Sumur Tertimbun Lumpur, Krisis Air Bersih di Aceh Utara Pasca Banjir - lintas86
HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Sumur Tertimbun Lumpur, Krisis Air Bersih di Aceh Utara Pasca Banjir


lintas86.com, Aceh Utara - Bencana banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara pada November 2025 lalu, meninggalkan dampak serius terhadap ketersediaan air bersih di wilayah tersebut.
 
Upaya pemulihan terus dilakukan oleh berbagai pihak, salah satunya oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Aceh Utara yang berperan aktif dalam memastikan penyintas banjir mendapatkan akses air bersih yang memadai.

Pasca banjir melanda, sejumlah sumur milik warga serta fasilitas umum seperti meunasah dan masjid di berbagai kecamatan masih dalam kondisi tertimbun lumpur. 

Hal ini mengakibatkan krisis air bersih bagi masyarakat setempat, terutama di kecamatan yang paling terdampak seperti Sawang, Langkahan, Tanah Jambo Aye, dan Baktiya.

Ketua PMI Aceh Utara, Tantawi, menjelaskan bahwa pemulihan dan normalisasi sumur menjadi prioritas utama dalam upaya pemulihan pascabencana ini. 

"Memang belum seluruhnya bersih. Namun kami terus berpindah dari satu titik ke titik lainnya. Satu hari, biasanya kami hanya mampu membersihkan satu sumur dari lumpur. Normalisasi sumur ini perlu kita lakukan secara terus menerus," ujar Tantawi pada Senin (2/2/2026).

Kesulitan akses air bersih juga mendesak PMI untuk setiap harinya mengoperasikan tiga unit mobil tangki air guna mendistribusikan air bersih ke lokasi-lokasi pengungsian. 

Di Kecamatan Langkahan, PMI telah menyediakan tandon air siap minum yang dapat diakses secara cuma-cuma oleh masyarakat setempat. 

"Bagi masyarakat di Kecamatan Langkahan bisa mengambil secara gratis di tandon air kita di Desa Lueng Angen. Di sana, kita siapkan air siap minum," tambah Tantawi.

Selain menangani masalah air, program-program lain yang dijalankan oleh PMI mencakup pemberian dukungan psikososial untuk murid dan pelajar, pembersihan sisa lumpur di bangunan, serta penyaluran bantuan peralatan dapur dan mainan anak-anak.

Menyadari masih panjangnya jalan menuju pemulihan total, Tantawi mengajak organisasi kemanusiaan lainnya untuk bergotong royong membantu penyediaan infrastruktur air yang lebih permanen. 

"Misalnya membantu pemberian sumur bor untuk warga. Karena menormalisasi sumur butuh waktu yang lumayan lama dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit," imbuhnya.

PMI memastikan bahwa mereka akan terus memberikan pendampingan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara hingga proses rehabilitasi dan rekonstruksi dinyatakan selesai. 

"Kami pastikan program kemanusiaan ini berjalan hingga pemerintah menyatakan rehabilitasi dan rekonstruksi selesai. Untuk itu, mari kita bergandengan tangan membangun kembali Aceh Utara," tutup Tantawi.

Situasi ini menjadi panggilan bagi semua pihak untuk berkontribusi dalam pemulihan Aceh Utara. Setiap dukungan dan bantuan, sekecil apapun bentuknya, akan menjadi harapan baru bagi para korban bencana. Bantulah mereka dengan ikut serta dalam upaya kolektif ini.


Penulis: Zabidi 
Editor: Redaksi
Posting Komentar
Tutup Iklan