HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Dari Korban Jadi Pelita: Kisah Ita dan Relawan PMI Aceh Tamiang

Kisah Ita dan Bina Relawan Aceh Tamiang saat ikut memberikan pendampingan Psikososial korban bencana di Aceh Tamiang

lintas86.com, Aceh Tamiang - Aceh Tamiang, sebuah kabupaten yang baru saja diterjang banjir bandang dahsyat, kini menyisakan luka mendalam bagi ribuan warganya. Namun, di balik puing-puing dan kesedihan, muncul kisah inspiratif dari dua sosok relawan Palang Merah Indonesia (PMI), Ita dan Bina, yang bukan hanya menjadi korban, tetapi juga pelita harapan bagi sesama korban bencana.

Malam itu, hujan deras mengguyur Aceh Tamiang tanpa henti. Dalam waktu singkat, banjir bandang melanda dengan kekuatan luar biasa. Rumah-rumah terendam, harta benda hanyut terbawa arus, dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal serta sumber penghidupan mereka. Ita dan Bina, dua relawan PMI yang selama ini dikenal aktif membantu masyarakat, juga menjadi korban bencana tersebut. Rumah mereka yang penuh kenangan dan kebahagiaan hilang tak bersisa, menyisakan hanya nyawa yang berhasil diselamatkan.

Pagi setelah bencana, yang tersisa hanyalah puing-puing dan lumpur. Perasaan hampa, takut, sedih, dan marah menyelimuti hati Ita dan Bina, sama seperti ribuan korban lainnya. Namun, di tengah keterpurukan itu, mereka memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.

Sebagai relawan PMI, Ita dan Bina menyadari bahwa penderitaan mereka bukanlah yang paling utama. Masih banyak lansia yang kehilangan keluarga, anak-anak yang kebingungan, dan ibu-ibu yang berusaha kuat menghadapi ketakutan. Dengan tangan yang masih gemetar dan hati yang penuh luka, Ita kembali mengenakan rompi PMI. Ia menjadi pendamping psikososial di pengungsian, mendengarkan cerita-cerita kehilangan yang mirip dengan kisahnya, dan memberikan pelukan serta kata-kata penuh harapan untuk menenangkan luka batin sesama korban.

Bina pun tak kalah gigih. Meski kehilangan tempat tinggal, ia tetap berada di garis depan membantu evakuasi, mendirikan tenda pengungsian, dan memastikan bantuan sampai kepada yang membutuhkan. Di balik wajah tenangnya, tersimpan kelelahan dan kesedihan yang mendalam. Namun, tekadnya kuat, karena ia yakin selama mampu berdiri, masih ada tugas mulia yang harus dilakukan.

"Kalau kita sama-sama jatuh, siapa yang akan menolong?" ujar Bina dengan lirih, menggambarkan semangatnya yang tak pernah padam.

Hari demi hari berlalu, luka belum sembuh dan kehilangan belum tergantikan. Namun Ita dan Bina tetap hadir sebagai penguat bagi sesama, meski mereka sendiri masih rapuh. Mereka membuktikan bahwa menjadi relawan bukan berarti kebal terhadap penderitaan, melainkan berani memilih untuk peduli di tengah rasa sakit.

Kisah mereka adalah potret ketangguhan manusia dalam bentuk paling jujur. Kemanusiaan bukan lahir dari kelebihan, tetapi dari empati yang tulus. Harapan bisa tumbuh di atas puing-puing kehidupan yang hancur.

Banjir bandang telah merenggut rumah dan harta benda mereka, namun tidak mampu menghanyutkan keberanian untuk terus membantu dan keyakinan bahwa kebaikan sekecil apa pun dapat menjadi cahaya bagi mereka yang sedang gelap.

Dari Aceh Tamiang, Ita dan Bina mengajarkan kita pelajaran penting: bahkan saat kehilangan segalanya, kita masih bisa menjadi harapan bagi orang lain. Mereka adalah bukti nyata bahwa solidaritas dan kepedulian mampu membangun kembali kehidupan dari reruntuhan.

Dengan rompi kebanggaan Palang Merah Indonesia, mereka bahu membahu demi Aceh Tamiang bangkit kembali. Kisah mereka bukan hanya inspirasi bagi daerah yang terdampak bencana, tetapi juga bagi kita semua, untuk terus peduli dan berani membantu sesama dalam keadaan apapun.

Aceh Tamiang sedang dalam proses pemulihan, dan sosok Ita serta Bina menjadi simbol harapan dan semangat kebersamaan yang tak tergoyahkan.

Penulis: Zabidi 
Editor: Redaksi
Posting Komentar
Tutup Iklan