Program ELECTRA: PMI Padukan Bronjong dan Tanaman Atasi Longsor Manggarai
LINTAS86.com, Manggarai — Penanganan bencana longsor konvensional yang hanya mengandalkan kekuatan beton atau semen kini mulai bertransformasi ke arah yang lebih ramah lingkungan. Melalui program Empowering Local Entities and Communities To Take Rapid Action (ELECTRA), Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai bersama PKSPL IPB University resmi meluncurkan pendekatan baru. Mereka memadukan rekayasa teknik sipil berupa bronjong dengan vegetasi alam tanaman berakar dalam.
Langkah strategis ini dipaparkan dalam forum diskusi hasil kajian risiko dan survei lapangan berbasis Nature-based Solutions (NbS) di Aula Bapperida Kabupaten Manggarai pada Senin, 22 Juni 2026. Sinergi ini didukung penuh oleh Palang Merah Amerika (American Red Cross / AmCross) untuk memperkuat ketangguhan 7 desa dan kelurahan sasaran di wilayah Manggarai.
Batas Umur Teknis Bronjong dan Hadirnya Solusi Alternatif
Masalah Infrastruktur Sipil Murni
Selama ini, pemerintah daerah melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait kerap mengatasi titik longsor secara teknis murni. Metode yang paling umum digunakan adalah memasang struktur bronjong, yaitu anyaman kawat yang diisi tumpukan batu kali.
Pemasangan infrastruktur fisik sipil ini memiliki kelemahan mendasar:
- Memiliki batas umur teknis material.
- Kawat besi penahan batu rawan berkarat dan putus akibat korosi air tanah.
- Ketika struktur kawat hancur, longsor susulan kerap kembali melanda area yang sama.
- Memerlukan biaya perawatan dan rekonstruksi ulang yang sangat tinggi.
Konsep Perpaduan Struktur dan Vegetasi Alam
Pendekatan Nature-based Solutions (NbS) hadir sebagai opsi program alternatif untuk mengatasi kelemahan tersebut. Strategi ini mengawinkan kekuatan awal rekayasa fisik manusia dengan keberlanjutan ekosistem alam.
Ketua tim PKSPL IPB University, Andi Afandy, menerangkan bahwa dasar dari pengembangan NbS ini adalah optimalisasi munculnya jasa ekosistem (ecosystem services). Melalui perpaduan ini, ketika masa pakai atau umur teknis kawat bronjong habis, fungsi penahan tebing secara alami telah digantikan oleh jaringan akar pohon yang tumbuh membesar dan mencengkeram tanah secara kokoh.
Dampak Multi-Guna: Perlindungan Lingkungan dan Keberlanjutan Ekonomi
Mitigasi Bencana yang Produktif
Pendekatan NbS di 7 wilayah program ELECTRA Manggarai tidak sekadar menanam tanaman hijau biasa demi mencegah erosi. Pohon yang dipilih merupakan jenis tanaman multi-fungsi (Multi-Purpose Tree Species).
Jenis vegetasi ini sengaja dipilih karena memberikan dua keuntungan sekaligus bagi desa:
- Fungsi Ekologis: Sistem perakaran pohon masuk jauh ke dalam tanah untuk mengikat lapisan tanah dan menahan laju air permukaan yang memicu longsor serta banjir.
- Fungsi Ekonomis: Daun, bunga, atau buah dari komoditas yang ditanam dapat dipanen, dikonsumsi secara mandiri, atau diolah menjadi produk lokal yang bernilai jual tinggi di pasar.
Mengubah Skala Desa Menjadi Impak Global
Melalui integrasi program yang dirancang oleh PMI dan IPB University, masyarakat diarahkan untuk menghentikan kebiasaan merusak lereng bukit. Program ini secara simultan merajut tiga pilar penting, yaitu rehabilitasi ekosistem, pengurangan risiko bencana (PRB), serta pengembangan ekonomi masyarakat.
"NBS juga bisa dipadukan dengan yang lain yaitu rehabilitasi ekosistem dengan pengurangan risiko bencana dan rehabilitasi dengan pengembangan ekonomi masyarakat. NBS itu levelnya di tingkat desa tapi impaknya bisa global," tegas Andi Afandy.
Kesiapan Perencanaan Pembangunan Mandiri di Tingkat Desa
Komitmen Adopsi dari Desa Terong
Pendekatan kolaboratif ini disambut baik oleh para pemangku kebijakan di tingkat tapak. Kepala Desa Terong, Theodorikus Atong, menilai bahwa metode yang dibawa oleh tim ahli dan PMI ini menjadi ruang pembelajaran interaktif yang luar biasa bagi perangkat desa dan komunitas lokal.
Masyarakat dibimbing untuk memahami karakteristik kerentanan tanah di wilayah pemukiman mereka sendiri. Respons positif ini mendorong kesiapan warga untuk mengawal jalannya aksi hijau tersebut secara berkesinambungan.
