Tradisi Meugang: Warisan Budaya Aceh yang Kaya Akan Nilai Relegius dan Sosial - lintas86
HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Tradisi Meugang: Warisan Budaya Aceh yang Kaya Akan Nilai Relegius dan Sosial



lintas86.com, Banda Aceh -
Tradisi Meugang, yang dikenal sebagai Makmeugang, merupakan salah satu identitas budaya masyarakat Aceh yang mencerminkan kekayaan nilai religius, gotong royong, dan kebersamaan keluarga. Tradisi ini melibatkan aktivitas menyembelih dan menikmati daging, dan dilaksanakan pada tiga momen penting dalam kalender Islam: menjelang Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Di balik tradisi ini terdapat nilai-nilai dan sejarah yang dalam, yang telah diwariskan turun-temurun sejak masa Kesultanan Iskandar Muda.

Meugang: Simbol Syukur dan Kemakmuran

Di Aceh, meugang bukan hanya sekedar menikmati hidangan daging. Tradisi ini melambangkan rasa syukur dan menjadi simbol kemakmuran masyarakat. Daging, baik sapi ataupun kerbau, dipotong dan dibagikan kepada keluarga, kerabat, dan terutama yatim piatu serta mereka yang kurang mampu. Ini mencerminkan nilai solidaritas dan saling berbagi, yang sangat dijunjung tinggi dalam kultur Aceh. Sejarah mencatat bahwa inisiatif pelaksanaan tradisi meugang ini bermula dari perintah Sultan Iskandar Muda yang berkehendak memotong hewan ternak dalam jumlah besar untuk dinikmati bersama rakyatnya (Pemerintah Aceh, 2023).

Pengolahan daging meugang menjadi masakan khas Aceh seperti kuah beulangong, rendang, atau olahan rebusan lainnya, juga menjadi ajang kreativitas dan tradisi kuliner masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang disebutkan oleh Tempo.co (2023), bahwa meugang telah menjadi bagian penting dalam menyambut Ramadhan dan Hari Raya di Aceh, yang mana setiap rumah berjuang untuk menyajikan olahan daging sebagai simbol kelimpahan.

Tradisi Kesempatan Berkumpul dan Bergerak di Pasar Tradisional

Menjelang pelaksanaan Meugang, pasar-pasar tradisional di Aceh menjadi sangat ramai dengan penjual dan pembeli daging. Fenomena ini tidak hanya mempengaruhi aspek sosial, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal. Seperti yang dilaporkan oleh Traveloka (2025), harga-harga daging di pasar dapat mengalami kenaikan tajam karena tingginya permintaan, yang menciptakan kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk mendapatkan keuntungan lebih. Hal ini menunjukkan bagaimana tradisi ini mampu mendukung keberlangsungan ekonomi masyarakat setempat.

Ziarah Kubur dan Peusijuek: Makna Religius Meugang

Selain urusan duniawi, meugang juga diisi dengan kegiatan bernuansa religius seperti ziarah kubur. Warga berkumpul untuk membersihkan makam keluarga sekaligus mendoakan mereka yang telah tiada. Momentum ini menjadi kesempatan refleksi diri dan mengingat kematian sebagai bagian dari siklus kehidupan.

Tradisi peusijuek atau tepung tawar juga kerap dilakukan, di mana ritual adat ini bertujuan untuk memohon keselamatan dan berkah bagi masyarakat. Seperti dilaporkan oleh Budaya Kita (2024), peusijuek dimaknai sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT, mewakili harapan dan doa masyarakat Aceh akan kedamaian dan kesejahteraan di bulan suci yang akan datang.

Meugang: Momen Silaturahmi dan Mudik

Selain menjadi ritual religius dan sosial, meugang juga berfungsi sebagai momen penting untuk bersilaturahmi. Banyak perantau Aceh yang memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali ke kampung halaman, atau yang dikenal dengan istilah mudik. Hal ini memperkuat ikatan kekeluargaan dan saling memberikan kabar terbaru antar anggota keluarga.

NU Online (2024) menyoroti bahwa momen silaturahmi yang tercipta melalui tradisi meugang ini mampu memperkuat kohesi sosial di antara masyarakat Aceh. Selain itu, pembagian daging kepada kaum fakir dan yatim piatu menjadi manifestasi dari ajaran Islam yang menekankan nilai-nilai kebersamaan dan filantropi.

Kesimpulan

Tradisi meugang di Aceh bukan sekedar acara makan daging menjelang hari raya, melainkan sebuah warisan budaya yang sarat akan nilai-nilai luhur. Dari kesultanan hingga masyarakat modern sekarang, meugang terus dipertahankan sebagai identitas kultural yang melebur dengan ajaran Islam. Nilai religius, kegiatan sosial, dan dampak ekonominya menjadikan tradisi ini sebagai elemen penting dalam kehidupan masyarakat Aceh. Memelihara tradisi meugang merupakan sebuah penghormatan kepada leluhur dan wujud nyata dari rasa syukur atas segala berkah yang diterima—sebuah tradisi yang memastikan setiap rumah, kaya maupun miskin, dapat merasakan kegembiraan dalam menyambut bulan suci.

Referensi:

Sumber Referensi untuk Bahan Tulisan:

Traveloka: Tradisi Meugang untuk Menyambut Ramadan di Aceh.

NU Online: Meugang, Tradisi Berbagi Daging Jelang Ramadhan dan Hari Raya di Aceh.

Tempo.co: Meugang, Tradisi Makan Besar Menjelang Ramadhan dan Hari Raya di Aceh.

Neliti (Journal): TRADISI MEUGANG DALAM MASYARAKAT ACEH - Sebuah Tafsir Agama dalam Budaya.

Pemerintah Aceh & Majelis Adat Aceh (MAA): Sejarah dan Makna Meugang.

Budaya Aceh (Kemdikbud): Makmeugang

Penulis: Zabidi 
Editor: Redaksi
Posting Komentar
Tutup Iklan