terkait jika memungkinkan.
  7. Jangan membagikan informasi jika kebenarannya masih meragukan.

UNESCO juga menempatkan kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi secara kritis, menggunakan, menciptakan dan menyebarkan informasi secara legal serta etis sebagai bagian penting literasi media dan informasi. [unesco.org], [iite.unesco.org]

Jurnalisme Warga Bisa Mengangkat Cerita Lokal

Salah satu kekuatan terbesar pewarta warga adalah kedekatan dengan komunitas.

Setiap daerah mempunyai cerita.

Seorang guru dapat menemukan inovasi pendidikan di sekolah. Relawan dapat mendokumentasikan kegiatan kemanusiaan. Masyarakat desa dapat menceritakan budaya lokal. Pelajar dapat menulis kegiatan sekolah. Kelompok lingkungan dapat melaporkan upaya menjaga sungai atau sumber air.

Cerita seperti itu mungkin terlihat sederhana, tetapi bisa menjadi catatan berharga tentang kehidupan masyarakat jika dikumpulkan dan ditulis secara konsisten.

Tidak harus selalu mencari berita yang sensasional. Informasi yang bermanfaat bagi masyarakat mempunyai nilai tersendiri.

Pewarta Warga dan Wartawan Bisa Berkolaborasi

Kehadiran jurnalisme warga tidak harus ditempatkan sebagai pesaing wartawan profesional.

Sebaliknya, keduanya mempunyai peluang untuk saling melengkapi.

Masyarakat dapat menjadi sumber awal informasi mengenai kejadian di tingkat lokal. Media dan wartawan profesional kemudian dapat melakukan peliputan lebih jauh dengan proses jurnalistik, verifikasi, wawancara serta penyuntingan redaksional.

Kolaborasi tersebut berpotensi membuat persoalan yang sebelumnya hanya diketahui masyarakat setempat memperoleh perhatian lebih luas.

Namun, batas perannya tetap perlu dipahami. Dewan Pers memiliki kerangka tersendiri mengenai perilaku dan standar pers profesional guna melindungi kepentingan publik sekaligus menjaga profesionalisme pers. [jdih.dewanpers.or.id]

Media Sosial Adalah Alat, Bukan Ukuran Kebenaran

Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, WhatsApp, blog maupun platform lainnya memberikan kesempatan besar bagi masyarakat untuk mendistribusikan informasi.

Akan tetapi, banyaknya tayangan, tanda suka dan pembagian bukan ukuran bahwa sebuah informasi benar.

Konten sensasional bahkan dapat bergerak lebih cepat karena mengundang rasa ingin tahu.

Itulah mengapa pewarta warga perlu mengembangkan literasi media.

Data dan program literasi digital pemerintah juga menempatkan kemampuan menggunakan teknologi dan memahami informasi digital sebagai kompetensi yang perlu terus dikembangkan masyarakat. [data.komdigi.go.id], [komdigi.go.id]

UNESCO pun menyebut literasi media dan informasi sebagai kemampuan penting untuk membantu masyarakat menghadapi misinformasi, disinformasi, menurunnya kepercayaan terhadap media, dan perkembangan teknologi digital termasuk AI. [unesco.org], [unesco.org]

10 Prinsip Pewarta Warga Kekinian

Jika ingin mulai menjadi pewarta warga, setidaknya pegang sepuluh prinsip sederhana berikut:

1. Utamakan fakta
Jangan menambahkan sesuatu yang tidak terjadi.

2. Periksa informasi
Jangan langsung mempercayai pesan yang diterima dari orang lain.

3. Kenali sumber
Semakin penting informasi, semakin penting mengetahui siapa sumbernya.

4. Lakukan wawancara
Carilah keterangan langsung dari orang yang mengetahui persoalan.

5. Bedakan fakta dan opini
Pendapat narasumber bukan otomatis sebuah fakta.

6. Berikan konteks
Jangan memotong informasi sehingga menimbulkan pemahaman yang berbeda dari keadaan sebenarnya.

7. Gunakan foto dan video secara bertanggung jawab
Pastikan visual benar-benar sesuai dengan peristiwa.

8. Jangan mengejar viral dengan mengorbankan kebenaran
Kepercayaan pembaca lebih berharga daripada jumlah tayangan sesaat.

9. Koreksi ketika salah
Jika menemukan kekeliruan dalam informasi yang sudah diterbitkan, lakukan perbaikan secara bertanggung jawab.

10. Terus belajar
Pelajari penulisan, wawancara, fotografi, video, literasi digital dan prinsip-prinsip etika jurnalistik.

Prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan kebutuhan literasi media yang menekankan kemampuan masyarakat untuk terlibat secara kritis dengan informasi dan teknologi digital. [unesco.org], [iite.unesco.org]

Menjadi Pewarta Warga yang Dipercaya

Pada akhirnya, jurnalisme warga bukan mengenai siapa yang mempunyai telepon pintar terbaru, kamera terbaik atau pengikut media sosial terbanyak.

Jurnalisme warga adalah tentang kemauan melihat persoalan di sekitar, mendengarkan masyarakat, mencari fakta, melakukan verifikasi dan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab.

Teknologi hanya menyediakan alat.

Kepercayaan masyarakat dibangun melalui ketepatan dan konsistensi.

Di tengah banjir informasi, kemampuan berpikir kritis bahkan semakin penting. UNESCO mendorong literasi media dan informasi agar masyarakat mampu berinteraksi secara kritis dengan konten serta menggunakan teknologi digital dengan lebih bertanggung jawab. [unesco.org], [unesco.org]

Karena itu, siapa pun yang ingin menjadi pewarta warga sebaiknya mulai dari lingkungan terdekat.

Amati peristiwa, kumpulkan fakta, wawancarai sumber, periksa kembali informasi, tulis dengan jelas, lalu publikasikan secara bertanggung jawab.

Pada era digital, siapa saja memang dapat menyampaikan informasi. Namun, pewarta warga yang baik bukan yang paling cepat membuat informasi menjadi viral, melainkan yang mampu membuat masyarakat percaya karena informasi yang disampaikannya akurat dan bermanfaat.


Penulis: M Nur Amin Zabidi
Editor: Redaksi

Sumber Rujukan

  1. UNESCO, Media and Information Literacy, mengenai kompetensi literasi media dan informasi dalam menghadapi misinformasi, disinformasi dan perkembangan teknologi digital. [unesco.org], [unesco.org]
  2. Dewan Pers, Pedoman Perilaku dan Standar Pers Profesional dan Kode Etik Jurnalistik. [jdih.dewanpers.or.id], [jdih.dewanpers.or.id]
  3. Kementerian Komunikasi dan Digital, informasi mengenai literasi digital, penanganan hoaks dan pentingnya verifikasi sebelum menyebarkan informasi. [komdigi.go.id], [portal.komdigi.go.id], [portal.komdigi.go.id]
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Menjadi Pewarta Warga Kekinian: Semangat Jurnalisme di Era Digital
  • Menjadi Pewarta Warga Kekinian: Semangat Jurnalisme di Era Digital
  • Menjadi Pewarta Warga Kekinian: Semangat Jurnalisme di Era Digital
  • Menjadi Pewarta Warga Kekinian: Semangat Jurnalisme di Era Digital
  • Menjadi Pewarta Warga Kekinian: Semangat Jurnalisme di Era Digital
  • Menjadi Pewarta Warga Kekinian: Semangat Jurnalisme di Era Digital

Posting Komentar