“Kami akan berkolaborasi bersama masyarakat sampai pada tahapan-tahapan terakhir hingga program ini akan kami kembangkan secara mandiri oleh desa,” ujar Theodorikus.
Integrasi Masuk Dokumen RPJMDes
Pemerintah Desa Terong menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan program mitigasi bencana ini mangkrak setelah masa pendampingan program ELECTRA PMI selesai. Strategi keberlanjutan yang disiapkan meliputi langkah-langkah berikut:
- Hasil dokumen kajian risiko dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).
- Program penanaman dan pemeliharaan pohon NbS diadopsi ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) tahunan.
- Desa mengalokasikan pos Anggaran Dana Desa (ADD) secara mandiri untuk replikasi kawasan hijau pelindung longsor.
Strategi Bertahan Hidup Warga Berbasis Dokumen Kajian Risiko
Membaca Peta Kerentanan Wilayah
Koordinator Program ELECTRA PMI Kabupaten Manggarai, Tommy Hikmat, mengungkapkan bahwa seluruh pilihan opsi fisik di lapangan berpijak pada data yang tertuang dalam dokumen kajian risiko bencana. Dokumen ilmiah ini merekam secara presisi batas kerentanan (vulnerability) dan kapasitas (capacity) yang ada di setiap wilayah sasaran.
Melalui data tersebut, tim menemukan fakta lapangan mengenai kondisi hutan tutupan yang mulai kritis dan sangat rawan terhadap bencana longsor serta banjir. Berbekal dokumen ini, penentuan titik lokasi bronjong dan koordinat penanaman pohon pelindung dilakukan secara terukur agar tidak salah sasaran.
Pelatihan Mata Pencaharian Alternatif (Livelihood)
Tantangan alam berupa topografi berbukit di Manggarai menuntut masyarakat untuk adaptif dalam mencari sumber penghidupan. Agar warga tidak mengeksploitasi hutan lindung, program ELECTRA melengkapinya dengan intervensi pelatihan livelihood atau mata pencaharian alternatif.
“Pilihan yang tepat terkait masyarakat yang survive atau bertahan hidup di tengah keterbatasan tantangan alam, sehingga masyarakat dibekali dengan pelatihan livelihood atau mata pencaharian alternatif,” kata Tommy Hikmat.
Masyarakat dilatih mengembangkan komoditas ekonomi kreatif dari hasil tanaman NbS. Langkah ini membuat warga tetap mendapatkan penghasilan tanpa harus merusak ekosistem penyangga di sekitar tempat tinggal mereka.
Sinergi Dua Mazhab Solusi demi Ketangguhan Manggarai
Refleksi dan Evaluasi Infrastruktur Daerah
Dukungan penuh terhadap konsep gabungan ini disuarakan oleh Fransiskus Patrisius Dani, ST, Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperida Kabupaten Manggarai. Pihaknya mengapresiasi transfer pengetahuan yang dilakukan oleh PMI dan PKSPL IPB University kepada perangkat daerah dan masyarakat lintas desa.
Berdasar pemaparan temuan di lapangan, Fransiskus mengevaluasi bahwa skema penanganan bencana di Kabupaten Manggarai selama ini masih menitikberatkan pada aspek tanggap darurat pascabencana dan pembangunan fisik semen yang kaku. Dokumen kajian baru ini diharapkan dapat menjadi peta jalan (blueprint) pembangunan daerah yang responsif terhadap kelestarian alam.
Rekonsiliasi Alam dan Konstruksi Semen
Bapperida Kabupaten Manggarai menggarisbawahi bahwa keselamatan wilayah ke depan berada pada titik temu kolaborasi dua pendekatan infrastruktur:
“Kami berharap apa yang kita bicarakan hari ini akan menjadi suatu landasan untuk perencanaan pembangunan yang akan datang. PMI dengan Nature-based Solution, PUPR dengan Cement-based Solution. Ketika program ini dikolaborasikan maka kembali ke alam adalah solusinya,” tegas Fransiskus.
Keterlibatan Lintas Sektor dalam Program ELECTRA
Upaya penguatan ketangguhan wilayah di Kabupaten Manggarai digerakkan melalui sinergi multipihak yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, lembaga kemanusiaan, dan relawan tingkat tapak.
Daftar Unsur Pemerintah Kabupaten Manggarai:
- Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida)
- Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
- Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR)
- Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kehutanan
7 Desa/Kelurahan Lokasi Fokus Program ELECTRA PMI:
- Desa Terong
- Desa Hilihintir
- Desa Cambir Leca
- Desa Robek
- Desa Para Lando
- Desa Lemarang
- Kelurahan Wangkung
Setiap desa mengutus kepala desa serta personel relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) untuk terjun langsung mengelola intervensi lapangan. Sinergi ini dikawal secara melekat oleh tim fasilitator ahli PKSPL IPB University, perwakilan AmCross, pengurus PMI Provinsi NTT, serta seluruh staf operasional PMI Kabupaten Manggarai demi menjamin program berjalan aman dan berdampak nyata.
Penulis: Adrian Jr.
Editor: Redaksi

Posting Komentar